Rabu, 06 Januari 2021 18:58

Mengapa Kita Mudah Termakan Link Bujuk Rayu Kuota Gratis?

Mengapa Kita Mudah Termakan Link Bujuk Rayu Kuota Gratis?

Tanamkan kepada mereka bahwa semua yang kita buat di media sosial itu ada pertanggungjawabannya, baik itu dunia maupun akhirat.

Muh Afdal Ikhsan
Mahasiswa Ilmu Komunikasi Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar (UINAM)
Editor : Jusrianto

Perkembangan teknologi informasi membawa pengaruh yang sangat pesat dalam segala sendi kehidupan, kita awalnya bercengkrama melalui tatap muka harus terlebih dahulu membuat janji, melakukan kesepakatan waktu bersama kapan bisa bertemu dan mengobrol, kini dengan hadirnya teknologi, di rumah atau bahkan di tempat tidur pun kita sudah bisa mengobrol, bahkan hingga berjam-jam.

Kalau dari kota, untuk mengetahui kabar dari desa kita harus menunggu berhari-hari agar sampai, kini hitungan detik kita sudah bisa mengetahui kabar sanak saudara kita yang ada di desa, sungguh luar biasa bukan?

Yang saya maksud tadi itu hanya sedikit dari sekian banyak manfaat teknologi yang kita rasakan sekarang ini. Kini lewat perkembangan teknologi, kita semua mengenal yang namanya jejaring sosial, atau orang-orang biasa menamainya dengan social media.

Loncatan Ini sangat disambut baik oleh Masyarakat Indonesia. Budaya masyarakat Indonesia yang sukanya mengobrol, bercengkrama dengan orang-orang baru, bergosip, bergotong royong dan lain sebagainya menjadi alasan mengapa mereka menggunakan social media.

Kalau kita amati bersama disekitar kita, semua orang sudah menggunakan social media, seperti instagram, facebook, twitter, dll disebabkan Indonesia menempati urutan ke 3 pengguna media social facebook dibawah Amerika serikat, urutan ke 4 pengguna instagram terbanyak mengalahkan Turki .

Dari mulai anak-anak, orang dewasa, sampai bapak-bapak atau ibu-ibu rata-rata semuanya sudah menggunakan social media. Ini tentu hal yang baik, bahwa ternyata sebagian masyarakat kita ternyata sudah tidak gaptek lagi (gagap teknologi). Mereka sering menghabiskan waktu mereka kurang lebih 5 sampai 9 jam perhari untuk bersosial media dengan ria.

Akan tetapi, Sosial media yang notabenenya adalah dunia maya tentu kalau kita pahami berarti semua yang ada di dalamnya bukan nyata, atau belum tentu realitas.

Postingan-postingan yang ada didalam social media tersebut belum tentu benar dan masih harus dipertanyakan lagi kebenarannya dalam realitas kehidupan. Sekarang kita lihat banyak sekali hoax atau berita bohong yang beredar di social media, dan untuk itu kita yang menggunakan social media tentunya harus lebih hati-hati menanggapi hal ini.

Banyak kasus yang kita lihat sekarang dan sering terjadi mengenai hoax itu. Saya berikan contoh sederhana dan ini yang paling sering, adalah pesan berantai pembagian kuota internet gratis dari whatsapp. Dimasa pandemi sekarang memang kebutuhan akan kuota internet menjadi hal yang sangat wajib untuk work from home, atau kebutuhan sekolah online.

Meskipun kuota gratis itu ada, pasti akan disampaikan sangat jelas oleh masing-masing operator yang ada pada gawai kita, bukannya melalui link atau semacamnya. Kalaupun ada pasti akan memiliki banyak persyaratan.

Anehnya, pesan yang nyatanya hoax ini kok banyak sekali yang meneruskannya ke grup-grup whatsapp atau melalui pesan pribadi langsung. Ini menjadi penanda bahwa ternyata masyarakat kita pengetahuannya masih awam soal informasi digital di media social.

Menurut survey yang dilakukan oleh Central Connecticut State University tahun 2016, Indonesia menduduki urutan ke 60 dari 61 negara yang minat membaca. Indonesia tepat dibawah Thailand 59 dan di atas Bostwana 61.

Tentu ini bukan prestasi yang baik, Minat baca yang kurang dan pemahaman soal literasi digital menjadi salah satu dari sekian banyak problem mengapa orang-orang masih termakan berita bohong atau hoax. Dengan melihat tagline berita yang menarik tanpa membaca isi ataupun mencari informasi soal kebenaran berita tersebut, mereka langsung broadcast saja.

Akibatnya orang yang awam tentang informasi tadi, kemudian termakan juga dan akhirnya menjadi pesan berantai. Kita Bayangkan saja, sudah minat bacanya yang kurang, pemahaman soal literasi media tidak banyak kemudian menggunakan media social selama berjam-jam, menjadi bayangan kualitas netizen budiman kita di Indonesia. Meskipun ada beberapa yang sadar akan hal ini, itupun masih kalah jauh dengan jumlah yang belum sadar.

Kampanye mengenai literasi media sangat diperlukan agar masyarakat yang menggunakan media social bisa memanfaatkannya dengan baik, memfilter segala jenis informasi yang merugikan pribadi atau orang lain.

Selain itu, hal yang perlu ditanamkan ke generasi muda adalah pentingnya membaca buku, buku apapun itu, ini untuk menambah informasi kita agar ketika mendapat sebuah informasi dari media sosial, kita bisa membandingkannya dan menyaring apakah betul informasi tersebut atau tidak.

Untuk itu, kita yang paham dengan literasi media harusnya memberikan edukasi kepada lingkungan kita sendiri, yang paling sederhana adalah keluarga kita yakni ayah, ibu, saudara. Berikan mereka pemahaman tentang bagaimana cara menanggapi berita yang sekian banyak di sosial media.

Tanamkan kepada mereka bahwa semua yang kita buat di media sosial itu ada pertanggungjawabannya, baik itu dunia maupun akhirat. Jika ada keluarga yang berjumlah 4 orang dan 1 orang paham di dalamnya kemudian memberikan edukasi tentang literasi media, bagaimana dengan 100 orang yang memberikan edukasi ke masing-masing keluarganya. Lumayan bukan? Kita hanya perlu memulai, sekalipun itu sedikit, untuk sesuatu yang lebih baik.

Berikan Komentar Anda
Opini Terbaru
Senin, 26 April 2021 13:01
Jumat, 16 April 2021 13:50
Jumat, 16 April 2021 13:26
Kamis, 01 April 2021 13:49
Kamis, 14 Januari 2021 19:53