MAKASSAR, PEDOMANMEDIA - Populasi pengangguran di Indonesia menembus angka mengkhawatirkan. Fenomena sosial ini diprediksi akan memicu tumbuhnya angka kriminalitas dan populasi kawasan pelacuran di kota besar.
"Konsekuensi pengangguran adalah gejolak situasi sosial. Ini akan membentuk sebuah fase di mana kriminalitas jalanan akan sangat tinggi," ujar peneliti sosial ekonomi Andi Tenri Farida, Kamis (19/11/2020).
Menurut Tenri, saat pengangguran di desa dan di kota tumbuh, masyarakat urban akan menyerbu kota dan mencari alternatif pekerjaan. Mereka yang datang biasanya tidak dibekali skill. Dan bermukim di kawasan kawasan padat di strata marginal.
"Di sini akan muncul banyak efek sosial. Kriminalitas jalanan. Juga termasuk akan mendorong lahirnya praktik praktik pelacuran," jelas Tenri.
Kenapa pelacuran tumbuh? KataTenri, karena alternatif pekerjaan bagi kaum perempuan semakin sempit. Keadaan membuat perempuan menjadi korban pertama yang akan menerima efek sosiologis.
"Jadi jangan heran nanti kalau tumbuh tempat tempat baru pekerja seks komersial. Dan itu akan lahir dengan berbagai kelas. Dari kelas hight sampai kelas bawah," paparnya.
Tenri mengingatkan, tumbuhnya kawasan pelacuran akan berdampak luas. Ada multiefek negatif yang lahir di masyarakat nanti. Dan itu kata dia, tak bisa dibendung karena akan mengubah psikologi sosial.
"Berbahaya sekali. Jadi tumbuhny angka pengangguran itu efeknya besar. Bagi sebagian kaum perempuan, melacur adalah pilihan paling mungkin," imbuhnya.
Menteri Koordinator Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Menko PMK) Muhadjir Effendy, mengakui sulitnya daya serap lapangan kerja karena kualitas SDM yang rendah. Dari 13 juta penganggur saat ini, ada sekitar 3 juta orang yang hanya lulusan SMP.
"SDM kita parah. Bayangkan 13 juta orang penganggur ada 3 juta yang sulit terserap karena hanya lulusan SMP," jelas Muhadjir.
Sementara perusahaan mulai sangat selektif. Mereka menerapkan standar tinggi dalam perekrutan calon pekerja. Bukan saja skill, tapi pekerja harus ditopang oleh syarat administratif untuk bisa menembus dunia kerja.
Berdasarkan data 54 persen angkatan kerja adalah tamatan SMP ke bawah. Lulusan SMA/SMK 30 persen dan selebihnya 16% sarjana.
Karena itu ke depan harus ada solusi. Salah satunya fasilitas Kartu Indonesia Pintar (KIP). Melalui KIP, diharapkan tidak ada lagi anak putus sekolah. Sehingga pada 2025, 70 persen angkatan lulusan SMA/SMK.
Pengangguran di Indonesia sudah menyentuh level mengkhawatirkan. Nyaris 15 juta orang. Ironisnya, angka itu tumbuh lebih dari 2 persen hanya dalam kurun waktu 6 bulan.
Pandemi yang memukul ekonomi nasional menjadi faktor paling dominan. Pandemi membuat semua mengalami kejatuhan simultan. Daya serap lapangan kerja menurun. Kinerja industri juga terpuruk.
Tak banyak yang bisa dilakukan kecuali PHK. PHK akhirnya berimbas pada pertumbuhan angka pengangguran yang tinggi.
Indonesia mencatat pertumbuhan angka pengangguran terbuka yang cukup signifikan. Dalam enam bulan jumlah pengangguran bertambah 2,6 juta orang, hingga nyaris menembus angka 10 juta per Agustus 2020.
Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat jumlah pengangguran terbuka di RI mencapai 9,7 juta orang. Atau naik hampir dua persen hanya dalam kurun waktu 6 bulan.
Diakui BPS, naiknya angka pengangguran di 2020 dipicu oleh dampak pandemi Corona yang melanda sejak Februari lalu.
Pengangguran tumbuh karena beberapa faktor. Di antaranya PHK bergelombang sejak Maret serta menurunnya daya serap lapangan kerja.
Dalam analisisnya, Ekonom Sjamsul Ridjal sudah memprediksi akan adanya kontraksi lebih kuat di akhir tahun akibat resesi. Jika tak ada upaya pemulihan yang lebih cepat maka daya beli akan menurun sangat tajam.
BERITA TERKAIT
-
Penduduk Miskin Sulsel Capai 711 Ribu Jiwa, di Kota Tumbuh Pesat
-
BPS: Indeks Perilaku Antikorupsi di RI Turun, Masyarakat Kian Permisif
-
Pj Sekda Sidrap Ikut Rakor Pengendalian Inflasi Kemendagri
-
Kemiskinan Sulsel Turun, tapi Ada Ancaman Populasi Pengangguran Naik
-
BPS: Pengangguran Terbuka Luwu Utara Terendah di Tana Luwu