Muh. Syakir : Rabu, 22 Juni 2022 09:45
Spanduk dukungan Yusuf Rombe yang mengatasnamakan IKT menuai kecaman.

MIMIKA, PEDOMANMEDIA - Pengusaha asal Toraja yang juga Ketua Ikatan Keluarga Toraja (IKT) Mimika, Yusuf Rombe Pasarrin menuai kecaman dari berbagai elemen usai beredarnya spanduk dukungannya terhadap pemekaran Provinsi Papua Tengah. Yusuf Rombe dituding telah menyeret organisasi IKT ke kancah politik praktis.

Di baliho yang beredar terpampang nama dan gambar Yusuf Rombe Pasarrin yang mengatasnamakan IKT Mimika. Baliho itu disertai tulisan berbunyi “IKATAN KELUARGA TORAJA MIMIKA MENDUKUNG PEMEKARAN PROPINSI PAPUA TENGAH YANG BERIBUKOTA DI KABUPATEN MIMIKA”.

Lalu di bawah pernyataan itu tertulis nama Yusuf Rombe Pasarrin sebagai Ketua IKT dan Matius Sedan sebagai Sekretaris IKT.

Sontak, dalam waktu singkat spanduk dukungan itu beredar luas di berbagai platform media sosial dan Grup WhatsApp. Reaksi pun bermunculan.

Tak hanya dari masyarakat Toraja yang tergabung dalam IKT Mimika. Reaksi juga datang dari orang asli Papua (OAP).

Salah satunya datang dari Pastor Paul Tumayang Tangdilintin OFM. Dalam surat terbuka yang ia layangkan, Pastor Paul mengecam Yusuf Rombe yang membawa nama IKT dalam mendukung pembentukan Provinsi Papua Tengah dan deklarasi Bupati Mimika Eltinus Omaleng untuk maju sebagai Gubernur Papua Tengah.

"Sejauh yang saya ikuti, tidak ada satu pun masyarakat Toraja yang merespons positif langkah Yusuf Rombe. Semua bernada negatif. Karena deklarasi itu ikut menyeret semua orang Toraja yang tidak tahu apa-apa," tulis Pastor Paul.

Menurutnya, sebagai orang yang “dituakan” oleh orang Toraja di Kabupaten Mimika, Yusuf Rombe harusnya lebih bijaksana dalam melangkah. Setidaknya mempertimbangkan dengan baik, segala sesuatu sebelum mengeluarkan pernyataan yang mengatasnamakan orang Toraja.

"Karena suka tidak suka, apa yang bapak berdua katakan itu, akan berdampak pada semua orang Toraja. Tidak hanya di Kabupaten Mimika tapi juga semua orang Toraja yang ada di perantauan tanah Papua," jelas Yusuf.

Pastor Paul mengemukakan, ia punya alasan tersendiri mengapa menulis surat terbuka untuk Yusuf Rombe.

"Sejujurnya saya tidak begitu kenal bapak berdua (Yusuf Rombe dan Matius Sedan), walaupun saya pernah bertugas sebagai pastor Paroki di Paroki St. Stefanus Sempan Timika dari Februari 2006 sampai September 2009. Saya hanya dengar bahwa bapak Ketua IKT Kabupaten Mimika adalah seorang pengusaha yang kaya dan sukses. Sedangkan Sekretaris, sunguh-sungguh saya tidak kenal," ucapnya.

Ia menuturkan, sebagai seorang Pastor asal suku Toraja, yang sejak kecil merantau di tanah Papua, sudah melayani di pelbagai daerah di Papua. Dari pesisir hingga di pegunungan, Pastor Pqul mengaku memahami situasi dan kondisi riil Papua.

"Oleh karena itu sebagai seorang hamba Tuhan, asal suku Toraja, yang sudah puluhan tahun hidup dan berkarya di Tanah Papua, saya merasa terdorong untuk membuat surat terbuka ini. Sekadar mengingatkan bapak berdua agar berhati-hati dalam mengeluarkan pernyataan yang mengatasnamakan orang Toraja demi kepentingan pribadi bapak berdua. Yang pada akhirnya menimbulkan reaksi yang sangat negatif seakan-akan semua orang Toraja berperilaku seperti bapak berdua," ketus Pastor Paul.

Pastor Paul pun mempertanyakan beberapa hal kepada Yusuf Rombe.

"Saya hendak bertanya kepada bapak apakah sebelum membuat pernyataan itu sudah mengumpulkan semua orang Toraja yang ada di Mimika, untuk menyampaikan maksud dari bapak berdua yaitu mengeluarkan pernyataan dukungan seperti yang dimuat di baliho itu? Atau kalau mengumpulkan semua orang Toraja di Kabupaten Mimika sulit karena sangat banyak dan luas, maka paling tidak mengumpulkan para ketua-ketua kelompok arisan yang ada di kota Timika. Atau kalau juga masih susah, maka dalam lingkup yang lebih kecil, apakah sudah mengumpulkan semua pengurus-pengurus IKT Kabupaten Mimika untuk membicarakan hal ini? Jika hal ini bapak tidak tempuh, maka penyataan bapak itu sangatlah tendensius dan tidaklah salah kalau saya katakan bahwa sarat dengan kepentingan pribadi atau kelompok tertentu," tandas Pastor Paul.

Menurut Paul, sebagai orang yang “dituakan” di Kabupaten Mimika, harusnya Yusuf Rombe dan Matius Sedan memahami situasi dan kondisi Papua saat ini. Secara khusus soal prokontra tentang DOB di kalangan OAP.

Ia mengatakan, dukungan Yusuf Rombe yang mengatasnamakan IKT berdampak pada semua orang Toraja. Bukan hanya di Kabupaten Mimika, secara khusus kota Timika tapi juga di Papua secara umum.

"Jangan pernah sekali-kali menggunakan organisasi IKT untuk kepentingan pribadi atau menyeretnya ke ranah politik praktis. Jujur harus saya katakan, seandainya saya masih tugas di kota Timika, maka sudah pasti saya akan datang menyampaikan protes keras kepada bapak berdua, seperti yang pernah saya lakukan ketika saya masih bertugas di kota Timika. Ketua IKT saat itu menggunakan jabatannya sebagai ketua IKT untuk mendukung kandidat calon bupati tententu," urai Paul.

Merujuk pada semua reaksi negatif yang muncul, Pastor Paul menyimpulkan bahwa sikap Yusuf Rombe bukanlah sikap utuh warga Toraja Di Mimika. Tapi itu adalah sikap pribadi.

"Bapak berdua, ketua dan sekretaris IKT Kabupaten Mimika, ada urusan apa Anda berdua mendukung pemekaran DOB Papua Tengah dengan ibu kota Timika dengan mengatasnamakan orang Toraja? Siapa yang beri mandat kepada bapak berdua?," ujarnya.

Paul juga menyampaikan permohonan maaf kepada OAP yang merasa terganggu dengan penyataan pribadi dari Ketua dan Sekretaris IKT Kabupaten Mimika.

“Jangan marah atau pukul rata semua orang Toraja, silakan marah dengan oknum Ketua dan Sekretaris IKT Kabupaten Mimika yang tidak bijaksana dan peka apalagi memahami situasi dan realitas Papua saat ini. Karena mungkin punya kepentingan pribadi. Kepada semua orang Toraja yang dituakan di seluruh Papua, sebagai seorang pastor asal suku toraja saya ingatkan bahwa kita orang Toraja adalah pendatang di tanah Papua yang datang merantau untuk mengubah hidup agar lebih baik. Karena itu, kalau mau mengeluarkan sebuah penyataan yang mengatasnamakan orang Toraja, harap dipertimbangkan dengan sangat bijaksana karena akan sangat berdampak kepada semua orang orang Toraja," tandasnya lagi.

Paul mengingatkan agar jangan pernah menyeret organisasi IKT yang merupakan organisasi sosial ke ranah politik praktis. Karena IKT bukan organisasi politik.

"Silakan berpolik, tapi itu urusan pribadi. Jangan pernah bahwa nama IKT. Contoh dari Ketua dan Sekretaris IKT Kabupaten Mimika bukanlah contoh yang baik. Jangan ditiru," imbuhnya.