Muh. Syakir : Kamis, 01 September 2022 10:23
PT Pertamina menandatangani kerja sama dengan perusahaan nasional dan internasioanal dalam bidang transisi energi.

JAKARTA, PEDOMANMEDIA - Sebagai bentuk komitmen dan upaya mendukung program transisi energi bersih dan target penurunan emisi 29 persen pada 2030 mendatang, PT Pertamina menggandeng beberapa perusahaan nasional dan internasioanal dalam bidang transisi energi.

Direktur Utama Pertamina, Nicke Widyawati, mengatakan, kerja sama ini bertujuan untuk pengembangan proyek rendah emisi dengan utilisasi limbah kelapa sawit (empty fruit bunch dan palm oil mill effluent) untuk menjadi produk Bioethanol dan Biomethane yang dapat dimanfaatkan sebagai pengganti (substitusi) bahan bakar fosil dan mendukung kemandirian energi nasional.

Adapun perusahaan yang digandeng, di antaranya PT Astra Agro Lestari Tbk, PT Jababeka Infrastruktur dan Joint Study Agreement (JSA) antara PPI dengan Pondera dalam kerjasama ‘Integrated Offshore Wind Energy and Hydrogen Production Facility’. JSA ini sendiri, merupakan tindak lanjut MoU antara Pertamina NRE (PPI) dengan perusahaan asal Belanda perihal pengembangan Pembangkit Listrik Tenaga Bayu (PLTB) pada 21 April 2022 kemarin.

Kerja sama lainnya, yakni JSA antara Pertamina (Persero), PEP dan Japan Oil, Gas and Metals National Corporation (JOGMEC) terkait JOGMEC on CO2 Injection for Enhanced Oil Recovery (CCUS-EOR) Project in Jatibarang Field, dimana dalam kerjasama ini, Pertamina dan Jogmec berkolaborasi dalam kegiatan CO2 Injection di Lapangan Jatibarang melalui studi bersama terkait pelaksanaan proyek injeksi CO2 sebagai tahap awal untuk lebih mendukung Full Field Scale CO2-EOR sebagai metode untuk meningkatkan produksi minyak dan mengurangi emisi karbon dioksida di Lapangan Jatibarang, Jawa Barat.

"Kerja sama ini dilandaskan akan tingginya permintaan energi terbarukan dan bahan bakar rendah karbon yang diperkirakan akan meningkat untuk memerangi peningkatan emisi gas rumah kaca dari bahan bakar fosil. Apalagi, industri minyak dan gas menyumbang lebih dari 40 persen dari total emisi GRK global, sehingga memainkan peran penting untuk mengurangi emisi gas rumah kaca. Akibatnya, ada kebutuhan untuk mempercepat transisi energi dari bahan bakar fosil ke energi terbarukan dan bahan bakar rendah karbon. Penggerak pendukung ini diperlukan untuk menjawab tantangan dalam mempercepat transisi energi," kata Nicke, melalui siaran persnya, Kamis (1/9/2022).

Sebagai salah satu BUMN energi terbesar di Indonesia, kata Nicke, Pertamina menunjukkan kontribusinya dalam mendukung komitmen pemerintah untuk menurunkan emisi Gas Rumah Kaca (GRK) sebagaimana disebutkan dalam Perjanjian Paris.

Untuk itu, kolaborasi yang terbentuk di bawah payung B20 antara Pertamina dengan negara-negara mitra anggota G20 dalam pengembangan bersama beberapa teknologi rendah karbon akan memainkan peran kunci dalam transisi energi. Ini termasuk PV solar panel untuk klaster industri hijau, pemanfaatan limbah kelapa sawit untuk bioenergi, dan pemanfaatan dan penyimpanan penangkapan karbon.

"Ini adalah kolaborasi antara perusahaan dan negara, dan yang paling penting adalah kolaborasi antara umat manusia untuk berkontribusi dalam tindakan nyata untuk mencapai tujuan konsensus menyediakan akses yang adil ke energi berkelanjutan dan melindungi iklim kita untuk generasi yang akan datang," katanya.

Penulis: Marwiah Syam Butterflyrock