JAKARTA, PEDOMANMEDIA - Indonesia harus bisa berbenah di tengah ancaman krisis yang menghantui dunia. Indonesia mesti belajar dari Sri Lanka.
"Sri Lanka adalah contoh negara yang gagal menangani krisis. Mereka terlilit utang dan akhirnya mengalami kejatuhan di semua sektor," ujar ekonom Sjamsul Ridjal, Jumat (23/9/2022).
Menurut Sjamsul, 2023 dunia akan menghadapi ancaman krisis pangan akibat inflasi global. Ia memperkirakan akan banyak negara yang jatuh dalam resesi dan mengalami kebangkrutan.
"Karena itu Indonesia harus punya imunitas ekonomi yang kuat. Kita termasuk rentan karena punya angka utang luar negeri yang sangat tinggi. Untungnya kita punya komoditas pangan yang cukup banyak," jelasnya.
Tetapi pangan dalam jumlah besar tak bisa memberi jaminan. Pemerintah harus punya solusi dalam mengelola pangan di masa masa krisis.
"Utang RI sudah Rp7.000 triliun. Di masa krisis ini bisa rentan. Harga harga juga harus bisa dikendalikan untuk menjaga daya beli," ucapnya.
Sri Lanka masih terus dihantam rintangan. Setelah bangkrut dan krisis, kini Sri Lanka harus menghadapi inflasi luar biasa.
Dilaporkan BBC, Jumat (23/9/2022), inflasi tahunan Sri Lanka melompat ke lebih dari 70% pada Agustus. Hal ini mereka alami saat sedang berperang melawan krisis ekonomi terburuk dalam 70 tahun terakhir.
Data resmi juga menunjukkan harga pangan naik 84,6% bila dibandingkan tahun lalu. Negara dengan populasi 22 juta orang ini tengah berjuang dari gejolak politik juga.
Sri Lanka juga tak mampu untuk melakukan impor komoditas penting seperti bahan bakar minyak hingga obat-obatan.
Bulan lalu, Bank Sentral Sri Lanka menyebut angka inflasi ini akan bisa diredam di tengah ekonomi yang terus memburuk. Angka ekonomi pada tiga bulan hingga Agustus minus 8,4%.
Sebelum pandemi, Sri Lanka sangat bergantung pada pariwisata untuk mata uang asing, termasuk dolar AS. Namun, penutupan perbatasan yang bertujuan untuk memperlambat penyebaran COVID-19 membuat turis menjauh dan berdampak besar pada perekonomian negara.
Belum lagi diperparah dengan salah urus keuangan selama bertahun-tahun, yang menyebabkan Sri Lanka gagal bayar utang pada awal tahun ini.
Sri Lanka telah menghadapi pergolakan politik dalam beberapa bulan terakhir. Hal ini menyebabkan kerusuhan di negara tersebut. Sampai-sampai Presiden negara itu Gotabaya Rajapaksa melarikan diri ke luar negeri sebelum mengundurkan diri pada Juli.
Itu terjadi ketika ratusan ribu orang turun ke jalan, dalam protes yang sering berubah menjadi kekerasan, atas kenaikan tajam harga makanan dan bahan bakar.