Kamis, 01 Oktober 2020 10:47

Editorial

Pandemi dan Sepak Bola, Industri vs Nyawa

Ilustrasi
Ilustrasi

Tapi pendekatan finansial klub juga harus jadi pemikiran. Di tengah jeda kompetisi, klub tetap dibebani tanggung jawab untuk membayar gaji pemain. Sementara selama jeda, klub mengalami kesulitan keuangan

MAKASSAR, PEDOMANMEDIA - Dua hari jelang digulirnya kembali Liga 1, PT LIB mengumumkan penundaan. Kompetisi ditunda setelah izin pelaksanaan dari Polri tak kunjung terbit.

Klub-klub meradang. Bagaimana tidak, keputusan dilanjutkannya kembali liga telah diumumkan sejak Juli lalu. Klub melakukan persiapan teknis dan finansial hampir 3 bulan.

Beberapa klub melakukan kebut transfer. Merampungkan kontrak pemain. Agustus, jadwal pertandingan juga sudah kelar.

Baca Juga

Semua klub sudah melakukan persiapan matang. Dua hari jelang pembukaan, pemain telah berkumpul untuk melakoni laga perdana. Tiba tiba pada 29 September, Ketua Umum PSSI Ahmad Wiriawan mengumumkan batalnya kompetisi.

Alasannya sederhana. Tak ada izin dari Polri. Polri mempertimbangkan masih tingginya angka kasus Corona. Operator liga juga diragukan bisa menerapkan protap Covid.

Berbagai pihak angkat bicara. Di satu sisi langkah Polri dinilai tepat. Tapi di sisi lain keputusan itu tak mempertimbangkan kevakuman yang bisa memukul industri sepak bola tanah air.

Pilihannya memang dilematis. Antara keselamatan jiwa dan keberlanjutan industri sepak bola. Bagi pemerintah tentu ini pilihan sulit. Apalagi Indonesia mencatat angka kematian akibat Covid lebih tinggi dari angka kematian dunia.

Angka kematian di Indonesia mencapai 3,77 persen dan rata-rata kasus kematian Corona di dunia 3,01 persen. Sementara kasus aktif Corona di Indonesia menyentuh angka 22,46 persen. Angka ini lebih rendah dari rata-rata dunia 23,13 persen

Catatan ini mencerminkan pandemi di tanah air masih cukup mengkhawatirkan. Liga yang mengabaikan protokol Covid bisa menjadi klaster baru. Pemerintah tentu telah mempertimbangkan semua itu.

Termasuk psikologi sepak bola. Fanatisme suporter dan euforia yang berpotensi terjadi di lapangan hijau. Dan realitas ini ada. Laporan LIB kemarin menyebutkan, setelah melewati masa pemusatan latihan, Persebaya melaporkan 6 pemainnya positif Corona.

Jadi wajar saja kekhawatiran itu muncul. Poinnya jelas, penundaan itu demi keselamatan pemain dan semua yang terlibat dalam sepak bola.

Tapi pendekatan finansial klub juga harus jadi pemikiran. Di tengah jeda kompetisi, klub tetap dibebani tanggung jawab untuk membayar gaji pemain. Sementara selama jeda, klub mengalami kesulitan keuangan.

Bagi manajemen, ini juga pilihan sulit. Mundur dari kompetisi tentu bukan opsi baik. Manajemen sudah menggelontorkan dana besar untuk tetap bertahan di kasta Liga 1. Mundur berarti "mati".

Tapi bertahan juga membuat keadaan kian sulit. Tak ada pemasukan sama sekali namun dipaksa untuk terus merogoh kocek.

Sekretaris Umum Persiraja Aceh, Rahmat Djailani, juga mengungkapkan hal yang sama. Menurutnya seharusnya penundaan tidak dilakukan secara mendadak. Karena itu merugikan klub. Kata Rahmat, klub rugi secara finansial dan juga psikis.

"PT LIB tidak profesional mengelola kompetisi. Seharusnya hal yang disiapkan pertama kali ketika memutuskan liga dilanjutkan ialah mengurus surat perizinan dari Kepolisian. Kami ini sudah bersiapan panjang. Tiba tiba batal. Inikan merugikan," kata Rahmat.

Ia juga mengaku khawatir vakumnya kompetisi membuat keuangan klub menjadi tak stabil. Ancaman "kolaps" bukan tidak mungkin mengancam klub klub.

CEO PSM Makassar Munafri Arifuddin melihat penundaan itu karena aparat mempertimbangkan penyebaran pandemi yang masih tinggi. Ia mengakui kompetisi di tengah pandemi memang rentan. Namun ia juga memahami kekecewaan klub dan pemain.

"Secara finansial tentu ini berdampak pada klub. Kompetisi vakum artinya aktivitas sepak bola sebagai industri juga terhenti. Sementara pemain tetap dalam jaminan klub. Ya kita berharap semoga kompetisi bisa digulir secepatnya," kata Appi.

Lantas bagaimana pemerintah menengahi masalah ini. Pemerintah sejatinya tak boleh diam. Karena sepak bola juga industri. Dan banyak orang menggantungkan hidup di sana.

Editor : Muh. Syakir
#Editorial #Shofee Liga 1 #Liga 1 2020 #PSM Makassar #Munafri Arifuddin
Berikan Komentar Anda
Epaper
Cover Epaper
Populer