Jumat, 25 September 2020 23:27

Premium Ternyata Berdampak Buruk pada Lingkungan dan Merusak Komponen Mesin

Premium Ternyata Berdampak Buruk pada Lingkungan dan Merusak Komponen Mesin

Pengamat Lingkungan Hidup Sulsel, Asmar, mengungkapkan, kontribusi dari dampak Premium sangat besar terhadap pencemaran udara, kesehatan dan lingkungan hidup. Kontribusi yang besar tersebut, potensinya akan meningkat jika dibiarkan.

MAKASSAR, Pedomansulsel.com - Berdasarkan studi penelitian dan melansir dari jurnal teknologi dan lingkungan hidup, ternyata bahan bakar Premium sangat berdampak buruk pada lingkungan, bahkan merusak kesehatan manusia dan komponen mesin kendaraan.

Sayangnya, hal ini belum banyak diketahui masyarakat dan cenderung diabaikan, padahal dampak dari bahan bakar tersebut, sangat buruk jika dilakukan pembiaran.

Pengamat Lingkungan Hidup Sulsel, Asmar, mengungkapkan, kontribusi dari dampak Premium sangat besar terhadap pencemaran udara, kesehatan dan lingkungan hidup. Kontribusi yang besar tersebut, potensinya akan meningkat  jika dibiarkan.

Tak hanya itu, berbagai penyakit juga mengintai, karena karbon monoksida yang terdapat pada bahan bakar Premium bersifat racun dan nitrogen dioksida memicu penyakit paru-paru.

Disamping itu, efek samping dari penggunaan BBM dengan nilai oktan rendah tersebut, akan membuat pembakaran di dalam mesin tidak sempurna. Ini terjadi, karena terbakarnya BBM di dalam ruang bakar hanya karena tekanan mesin. Bukan karena percikan api dari busi, akibatnya selain menjadikan mesin knocking, juga membuat BBM terbuang dan menjadi emisi hidrokarbon (pemicu kanker), karbon monoksida (CO), dan nitrogen dioksida melalui knalpot.

"Melihat dampak buruk tersebut, harusnya pemerintah, dalam hal ini Dinas Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup bersama terkait aktif mengkampanyekan dan mengedukasi hal ini pada masyarakat. Masyarakat juga jangan melihat dari harganya yang murah, tapi juga dampaknya," katanya saat ditemui Pedomansulsel.com disela-sela kegiatannya, Jl Adiyaksa, Selasa (13/11/2018).

Sementara, dilansir dari Lembaga Afiliasi Penelitian dan Institut Teknologi Bandung (LAPI ITB), Tri Yuswijayanto, mengungkapkan, penggunaan bahan bakar Premium untuk mesin berstandar Euro 3 berakibat merusak kinerja mesin, menjadi lebih boros, dan menghasilkan tingkat emisi lebih tinggi dari standar.

Hal itu disebabkan karena proses oksidasi atau pembakaran BBM Premium yang tidak sempurna. Jadi, tidak sedikit BBM mengendap dan hanya menjadi sampah.

Untuk itu, mesin berstandar Euro 3 dianjurkan memakai BBM beroktan 91 ke atas untuk menghasilkan performa maksimal dan menjaga emisi tetap rendah. Namun, lagi-lagi dengan 'menyalahkan' kemampuan dompet, masyarakat bersikeras mengisi kendaraanya dengan Premium.

Padahal, kuatnya hubungan antara nilai oktan bahan bakar dan rasio kompresi terhadap proses pembakaran di mesin, mestinya menjadi pertimbangan utama pemilik kendaraan dalam memilih jenis bahan bakar.

Namun faktanya, kendaraan yang beredar sebagian besar memiliki rasio kompresi di atas 9:1, sehingga sudah selayaknya pemilik kendaraan menggunakan bahan bakar yang nilai RON-nya di atas 88, minimal Pertalite. Kalau perlu Pertamax.

Mestinya ini juga dijadikan dasar kampanye Pemerintah, bukan hanya hanya kampanye berdasar ekonomi (subsidi). Selain itu, Pemerintah juga harusnya menyuarakan pentingnya nilai oktan terhadap performa dan daya tahan mesin kendaraan, karena hal ini bukan masalah sepele. Pengguna kendaraan mestinya juga menyadari dampak penggunaan bahan bakar dengan oktan rendah tersebut.

"Kalau perlu Pemerintah pasang poster di SPBU yang menjadi tempat "favorit" pengendara terkait bahaya bakar bakar tersebut, seperti iklan rokok. Saya kira itu tidak masalah, demi mencegah polusi lingkungan yang lebih parah. Apalagi, masyarakat juga masih membutuhkan edukasi yang jelas mengenai karakteristik bahan bakar yang dijual di berbagai SPBU dan hubungannya dengan teknologi otomotif, serta dampaknya pada lingkungan. Pemerintah memang tak harus bergerak sendiri, ada pihak produsen atau APM yang mestinya turut mendukung edukasi tersebut demi efisiensi bahan bakar, performa prima kendaraan, dan kelestarian lingkungan," katanya.

Penulis/Editor : Marwiah Syam

 

 

 

 

 

Editor : Administrator
Berikan Komentar Anda
Epaper
Cover Epaper
Populer