Minggu, 13 Desember 2020 19:37

ARA: Makassar Harus Terbebas dari Buta Aksara Al-Quran

Sosialisasi Perda Legislator Makassar ARA.
Sosialisasi Perda Legislator Makassar ARA.

Bagi ARA, kepada orang tua tidak ada lagi alasan untuk tidak mengarahkan anak-anaknya pergi belajar-menulis dan membaca Al Qur’an atau mengaji.

MAKASSAR, PEDOMANMEDIA - Wakil Ketua DPRD Makassar Adi Rasyid Ali (ARA) menggelar sosialisasi peraturan daerah (Perda) nomor 1 tahun 2012 tentang pendidikan baca tulis Alqur’an di Hotel Grand Imawan, Minggu (13/12/2020). Ia berharap Makassar bisa terbebas dari huta aksara Al-Quran.

Hadir sebagai narasumber Kepala Seksi Pengembangan Peserta Didik Kota Makassar, Muskarnain Yunus, Founder Yayasan Ali Imran Makassar, Agus Irawan dan Wakil Ketua DPRD Makassar, Adi Rasyid Ali serta moderator Zulkifli Tahir.

Dalam pemaparannya, ARA menegaskan, alasan mengambil Perda tersebut, karena prihatin terhadap masih banyaknya umat Islam yang buta aksara baca tulis Alquran, khususnya usia dini, remaja dan usia produktif lainnya.

Baca Juga

"Makassar adalah kota yang memiliki ulama-ulama nasional bahkan dikenal ke kancah negara. Ini berkaitan dengan umat Islam. Kita ingin menyampaikan bahwa peraturan ini tujuannya tidak hanya membebaskan Kota Makassar dari buta aksara baca tulis Al Quran, tapi juga bagaimana memiliki karakter yang baik,” katanya.

”Anak-anak tidak bisa hanya cerdas dari ilmu pengetahuan umum tetapi juga harus ditopang dengan ilmu keagamaan,” tambahnya.

Bagi ARA, kepada orang tua tidak ada lagi alasan untuk tidak mengarahkan anak-anaknya pergi belajar-menulis dan membaca Al Qur’an atau mengaji. Sebab, pemerintah kota Makassar sudah menganggarkan insentif kepada guru-guru ngaji di setiap RT/RW.

“Insentif RT/RW 1 juta untuk guru mengaji kami yang minta untuk tidak dipotong-potong. Kami di legislatif dan saya khususnya di Banggar meminta untuk memaksimalkan implementasi Perda ini,” ungkap ARA.

Sementara, Kepala Seksi Pembinaan dan Pengembangan Dinas Pendidikan (Disdik) Kota Makassar, Muskarnain Yunus mengatakan, kecakapan dalam membaca Alqur’an merupakan keterampilan dasar yang harus dimiliki oleh setiap umat Islam.

“Alqur’an sebagai kitab suci umat Islam sekaligus sebagai pedoman hidup menuju jalan kebenaran. Dengan hal ini yang perlu diperhatikan meliputi ketepatan dalam melafadzkan bacaan Alqur’an sesuai dengan tajwid dan makhraj secara benar,” ujar Mus.

Tegasnya Mus, setiap muslim harus belajar kepada orang yang ahli dalam bidang ini. Kemudian dalam keterampilan menulis Alqur’an seseorang mampu mengenali huruf-huruf Alqur’an serta mengetahui kaidah penulisan yang benar.

Sehingga keterampilan menulis Alqur’an ini akan membantu seseorang untuk mengenali makna per kata dari Alqur’an.

“Jika ditemukan suatu kesalahan dalam penulisan ia mampu mengoreksi dan memberikan jawaban yang benar atas kesalahan tersebut. Karena salah penulisan kata dalam Alqur’an dapat merubah makna yang dikandung didalamnya,” pungkasnya.

Tak jauh berbeda dengan ARA dan Mus, Founder Yayasan Ali Imran Makassar, Agung Irawan mengungkapkan, peradaban manusia, utamanya umat muslim tidak boleh hanya ilmu pengetahuan umum yang harus diprioritaskan, tetapi jauh lebih penting jika ilmu agama lebih dimaksimalkan. Karena, Alqur’an adalah kita suci sebagai pembeda yang hak dan batil.

“Evaluasi bagi kita, sebuah penilitian mengungkapkan bahwa pembentukan karakter anak 65 persen sangat dipengaruhi oleh pembinaan rumah tangga. Kemudian 25 persen oleh pendidikan formal. 10 persen pengaruh lingkungan. Nah, pembinaan rumah tangga salah satu faktor penting dengan mengarahkan anak-anak kita untuk mendalami Alquran,” jelas Irawan.

Editor : Jusrianto
#DPRD Makassar #Adi Rasyid Ali #Sosialisasi
Berikan Komentar Anda