Stunting Sulsel Masih Tinggi, ini Penekanan Pemprov untuk Semua Leading Sektor
Dua komponen penting yang wajib berjalan beriringan untuk dapat mendukung percepatan penurunan stunting di Sulawesi Selatan.
MAKASSAR, PEDOMANMEDIA - Hasil Studi Status Gizi Indonesia Tahun 2022 menunjukkan 21,6% balita mengalami stunting dan Provinsi Sulawesi Selatan. Angka ini masuk dalam 10 besar tertinggi.
Terkait kondisi ini, diperlukan upaya yang luar biasa untuk mempertahankan, bahkan menurunkan angka prevalensi tersebut. Hal ini erat hubungannya dengan pencapaian target pemerintah di tahun 2024 di mana prevalensi stunting ditargetkan 14%.
"Untuk mencapai target tersebut, diperlukan percepatan langkah untuk menurunkannya.
Menyikapi hal tersebut, Pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan memaksimalkan kegiatan Rembuk Stunting untuk memastikan langkah penanganan stunting secara komprehensif," ujar Kadis P3A-Dalduk KB Sulsel Andi Mirna pada kegiatan Rembuk Stunting Tingkat Provinsi Sulawesi Selatan di Hotel Swiss Bell Makassar, Kamis (23/2/2023).
Menurut Mirna, melalui Rembuk Stunting, Pemprov memastikan pelaksanaan rencana kegiatan intervensi pencegahan dan penurunan stunting dilakukan secara bersama-sama antara OPD penanggung jawab layanan dengan sektor/lembaga non-pemerintah serta masyarakat.
Ia mengemukakan bahwa permasalahan stunting bukan urusan kelompok atau perangkat daerah tertentu. Namun menjadi tanggung jawab bersama, baik secara institusional dan personal.
"Pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan secara bersama-sama akan melakukan konfirmasi, sinkronisasi dan sinergisme hasil Analisis Situasi dan rancangan Rencana Kegiatan dari OPD penanggung jawab layanan di Provinsi Sulawesi Selatan dengan hasil perencanaan partisipatif masyarakat yang dilaksanakan melalui Musrenbang kecamatan dan desa dalam upaya penurunan stunting di lokasi fokus," paparnya.
Mengingat pentingnya penanganan stunting ini, Mirna menegaskan terdapat dua komponen penting yang wajib berjalan beriringan untuk dapat mendukung percepatan penurunan stunting di Sulawesi Selatan. Pertama, komitmen dalam bekerjasama dan bermitra, untuk dapat saling mendukung intervensi penurunan stunting. Kedua, peran keluarga yang sangat penting.
"Mencegah stunting pada setiap fase kehidupan, mulai dari janin dalam kandungan, bayi, balita, remaja, menikah, hamil dan seterusnya," ujarnya.
Lebih lanjut ia mengemukakan, Gubernur Sulawesi Selatan menekankan kepada semua perangkat daerah melakukan pendampingan dan sinergitas antar seluruh pemangku kepentingan dapat terus dikuatkan. Ini, untuk mewujudkan Provinsi Sulawesi Selatan bebas stunting.
Mirna juga berharap melalui Rembuk Stunting ini masing-masing stakeholder dapat mengambil perannya masing-masing. Termasuk berkolaborasi dan intervensi dapat berjalan antarsektor.
- 1
- 2
- 3
- 4
- 5
