Selasa, 22 Desember 2020 10:04

Soal Ancaman Kelaparan di RI Versi Bank Dunia, Sulsel Bisa Jadi Penyangga

Ilustrasi
Ilustrasi

Secara nasional memang terjadi kesenjangan pangan akibat daya beli masyarakat yang menurun. Akan tetapi hal itu tidak sampai membuat kesenjangan yang mencolok atau ancaman kelaparan.

MAKASSAR, PEDOMANMEDIA - Sulawesi Selatan memiliki produksi pangan yang tetap stabil meski dilanda pandemi. Sulsel disebut mampu menjadi penyuplai utama untuk kebutuhan pangan di Indonesia timur.

"Produksi berbagai komoditas pangan Sulsel sangat normal. Secara kuantitas kita bisa memenuhi kebutuhan pangan di KTI," ujar Awaluddin Derri, peneliti sosial ekonomi, Selasa (22/12/2020).

Menurut Awaluddin, secara nasional memang terjadi kesenjangan pangan akibat daya beli masyarakat yang menurun. Akan tetapi hal itu tidak sampai membuat kesenjangan yang mencolok dan menyebabkan kelaparan.

Baca Juga

Meningkatnya kebutuhan pangan orang orang kota karena ada kekhawatiran psikologis akibat pandemi yang berkepanjangan. Sementara di satu sisi ada penurunan konsumsi.

"Kesenjangam bukan karena krisis tapi kebutuhan yang menyebar tak merata," katanya.

Sebelumnya Bank Dunia mengungkap kondisi kesenjangan pangan di Indonesia yang semakin mencolok sejak pandemi. Kesenjangan terjadi karena kelaparan akibat tidak terjangkaunya pangan.

Hal ini disampaikan Bank Dunia untuk RI sebagai peringatan dalam laporan Indonesia Economic Prospects (IEP) Desember 2020 yang baru diluncurkan Bank Dunia. Dalam laporan itu disebutkan, orang orang kaya di kota mendominasi pangan. Sehingga banyak masyarakat yang kekurangan pangan.

Menurut Country Director World Bank untuk Indonesia dan Timor-Leste, Satu Kahkonen, ketersediaan pangan di Indonesia cenderung berpusat di daerah perkotaan. Ada beberapa tantangan fundamental. Konsumsi pangan lebih dinikmati oleh daerah perkotaan, dan sekarang daerah perkotaan sekarang meminta lebih banyak lagi makanan bergizi yang lebih beragam," ucapnya.

Kahkonen mengatakan, tantangan sektor pangan di Indonesia bukan terkait ketersediaannya, melainkan keterjangkauan bagi kelompok tertentu. Bank Dunia mencatat masyarakat miskin dan rentan di Indonesia semakin tak mampu untuk membeli makanan pokok.

"Sekarang bukan masalah ketersediaan tapi keterjangkauan, Jadi pasokan pangan ini lebih banyak dinikmati oleh yang mampu tapi tidak untuk kelompok miskin," terangnya.

Dalam laporan IEP Desember 2020, Bank Dunia mencatat makanan menyumbang rata-rata pengeluaran rumah tangga seluruh Indonesia mencapai 55,3%. Namun jika dilihat untuk kelompok masyarakat bawah atau miskin harus menghabiskan 64,3% pengeluarannya hanya untuk membeli makanan.

Sementara untuk 20% masyarakat Indonesia yang merupakan masyarakat menengah ke atas menghabiskan 41,9% pengeluarannya untuk membeli makan.

Perbedaan yang sangat mencolok lainnya adalah pengeluaran untuk pembelian makanan pokok seperti beras. Untuk 20% kelompok masyarakat paling miskin menghabiskan 12,2% pengeluarannya untuk beli beras. Sementara untuk orang kaya hanya 4,1% dari pengeluarannya untuk beli beras.

Di sisi lain ada faktor yang cukup memperberat kondisi. Ternyata harga beras di Indonesia merupakan yang paling mahal dibandingkan dengan negara lain di kawasan.

Jika masalah ini tidak segera ditindaklanjuti, Bank Dunia memperkirakan ada risiko malnutrisi dan kelaparan karena sebagian masyarakat Indonesia semakin tidak mampu untuk membeli makanan yang bergizi.

Ada 3 perubahan yang direkomendasikan Bank Dunia untuk mengatasi tantangan ketahanan pangan dan memodernisasi sistem pertanian pangan.

Pertama, pendekatan ketahanan pangan perlu diperluas untuk menjawab kebutuhan Indonesia dan mewujudkan visi ketahanan pangan komprehensif yang tertuang dalam

Undang-Undang Pangan.

Kedua, tujuan dan instrumen kebijakan perlu disesuaikan kembali dan cakupan kebijakan didefinisikan kembali. Ketiga, pengeluaran publik perlu dialokasikan kembali untuk mendapatkan dampak yang lebih besar dan produktif.

Untuk menerapkan strategi ketahanan pangan yang lebih luas ini, tujuan kebijakan perlu disesuaikan untuk meningkatkan produktivitas dengan bergeser dari fokus eksklusif pada peningkatan hasil ke peningkatan produktivitas tanaman dan ternak.

Kemudian diversifikasi dengan melakukan transisi dari fokus pada tanaman terpilih menjadi pertanian yang terdiversifikasi yang menguntungkan semua petani.

Terakhir terkait daya saing dengan beralih dari melindungi pasar domestik dengan pembatasan impor. Sehingga lebih mendukung peningkatan daya saing pertanian dan membuka pasar ekspor yang luas bagi produsen dalam negeri.

Editor : Muh. Syakir
#Sulsel Penyangga Pangan #Bank Dunia #Ancaman Kelaparan
Berikan Komentar Anda
Epaper
Cover Epaper
Populer