Budi Santoso : Minggu, 27 Desember 2020 18:45
Ilustrasi/Istimewa

JAKARTA, PEDOMANMEDIA - Juru Bicara Satgas Penanganan Covid-19, Wiku Adisasmito angkat bicara. Menyoroti perkembangan kasus Covid-19 di Indonesia, mengalami peningkatan.

Per tanggal 24 Desember, terjadi penambahan sebanyak 7.199 kasus positif. Dengan kasus aktif 108.269 atau 15,6 persen dibandingkan rata-rata dunia 27,40 persen.

Untuk pasien Covid-19 yang meninggal dunia, tercatat 20.589 kasus atau 2,97 persen dibandingkan rata-rata dunia 2,19 persen. Sementara jumlah kesembuhan 563.980 atau 81,4% dibandingkan rata-rata dunia 70,39%.

"Dalam setiap kenaikan kasus aktif selalu diiringi oleh kenaikan persentase daerah yang tidak patuh protokol kesehatan. Dan selalu berawal dari even libur panjang," ungkap Wiku dalam keterangan resminya di Gedung BNPB, Jakarta, baru-baru ini.

Wiku lanjut mengurai, pada periode Maret–Juli 2020, kasus aktif meningkat. Dari 1.107 kasus menjadi 37.342 kasus.

Kemudian di periode Agustus–Oktober, kasus aktif meningkat dari 39.354 menjadi 66.578 kasus.

"Kenaikan tertinggi dalam waktu yang tersingkat, terjadi pada periode bulan November hingga Desember ini. Kasus aktif meningkat dua kali lipat dari 54.804 kasus menjadi 103.239 kasus. Hanya dalam waktu satu bulan," pungkasnya merinci.

Dia menyimpulkan, tren peningkatan kasus terjadi di masa-masa libur. Olehnya dia berharap pada momen libur Natal dan Tahun Baru ini, menjadi pelajaran berharga bagi masyarakat.

"Mari kita menjadi kelompok masyarakat yang berperan dalam menyelamatkan diri sendiri. Dan orang terdekat yang kita cintai dengan memilih untuk tidak berpergian dan menghindari kerumunan," harap dia.

Anggaran Pengadaan Vaksin Capai Rp73 Triliun

Pemerintah pusat telah merencanakan program vaksinasi Covid-19 secara gratis. Anggaran yang disiapkan tidak tanggung-tanggung, mencapai Rp73 triliun.

Program vaksinasi itu akan dilaksanakan pada 2021 mendatang. Seiring dengan pelaksanaan program 3M (memakai masker, mencuci tangan dengan sabun dan menjaga jarak).

Belum lama ini, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto mengungkapkan, jika pengadaan vaksin itu untuk memenuhi target herd immunity 70 persen.

Vaksin yang disiapkan beragam merek. Salah satunya produk Sinovac asal Cina. Sekira 1,2 juta dosis vaksin itu sudah tiba di Indonesia. Kemudian, ada sebanyak 1,8 juta dosis akan tiba pada Januari 2020 mendatang. Disusul 15 juta dosis vaksin berbentuk bahan baku.

Saat ini, pemerintah sedang menunggu izin Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) untuk emergency use authorization (EUA).

Sebelum mengeluarkan izin, BPOM harus melengkapi hasil uji klinis lain yang dilakukan di negara lain.

Dalam beberapa hari ini, lanjut Airlangga, BPOM akan mendapatkan hasil penelitian atau uji klinis vaksin Sinovac yang dilakukan di Brasil. Uji klinis tahap pertama dan kedua dari Sinovac di China, dan laporan hasil uji klinis yang dilakukan di Bandung.

"Sehingga tiga data itu dikombinasikan BPOM secara scientific dan kita harap Januari 2021, emergency use authorization bisa diberikan," ucap Airlangga.

Apabila sudah keluar izin dari BPOM, lanjutnya, maka proses vaksinasi bisa dilakukan dengan penyuntikan sebanyak dua dosis. Sehingga yang akan digunakan adalah 600 ribu dosis dari 1,2 juta dosis vaksin.

Selain Sinovac, Kementerian Kesehatan menetapkan lima vaksin lain yang akan digunakan di Indonesia. Itu sesuai dengan Keputusan Menteri Kesehatan nomor 9860 tahun 2020.

Kelima vaksin itu berasal dari Astra Zeneca, Sinopharm, Moderna, Pfizer dan BioNTech, dan vaksin yang diproduksi oleh PT Bio Farma (Persero).