Israel Persiapkan Invasi Darat Besar-besaran, Genosida Bakal Sulit Dicegah
Jumlah korban jiwa di atas 5.000 itu termasuk 2.055 anak, 1.119 perempuan, dan 217 lansia
GAZA, PEDOMANMEDIA - Militer Israel menggencarkan pengeboman di Kota Gaza selama berjam-jam pada Jumat (27/10). Serangan ini akan mengawali serangan darat besar besaran ke Gaza.
BBC News bertanya kepada juru bicara pemerintah Israel, apakah gempuran ini merupakan awal operasi darat Israel ke Jalur Gaza yang digaungkan selama beberapa hari terakhir oleh para pejabat Israel, termasuk Perdana Menteri Benjamin Netanyahu.
Eylon Levy menjawab: "Israel telah memperluas operasi darat di Jalur Gaza, tapi lain dari itu saya tidak akan berkomentar mengenai urusan operasional."
Sementara itu, sayap militer Hamas, Brigade Al Qassam, mengatakan pihaknya menghadapi serangan darat militer Israel di bagian utara Jalur Gaza.
Hamas mengatakan "pertempuran dengan kekerasan" terjadi di dekat Beit Hanoun, Gaza utara, dan Bureij. Namun mereka tidak memberikan rincian lebih lanjut mengenai bentuk bentrokan yang terjadi.
BBC tidak dapat memverifikasi klaim Hamas ini.
Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menyebut tak ada tempat yang aman bagi warga Palestina di Gaza saat ini, seiring pertikaian antara Israel dan Hamas yang kian memanas.
Pasukan pertahanan Israel (IDF) mengklaim telah melakukan "serangan yang ditargetkan" di sejumlah infrastruktur dan pos peluncuran rudal anti-tank di Gaza utara.
Perdana Menteri Benjamin Netanyahu kembali menegaskan Israel sedang mempersiapkan invasi darat ke Gaza, namun tidak memberikan rincian kapan serangan darat itu akan dilakukan.
'Kami semua merasa itu adalah tempat paling aman bagi anak-anak' - Kesaksian orang tua yang kehilangan dua putra imbas ledakan RS Al-Ahli
Omer dan Omar - Dua bocah tewas di tengah pertikaian Israel-Hamas namun diklaim boneka dan aktor bayaran
Koordinator Kemanusiaan PBB untuk Palestina, Lynn Hastings, peringatan dini Israel agar warga di Gaza utara mengevakuasi diri tak ada bedanya bagi orang-orang yang tak bisa mengungsi lantaran tidak memiliki tujuan atau tidak bisa bergerak.
"Ketika jalur evakuasi dibom, ketika orang-orang di utara dan selatan terjebak dalam pertikaian, ketika kebutuhan pokok untuk bertahan hidup tidak ada lagi, dan ketika tidak ada jaminan untuk kembali, orang-orang tak punya pilihan," katanya kepada BBC.
"Tidak ada tempat yang aman di Gaza."
Awal bulan ini, militer Israel memperingatkan masyarakat di utara Jalur Gaza untuk menuju ke selatan.
Seorang warga Palestina di Khan Younis, di Gaza bagian selatan, mengatakan kepada kantor berita Reuters: "Wilayah selatan, di selatan lembah, tidak aman.
"Terjadi pembantaian siang dan malam, banyak pembantaian, anak-anak, remaja, bayi - semuanya dibunuh."
"Bangunan-bangunan mati, pohon-pohon mati tidak ada tempat yang aman di seluruh Jalur Gaza. Bagian selatan hancur, semua pembunuhan dan pengungsian terjadi di bagian selatan."
"Kita milik Tuhan dan kepada-Nya kita akan kembali."
Hampir 6.500 warga Palestina kehilangan nyawa sejak 7 Oktober, imbas dari serangan balasan Israel atas serangan Hamas.
Sementara,1.400 warga Israel meninggal dalam serangan Hamas terhadap Hamas pada 7 Oktober, yang memicu pertikaian terbaru antara Palestina dan Israel. Lebih dari 200 warga Israel masih disandera di Gaza.
Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) telah mendesak Hamas untuk membebaskan semua sandera dengan alasan medis.
Sebelumnya, PBB memperingatkan pasokan bahan bakar di Gaza akan segera habis, mengakibatkan rumah sakit menutup hampir seluruh layanannya, kecuali Instalasi Gawat Darurat (IGD).
Seiring beberapa negara di seluruh dunia menyerukan "jeda kemanusiaan" dalam upaya menyalurkan bantuan yang sangat dibutuhkan ke Gaza, PBB telah memperingatkan Gaza akan kehabisan bahan bakar pada Rabu (25/10) malam.
Jika bahan bakar habis, itu akan berdampak sangat besar pada upaya bantuan kemanusiaan yang mereka lakukan di wilayah yang tengah dilanda prahara tersebut.
PBB menekankan pentingnya pengiriman pasokan bahan bakar ke wilayah itu demi memastikan warga mendapatkan air minum yang bersih, layanan rumah sakit tetap buka dan operasi bantuan dapat terus berlanjut.
Menipisnya pasokan bahan bakar di Gaza, memicu kekhawatiran mengenai dampaknya terhadap layanan kesehatan. Badan-badan PBB lainnya memperkirakan bahwa sepertiga rumah sakit di Gaza dan hampir dua per tiga klinik layanan kesehatan utama ditutup karena kerusakan atau kekurangan bahan bakar.
Wartawan BBC di Gaza, Rushdi Abualouf, mengatakan rumah sakit kini telah menutup hampir semua layanannya kecuali instalasi gawat darurat.
"Sebagian besar departemen di rumah sakit ditutup karena mereka ingin meminimalkan jumlah bahan bakar yang mereka gunakan," ujarnya kepada program Today di BBC Radio 4.
Akan tetapi, fasilitas penting seperti unit dialisis masih beroperasi, kendati dengan perawatan yang sangat minim.
Sebelumnya, Kementerian Kesehatan Palestina mengatakan 436 orang tewas dalam 24 jam terakhir, imbas dari serangan udara Israel yang terus berlanjut.
Israel mengatakan pihaknya menargetkan infrastruktur Hamas dalam serangannya, termasuk terowongan. Israel mengklaim berhasil menggempur 320 sasaran dalam sehari.
Israel juga melancarkan serangan darat terbatas ke Gaza untuk mencari informasi tentang warga Israel yang disandera milisi Hamas.
Badan PBB untuk Pengungsi Palestina mengatakan situasi di Gaza selatan sangat buruk sehingga beberapa warga sipil memutuskan kembali ke tempat tinggal mereka di Gaza utara, setelah diperintahkan untuk mengungsi ke selatan oleh Israel.
Lebih dari 1.400 warga Israel terbunuh ketika Hamas menyerang komunitas warga Israel di dekat Gaza.
Sementara Kementerian Kesehatan Palestina di Gaza mengatakan lebih dari 5.000 orang telah tewas sejak Israel mulai membom wilayah tersebut sebagai balasan atas serangan Hamas.
Jumlah korban jiwa di atas 5.000 itu termasuk 2.055 anak, 1.119 perempuan, dan 217 lansia, menurut Kementerian Kesehatan Palestina. Sebanyak 15.273 lainnya dalam kondisi luka.
Kementerian kesehatan, seperti lembaga pemerintahan lainnya di Jalur Gaza, dikontrol oleh Hamas.
Sebelumnya, sejumlah rudal Israel menghantam sebuah masjid di Kota Jenin, Tepi Barat. Militer Israel (IDF) mengatakan intelijen mereka "mengungkap bahwa masjid itu digunakan sebagai pusat komando untuk merencanakan dan melaksanakan serangan teroris terhadap warga sipil".
Seorang petugas medis setempat mengatakan bahwa dua orang tewas dalam insiden tersebut, menurut kantor berita Reuters. BBC belum memverifikasi informasi ini.
