Muh. Syakir : Kamis, 04 Januari 2024 08:13
Rakor Pengendalian Inflasi secara virtual di Baruga Lounge, Kantor Gubernur Sulsel.

MAKASSAR, PEDOMANMEDIA - Natal dan Tahun Baru memicu kenaikan inflasi, meski dengan tren tipis. Pemerintah Provinsi Sulsel menyiapkan langkah intervensi dalam waktu dekat.

Penjabat Sekretaris Daerah Provinsi Sulsel Andi Muhammad Arsjad, mengungkapkan, program intervensi akan dilanjutkan untuk memproteksi kenaikan pangan. Di antaranya, gerakan pangan murah, operasi pasar serta stabilisasi pasokan dan harga pangan.

"Kita juga tentu akan tetap melakukan pemantauan secara rutin terhadap harga-harga terutama komoditi bahan pokok strategis. Setiap hari teman-teman enumerator kita mencatat melalui panel harga di beberapa pasar tradisional yang menjadi sampling kita di 24 kabupaten/kota, sehingga kita terus memantau pergerakan dari pada harga," kata Arsjad, usai mengikuti Rapat Koordinasi (Rakor) Pengendalian Inflasi secara virtual di Baruga Lounge, Kantor Gubernur Sulsel, Rabu, 3 Januari 2023.

Selain itu, lanjut Arsjad, secara garis besar program pengendalian inflasi tetap dalam konteks upaya menjaga ketersediaan dan memastikan kelancaran distribusi pangan. Termasuk keterjangkauan harga dan komunikasi efektif dengan semua elemen tetap akan didorong.

"Saya yakin dengan neraca pangan yang ada, ketersediaan pangan di Sulsel masih cukup untuk memenuhi kebutuhan pangan bagi masyarakat dalam beberapa bulan ke depan," imbuhnya.

Diketahui, momentum Natal dan Tahun Baru (Nataru), serta masa libur sekolah berkontribusi terhadap kenaikan inflasi di daerah Sulsel. Meski begitu, Arsjad mengaku pergerakan inflasi di Sulsel hanya meningkat tipis.

"Kondisi pergerakan inflasi mengalami peningkatan tipis di Sulawesi Selatan ini dari 2,79 (persen) meningkat tipis jadi 2,81 (persen)," ucapnya.

Peningkatan ini, lanjutnya, disebabkan tingginya permintaan masyarakat untuk bahan pokok dan berdampak pula pada sektor transportasi saat momentum perayaan hari raya Natal dan Tahun Baru termasuk liburan sekolah.

Beberapa komoditi yang menjadi penyumbang inflasi di Sulsel, paling besar adalah komoditi beras dengan andil inflasi mencapai 0,822 persen, yang disusul cabai rawit sebesar 0,353 persen.

"Ini tentu harus menjadi perhatian kita semua untuk tetap mengoptimalkan kerja-kerja Tim Pengendali Inflasi Daerah," ujarnya.