"Jam Malam" Berakhir Besok, Ekonom: Jika Diperpanjang Resesi Bisa Lebih Tajam
Kontraksi lebih kuat sekarang dan resesi bisa memuncak pada 2021. Jika tak ada upaya pemulihan yang lebih cepat maka daya beli akan menurun sangat tajam.
MAKASSAR, PEDOMANMEDIA - Pengamat ekonomi Sjamsul Ridjal melihat, pemberlakuan jam malam tak memberi efek konstruktif terhadap pencegahan pandemi. Jam malam justru memenggal upaya pemulihan ekonomi yang mulai bangkit November lalu.
"Sekarang upaya pemulihan itu terganggu karena pembatasan jam malam. Resesi bisa lebih tajam," katanya, Minggu (10/1/2021).
Menurut Sjamsul, kontraksi lebih kuat sekarang dan resesi bisa memuncak pada 2021. Jika tak ada upaya pemulihan yang lebih cepat maka daya beli akan menurun sangat tajam.
"Bisa bisa nanti masyarakat untuk beli cabe pun susah. Mungkin uang ada tapi masyarakat memilih menyimpan. Ini kondisi psikologis yang akan terjadi saat ekonomi terpuruk," kata Sjamsul.
Sjamsul menjelaskan, stimulus yang digulirkam pemerintah hanya sedikit menolong menaikkan konsumsi. Tak bisa secara komprehensif. Karena kata dia, terjadi kekhawatiran akan memburuknya situasi jika pandemi tak juga berakhir di 2021. Apalagi ada pembatasan jam malam yang kontradiktif dengan pemulihan ekonomi.
"Isu pandemi ini paling merusak konstruksi ekonomi kita. Kalau isu itu terus pasti akan lebih buruk. Apalagi di Eropa pandemi digambarkan begitu mengerikan," katanya.
Sjamsul juga memperkirakan, 2021 akan terjadi gejolak ketenagakerjaan karena perusahaan gagal kinerja. Dampak terburuknya adalah PHK massal.
Ia juga mengaku khawatir jika WFH diberlakukan total. PHK akan terjadi lebih masif.
Sebelumnya Gubernur Sulsel Nurdin Abdullah mengakui resesi sejak Oktober lalu memberi kontraksi cukup hebat pada ekonomi daerah. Namun, iklim investasi berpeluang diperbaiki di 2021.
"Potensi kita untuk membangun kembali ekonomi terbuka sekali. Sulsel ini termasuk daerah yang masih bisa menjaga stabilitas keuangan di tengah pandemi," ujar NA.
Menurut NA, pada beberapa sektor, Sulsel menunjukkan performa cukup apik. Terutama karena bisa mempertahankan angka pertumbuhan ekonomi, di saat pertumbuhan ekonomi nasional jatuh di bawah minus 5.
"Tahun 2021 kita berharap bisa mendorong kembali investasi dan menormalkan ekspor. Karena di beberapa komoditas kita ini bagus. Pangan kita juga terjaga dengan baik," paparnya.
NA menyebutkan, yang menjadi fokus saat ini bagaimana memulihkan UMKM. Sebagai penyangga krisis, UMKM harus dibangkitkan kembali setelah mengalami keterpurukan akibat pembatasan sosial selama 2020.
2020 menjadi tahun kejatuhan ekonomi nasional. Indonesia akhirnya resmi jatuh dalam resesi pada November silam.
Pertumbuhan ekonomi ada di angka minus 3,49%. Meski ada kenaikan dibanding kuartal kedua yang berada di angka minus 5%, namun ini tak menyelamatkan RI dari jurang resesi.
