Muh. Syakir : Rabu, 07 Februari 2024 09:31
Saharuddin Said

MAKASSAR, PEDOMANMEDIA - Anggota DPRD Makassar, Saharuddin Said, menyoroti populasi anak jalanan (anjal) yang kian tak terkendali di Kota Makassar. Saharuddin menyebut, pola penanganan anjal belum komprehensif hingga meninggalkan banyak problem.

"Penanganan ini dibutuhkan keseriusan khusus. Dari dulu saya suarakan itu. Misalnya kita mau hanya biasa-biasa saja menangani itu, saya kira tidak bisa. Tidak akan ada perubahan," terang Saharuddin kepada PEDOMANMEDIA, Selasa (6/2/2024).

Saharudidin mengibaratkan penanganan anjal di Makassar seperti memotong kuku. Setiap kali dipotong, dia akan tumbuh kembali.

"Kenapa, karena memang tidak diseriusi untuk ditangani. Coba kita serius tangani, kita kasih efek jera," ujarnya.

Diungkapkan Saharuddin, kalau anjal tidak ditangani dengan serius pasti tidak akan ada habisnya. Bahkan populasinya akan terus berkembang. Dan pada akhirnya menjadi problem sosial yang memberi efek lebih serius.

"Makanya saya sempat kemarin menyarankan ke Dinsos untuk membuat salah satu organisasi seperti laskar anjal, supaya ada yang menangani khusus terkait itu. Kan banyak sekarang kita punya laskar-laskar baru seperti laskar pelangi yang bisa kita gunakan untuk menjadi laskar anjal. Seperti dulu kalau kita bisa ingat ada laskar pajak yang kemudian turun ke warung-warung, rumah makan untuk menjaga pajak-pajak kita sehingga pajak kita tidak bocor kan lumayan efisien," ungkap Saharuddin.

Dikatakannya, butuh penanganan khusus untuk anak jalanan. Terutama efek jera agar eksploitasi mereka bisa diputus.

Saharuddin melihat anjal tidak muncul begitu saja. Mereka juga tidak bekerja orang per orang.

Ada pelaku eksploitasi di belakangnya. Mereka inilah yang membuat anjal menjadi kian subur. Saharuddin menyebut, para pelaku eksploitasi mengambil keuntungan dari anak anak jalanan itu.

"Nah ini yang harus kita beri efek jera," tandasnya.

Lanjut Saharuddin, hari ini anak jalanan mengganggu lalu lintas. Tetapi di kemudian hari, mereka bisa jadi pelaku kriminal jalanan.

"Makanya kadang meresahkan saya pun kadang malas atau capek melihat itu anjal. Kalau misalkan kita mau belok tiba-tiba dia ada menghalangi atau segala macam. Bukan berarti saya diskriminatif tidak, memang kan tidak diperbolehkan untuk mereka di jalan-jalan itu," ucap Saharuddin.

Dibeberkan Saharuddin, para penduduk yang kurang mampu seharusnya tak lagi mengemis di jalanan. Sebab sudah ada bansos yang disalurkan kepada mereka.

"Maka dari itu kalau misalkan memang anjal itu terindikasi atau tertangkap di lapangan, tarik itu bantuannya sebagai sanksi sementara kan. Misalkan ditarik beberapa bulan supaya ada efek jera buat dia, kan semua anjal itu punya KIS, BLT, PKH itu yang harus kita tarik sebagai sanksi supaya dia ada efek jera baik itu dia ataupun orang tuanya. Karena inikan mereka rata-rata masih punya orang tua," beber Saharuddin.