Muh. Syakir : Senin, 26 Februari 2024 17:42
Sutardjo Tui

MAKASSAR, PEDOMANMEDIA - Pengamat ekonomi Sulsel, Sutardjo Tui mengatakan, kenaikan harga beras terjadi karena ketidakseimbangan antara permintaan dan penawaran. Kondisi ini diperparah oleh kekacauan rantai distribusi.

"Supply and demand tidak berimbang. Termasuk supply chain saluran distribusi kemungkinan mengalami hambatan," ujar Sutardjo Tui kepada PEDOMANMEDIA, Senin (26/02/2024).

Menurut Sutardjo, permintaan beras saat ini tidak berbanding lurus dengan stok yang dilempar ke pasar. Stok beras cenderung berkurang. Sehingga tidak mampu memenuhi permintaan konsumen.

"Permintaan beras sebenarnya tetap seperti biasa. Kan komoditas ini menjadi makanan pokok masyarakat Indonesia termasuk Sulawesi Selatan. Namun permintaan tersebut tidak diimbangi oleh peningkatan produksi," jelasnya.

Dijelaskan Sutardjo, keterbatasan produksi beras disebabkan beberapa hal. Antara lain seperti El Nino yang menyebabkan kemarau panjang pada 2023.

Kkndisi ini menyebabkan masa panen mundur dari waktu biasanya. Bahkan untuk daerah tertentu terjadi gagal panen.

Faktor lain kata Surtardjo, bisa karena perilaku spekulan. Memungkinkan ini terjadi karena ada kartel yang bermain hingga terjadi gejolak.

"Tapi kita berharap semoga saja tidak. Semoga tidak ada campur tangan mafia beras. Karena sebenarnya Sulsel itu adalah lumbung beras sebagai daerah penyangga pangan untuk daerah lain di Indonesia," ucap Sutardjo.

Ke depan, menurut Sutardjo, data mengenai kebutuhan beras serta cadangan yang tersedia di Bulog harus lebih akurat. Sehingga apabila terjadi kelangkaan, bisa dengan cepat diantisipasi.

"Kita ambil hikmahnya saja karena dengan kenaikan harga berarti pendapatan petani akan meningkat semoga," tutup dia.