Sabtu, 30 Maret 2024 15:00

AS Dikecam, Pasok Bom dan Jet Tempur ke Israel

Ilustrasi (int)
Ilustrasi (int)

Rafah menjadi tempat perlindungan terakhir bagi lebih dari satu juta pengungsi Palestina yang menghindari gempuran Israel.

WASHINGTON DC, PEDOMANMEDIA - Amerika Serikat (AS) menolak serangan militer Israel ke Rafah, namun di satu sisi Washington justru terus memasok bom dan jet tempur ke Tel Aviv. Langkah AS ini menuai kecaman dari berbagai pihak.

Seperti dilansir Al Arabiya, Sabtu (30/3/2023), laporan media terkemuka AS, The Washington Post, yang mengutip para pejabat Pentagon dan Departemen Luar Negeri AS, menyebut paket persenjataan terbaru untuk Israel itu mencakup lebih dari 1.800 bom MK84 seberat 2.000 pon dan 500 bom MK82 seberat 500 pon.

Gedung Putih menolak untuk berkomentar soal laporan The Washington Post tersebut. Sedangkan Kedutaan Besar Israel di Washington DC belum menanggapi permintaan komentar.

Baca Juga

Seorang jenderal top militer AS mengatakan pada Kamis (28/3) waktu setempat bahwa Washington tidak memberikan semua senjata yang diminta oleh Tel Aviv, dengan sebagian alasannya karena AS tidak bersedia memberikannya untuk saat ini.

Menteri Pertahanan (Menhan) Israel Yoav Gallant mengunjungi Washington DC pada awal pekan ini dan dilaporkan menyampaikan daftar kemampuan persenjataan yang diinginkan oleh negaranya dari AS saat Tel Aviv melanjutkan rentetan serangan terhadap Jalur Gaza untuk melenyapkan Hamas.

AS memberikan bantuan militer tahunan senilai US$ 3,8 miliar kepada Israel. Washington telah mengerahkan pasokan pertahanan udara dan amunisi ke Tel Aviv, namun beberapa politisi Partai Demokrat dan kelompok Arab Amerika mengkritik dukungan kuat pemerintahan Presiden Joe Biden terhadap Israel.

Bantuan dari AS untuk Israel itu, menurut mereka, telah memberikan rasa impunitas.

"Kami terus mendukung hak Israel untuk membela diri. Bantuan bersyarat belum menjadi kebijakan kami," tegas seorang pejabat Gedung Putih seperti dikutip dalam laporan The Washington Post.

Namun, sejumlah politisi Partai Demokrat, yang menaungi Biden, berpendapat bahwa pemerintah AS bertanggung jawab membatasi pasokan senjata ke Israel mengingat rentetan serangan yang terus berlanjut terhadap Jalur Gaza yang sejauh ini menewaskan sedikitnya 32.623 orang.

"Pemerintahan Biden perlu menggunakan pengaruh mereka secara efektif, dan dalam pandangan saya, mereka harus menerima komitmen dasar ini sebelum memberikan lampu hijau untuk lebih banyak bom di Gaza," kritik Senator AS Chris Van Hollen dalam sebuah wawancara seperti dikutip The Washington Post.

"Kita perlu mendukung apa yang kita katakan dengan apa yang kita lakukan," tegasnya.

Pekan lalu, Biden memperingatkan Perdana Menteri (PM) Israel Benjamin Netanyahu bahwa serangan darat Israel ke Rafah akan menjadi "kesalahan". Peringatan itu disampaikan Biden kepada Netanyahu saat keduanya berbicara via telepon.

"Presiden menjelaskan mengapa dia sangat prihatin dengan prospek Israel melancarkan operasi militer besar-besaran di Rafah," ucap Penasihat Keamanan Nasional Gedung Putih, Jake Sullivan, kepada wartawan setempat pada 18 Maret lalu.

"Operasi darat besar-besaran di sana merupakan sebuah kesalahan -- hal ini akan menyebabkan lebih banyak kematian warga sipil yang tidak bersalah, memperburuk krisis kemanusiaan yang sudah mengerikan, memperdalam anarki di Gaza, dan semakin mengisolasi Israel secara internasional," sebutnya merujuk pada peringatan yang disampaikan Biden kepada Netanyahu dalam percakapan telepon tersebut.

Rafah menjadi tempat perlindungan terakhir bagi lebih dari satu juta pengungsi Palestina yang menghindari gempuran Israel. Tel Aviv meyakini para petempur Hamas yang tersisa kini bersembunyi di kota tersebut dan bertekad memusnahkan mereka.

 

Editor : Muh. Syakir
#Israel Serang Palestina
Berikan Komentar Anda