Sabtu, 11 Mei 2024 17:20

Sepekan, 100.000 Orang Mengungsi dari Rafah di Tengah Ancaman Invasi Israel

Pengungsi Palestina (int)
Pengungsi Palestina (int)

Israel telah menegaskan bahwa mereka tidak bisa memenangkan perang tanpa menyerang Rafah.

RAFAH, PEDOMANMEDIA - Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) melaporkan bahwa jumlah orang yang mengungsi dari Rafah, Jalur Gaza, bertambah melebihi 100.000 ribu orang dalam beberapa hari terakhir. Eksodus massal terjadi saat ancaman invasi darat besar-besaran oleh Tel Aviv semakin membayangi kota paling selatan di Jalur Gaza itu.

Seperti dilansir AFP dan Al Arabiya, Sabtu (11/5/2024), militer Israel sejak Senin (6/5) waktu setempat menyerukan warga Palestina untuk segera mengungsi dan meninggalkan wilayah Rafah bagian timur, yang semakin memicu kekhawatiran internasional yang luas akan terjadinya invasi darat secara besar-besaran.

Badan anak-anak PBB, atau UNICEF, melaporkan lebih dari 100.000 orang telah mengungsi dari Rafah sejauh ini. Sedangkan laporan badan kemanusiaan PBB atau OCHA menyebut jumlah orang yang mengungsi melebihi 110.000 orang.

Baca Juga

Semua mata tertuju pada Rafah dalam beberapa pekan terakhir, yang populasinya membengkak menjadi sekitar 1,5 juta jiwa setelah ratusan ribu warga Palestina melarikan diri dari pertempuran di wilayah Jalur Gaza lainnya.

Kepala sub-kantor OCHA di Gaza, Georgios Petropoulos, menyebut situasi di daerah kantong Palestina itu telah mencapai "level darurat yang belum pernah terjadi sebelumnya".

"Perintah evakuasi baru-baru ini yang kami terima dari pemerintah Israel terkait dengan operasi militer di Rafah kini memicu lebih dari 110.000 pengungsi yang harus berpindah ke utara," ucap Petropoulos dalam pengarahan via tautan video dari Rafah, yang disampaikan di Jenewa, Swiss.

"Sebagian besar dari mereka adalah orang-orang yang harus mengungsi sebanyak lima atau enam kali," sebutnya.

Negara-negara di seluruh dunia, termasuk Amerika Serikat (AS) yang merupakan pendukung utama Israel, telah mendesak Tel Aviv untuk tidak memperluas serangan darat ke Rafah, dengan alasan kekhawatiran akan banyaknya korban sipil.

Koordinator darurat senior UNICEF di Jalur Gaza, Hamish Young, menegaskan Rafah "tidak boleh diinvasi" dan menyerukan agar bahan bakar serta bantuan segera disalurkan ke Jalur Gaza.

"Kemarin, saya berjalan-jalan di sekitar zona Al-Mawasi, di mana masyarakat di Rafah diminta mengungsi. Lebih dari 100.000 orang telah meninggalkan Rafah dalam lima hari terakhir dan arus pengungsian terus berlanjut," tuturnya saat berbicara dari Rafah.

Tempat penampungan telah berjajar di area bukit pasir Al-Mawasi dan kini menjadi sulit untuk berpindah antara tenda dan terpal di sana.

Sebelumnya dilaporkan bahwa tank-tank militer Israel mengepung sebagian wilayah Rafah, setelah merebut area perlintasan perbatasan yang menghubungkan Jalur Gaza dengan Mesir.

Militer Israel, dalam pernyataannya, mengklaim pasukannya di area Rafah bagian timur telah menemukan beberapa terowongan, dan pasukan yang didukung oleh serangan udara sedang bertempur dari jarak dekat dengan sekelompok petempur Hamas, hingga menewaskan beberapa militan.

Disebutkan juga bahwa jet-jet tempur Israel menghantam beberapa area yang menjadi lokasi roket dan mortir ditembakkan ke arah Israel dalam beberapa hari terakhir, termasuk di perlintasan perbatasan Kerem Shalom.

Israel telah menegaskan bahwa mereka tidak bisa memenangkan perang tanpa menyerang Rafah, untuk melenyapkan ribuan militan Hamas yang diyakini bersembunyi di sana. Sedangkan Hamas mengatakan pasukannya akan bertempur untuk mempertahankan Rafah.

 

Editor : Muh. Syakir
#Israel Serang Palestina
Berikan Komentar Anda