Minggu, 30 Juni 2024 23:56

Paman dan Ponakan di Sawagi Gowa Saling Lapor, Polsek Bontomarannu Diminta Tempuh RJ

Terlapor H Sabang didampingi kuasa hukumnya memberi keterangan pers di Coffe Beruang, Jalan Beruang, Kota Makassar, Ahad (30/6/2024).
Terlapor H Sabang didampingi kuasa hukumnya memberi keterangan pers di Coffe Beruang, Jalan Beruang, Kota Makassar, Ahad (30/6/2024).

Asbullah menilai, RJ dalam kasus ini layak ditempuh. Alasannya, mereka masih keluarga dekat.

MAKASSAR, PEDOMANMEDIA - Polsek Bontomarannu, Gowa diharapkan bisa menempuh upaya restorative justice (RJ) dalam kasus saling lapor yang melibatkan paman dan keponakan di Dusun Sawagi, Kecamatan Pattalassang. Upaya RJ dinilai sebagai jalan terbaik dalam penyelesaian perkara ini.

Kasus saling lapor ini melibatkan Nurdin dg Nyarrang dan H Sabang dg Talle. Keduanya masih kerabat dekat. Nurdin adalah ponakan H Sabang.

Dalam kasus tersebut, Nurdin melaporkan H Sabang dugaan penganiayaan. H Sabang telah ditetapkan sebagai tersangka oleh Polsek Bontomarannu.

Sebaliknya, H Sabang juga melaporkan Nurdin dengan dugaan pengancaman dan penghinaan. Hanya saja hingga saat ini Nurdin belum ditetapkan sebagai tersangka.

Kuasa hukum H Sabang, Asbullah Thamrin mengungkapkan, kasus ini bermula pada 25 Mei lalu. Saat itu Nurdin mendatangi H Sabang dalam keadaan mabuk.

"Nurdin mempertanyakan salah satu lahan yang telah dipondasi. Tapi H Sabang bilang tidak tahu soal pondasi itu. Akhirnya Nurdin marah dan melontarkan kalimat hinaan ke H Sabang," ujar Asbullah dalam keterangan persnya di Coffe Beruang, Jalan Beruang, Kota Makassar, Ahad (30/6/2024).

Tak hanya menghina H Sabang, Nurdin juga menunjukkan badik yang terselip di pinggangnya. Menurut Asbullah, karena merasa terancam, H Sabang mengambil batu untuk melindungi diri.

"Jadi H Sabang ambil batu karena melihat Nurdin bawa badik. Melihat H Sabang memegang batu, Nurdin juga mengambil batu dan langsung melempar H Sabang," jelasnya.

Lanjut Asbullah, saat melempar H Sabang, Nurdin terpeleset dan jatuh ke selokan. Nurdin mengalami luka lecet.

Melihat Nurdin terjatuh, H Sabang langsung pergi meninggalkannya. Selanjutnya, H Sabang melapor ke Polsek Bontomarannu atas dugaan penghinaan dan pengancaman.

"Tapi anehnya laporan beliau ditolak dengan alasan tak ada saksi di TKP," terang Asbullah.

Tak berselang lama, giliran Nurdin yang melapor. Ia melaporkan H. Sabang atas dugaan penganiayaan. Laporan Nurdin diterima.

Beberapa hari berselang, H Sabang diperiksa dan ditetapkan sebagai tersangka.

Asbullah mengatakan, pemeriksaan H Sabang melanggar SOP. Pasalnya, yang bersangkutan tidak pandai berbahasa Indonesia. Sementara selama pemeriksaan ia tidak didampingi pengacara ataupun keluarga sebagai penterjemah.

"Di sini yang rancu karena sudah jelas beliau ini tidak pandai berbahasa Indonesia, tapi penyidik tidak memanggil keluarga untuk mendampingi. Minimal menterjemahkan keterangannya," jelasnya.

Kata Asbullah banyak pertanyaan penyidik yang tidak dipahami H Sabang. H Sabang hanya menjawab asal-asalan.

"Bagaimana beliau mau menjawab dengan baik. Sementara dia tidak pandai berbahasa Indonesia," terang Asbullah.

Oknum TNI Diduga Halangi RJ

Belakangan, pihak H Sabang mengajukan RJ. Upaya ini direspons penyidik.

Penyidik lalu memediasi agar kasus tersebut diselesaikan secara kekeluargaan. Hanya saja upaya itu terkesan dirintangi oleh salah satu keluarga mereka. Yakni seorang anggota TNI.

"Ada keluarga mereka terkesan menghalangi RJ. Waktu H Sabang datang ke rumah Nurdin untuk berdamai dan menyerahkan uang pengganti pengobatan, justru yang anggota TNI tadi yang menolak berdamai," terang Asbullah.

"Dia bilang nda usah terima uangnya, lanjutkan saja ke pengadilan," tambahnya.

Menurut Asbullah, anggota TNI tadi juga proaktif menemui penyidik Polsek Bontomarannu agar kasus tersebut tidak diselesaikan lewat jalur kekeluargaan.

"Ini kan tidak benar. Harusnya sebagai aparat dia mendorong penyelesaian secara RJ. Bukan justru merintangi. Karenanya kita laporkan ini ke Denpom TNI agar anggota TNI itu diberi teguran," imbuhnya.

Asbullah menilai, RJ dalam kasus ini layak ditempuh. Alasannya, mereka masih keluarga dekat. Kedua, H Sabang sudah berusia lanjut dan ia telah menunjukkan itikad baik untuk berdamai.

Editor : Muh. Syakir
Berikan Komentar Anda
Epaper
Cover Epaper
Populer