Makassar Target Belajar Tatap Muka April, NA: Masih Berisiko
Masih sangat berisiko untuk memutuskan belajar tatap muka sekarang. Pertimbangan risiko penularan harus dilihat.
MAKASSAR, PEDOMANMEDIA - Gubernur Sulsel Nurdin Abdullah mengatakan, pemerintah belum punya target soal pembelajaran tatap muka. Keputusan itu hanya akan diambil jika kasus Corona benar-benar sudah terkendali.
"Tentu kita lihat perkembangan kasus dulu. Kalau belum landai benar nda mungkin dipaksakan. Jadi nda ada prediksi," ujar NA, Selasa (26/1/2021).
Sebelumnya pemerintah memberi rekomendasi dimulainya pembelajaran tatap muka Januari 2021. Namun rencana itu ditunda menyusul naiknya kembali angka kasus Corona di Tanah Air.
Dalam pekan terakhir Desember dan awal Januari 2021, kasus Corona di Sulsel juga mencatat kenaikan di atas rata-rata. Di Indonesia kasus sudah menembua 1 juta.
"Masih sangat berisiko untuk memutuskan belajar tatap muka sekarang. Kita akan mulai jika benar benar sudah aman. Pertimbangan risiko penularan harus dilihat," jelas NA.
Selain itu mutasi baru Corona yang sedang menyerang Eropa juga menjadi kekhawatiran. Di Eropa, Corona dengan varian baru menyebar dengan cepat. Wabah ini bahkan sudah ditemukan di Asia.
Menurut NA, sebelum pembelajaran tatap muka dibuka, harus memenuhi semua pertimbangan keamanan. Aman bagi siswa, pengajar dan lingkungan. Harus juga dipastikan, penerapan protokol kesehatan di sekolah benar benar berjalan sebagaimana mestinya.
Ia menjelaskan bahwa, hal yang harus dipahami bersama adalah upaya dalam memutus mata rantai Covid-19. Pengalaman yang ada, Sulsel berada di urutan ke lima jumlah kasus Covid-19. Bahkan tertinggi di luar Pulau Jawa.
Pemerintah Kota Makassar sebelumnya menyatakan akan melakukan uji coba pembelajaran tatap muka pada April nanti.
"Kita targetkan April bisa dimulai (sekolah). Tentu kita lihat kurva kasus. Semoga melandai dan dua bulan mendatang turun," ujar plt Kepala Dinas Pendidikan Makassar Irwan Bangsawan.
Menurut Irwan, juknis pelaksanaan sekolah tatap muka sudah disosialisasikan. Juknis ini terkait format pembelajaran dan penerapan protokol kesehatan.
Irwan menyebutkan, meski angka pandemi turun pada April nanti, namun sistem pembelajaran tetap mengikuti protokol pencegahan Covid. Di mana prokes di ruang belajar dan setelah pembelajaran akan berlaku dengan ketat.
"Jadi di sekolah itu standar prokes juga tetap dipatuhi nanti meski kasus sudah menurun. Ini memang sudah juknis kenormalan baru," jelasnya.
