Kamis, 28 Januari 2021 08:09

Kabar Buruk! Corona Varian Baru Sudah Menyebar di 70 Negara

Ilustrasi (INT)
Ilustrasi (INT)

WHO melaporkan dalam empat pekan Corona varian baru ini ditemukan di semua benua. Penyebarannya dinilai sangat cepat karena sudah menyentuh 70 negara.

JAKARTA, PEDOMANMEDIA - Badan Kesehatan Dunia (WHO) memperingatkan, ekskalasi penyebaran wabah Corona varian baru sudah menginfeksi lebih dari 70 negara di dunia. Wabah ini diklaim punya prevalensi cepat dibanding Covid-19.

Mutasi baru Corona ini ditemukan pertama kali awal Januari di Inggris. Setelah dilaporkan menjangkiti Eropa, pertengahan Januari ditemukan di sejumlah negara Asia. Temuan ini mengindikasikan kebenaran bahwa virus tersebut menular lebih cepat dari Covid-19.

Corona varian baru ini dilaporkan WHO ditemukan pada beberapa pasien di Asia tengah dan Asia timur. Di Jepang dan Korea Selatan laporan awal disampaikan menjangkiti lebih dari 20 orang hanya dalam empat hari.

Baca Juga

WHO melaporkan dalam empat pekan Corona varian baru ini ditemukan di semua benua. Di Eropa, Asia, Amerika hingga Afrika. Penyebarannya dinilai sangat cepat karena sudah menyentuh 70 negara dalam hitungan empat pekan.

Jenis baru virus Corona ini disebut-sebut 70 persen lebih menular dan menjadi penyebab lonjakan kasus Covid-19 di Inggris. Jenis varian baru virus Corona ini diberi nama 'VUI - 202012/01' karena varian pertama yang diselidiki pada bulan Desember.

Perdana Menteri Inggris Boris Johnson pekan lalu juga mengatakan bahwa hasil studi baru menunjukkan virus ini bisa lebih mematikan. Namun, WHO menegaskan bahwa hasil studi tersebut masih bersifat awal.

"Hasil tersebut masih awal, dan lebih banyak analisis diperlukan untuk lebih menguatkan temuan ini," kata WHO.

WHO juga berbicara terkait varian baru Covid-19 yang berasal dari Afrika Selatan. Virus itu telah menyebar ke 31 negara, delapan lebih dari seminggu yang lalu.

Virus itu dikenal dengan 501Y.V2. Tapi, studi laboratorium telah menemukan bahwa varian, 501Y.V2 "kurang rentan terhadap netralisasi antibodi" dibandingkan varian sebelumnya, kata WHO.

WHO mengatakan perlunya penelitian ulang untuk mengetahui lebih rinci. Tapi, penelitian observasi sementara di Afrika Selatan tidak menunjukkan peningkatan adanya risiko infeksi ulang.

WHO juga mengatakan bahwa sementara studi oleh perusahaan bioteknologi AS Moderna menunjukkan bahwa vaksinnya berpotensi kurang efektif terhadap varian tersebut, "titer penetral tetap di atas tingkat yang diharapkan dapat melindungi".

Lalu, ada juga varian baru lainnya yang ditemukan di Brasil, sekarang ada di delapan negara, naik dari hanya dua minggu lalu.

Varian yang disebut P1 itu telah menimbulkan kekhawatiran serupa bahwa virus tersebut bisa lebih menular atau menyebabkan penyakit yang lebih parah.

Editor : Muh. Syakir
#WHO #Corona Varian Baru #Pandemi #Corona
Berikan Komentar Anda
Epaper
Cover Epaper
Populer