Muh. Syakir : Kamis, 15 Mei 2025 10:42
Hasto Kristiyanto

JAKARTA, PEDOMANMEDIA - Sekretaris Jenderal (Sekjen) PDIP Hasto Kristiyanto sudah empat bulan mendekam di rutan KPK atas kasus perburuan Harun Masiku. Sejauh ini PDIP belum berpikir mencari Sekjen baru.

Ketua Umum (Ketum) PDIP Megawati Soekarnoputri dalam beberapa kesempatan mengungkapkan, Hasto masih tetap Sekjen PDIP. Meski harus menjalani masa tahanan, Mega percaya roda organisasi tak akan terganggu.

Kini, perkara Hasto ini sudah sampai ke meja hijau. KPK mendakwa Hasto menyuap mantan komisioner KPU Wahyu Setiawan Rp 600 juta.

Suap itu diberikan agar Wahyu Setiawan mengurus penetapan pergantian antarwaktu (PAW) anggota DPR periode 2019-2024 Harun Masiku.

Harusnya, Riezky Aprilia lah yang berhak menjadi anggota DPR untuk menggantikan Nazaruddin Kiemas yang wafat karena memiliki suara terbanyak kedua. Tapi Hasto meminta Mahkamah Agung memberikan fatwa dan mengusahakan Harun Masiku yang menggantikan Nazaruddin Kiemas.

Hasto memberi suap itu bersama-sama orang kepercayaannya, Donny Tri Istiqomah dan Saeful Bahri, kemudian juga Harun Masiku. Donny saat ini sudah ditetapkan sebagai tersangka, lalu Saeful Bahri telah divonis bersalah dan Harun Masiku masih menjadi buron.

Selain itu, Hasto juga didakwa merintangi penyidikan kasus dugaan suap dengan tersangka Harun Masiku. Hasto disebut menghalangi KPK menangkap Harun Masiku, yang jadi buron sejak 2020.

Sejak Hasto ditangkap KPK, kursi Sekjen PDIP masih kosong hingga kini.

Wasekjen PDIP Utut Adianto mengatakan penentuan sekjen partai berada di tangan Megawati Soekarnoputri. Utut menyebut Megawati sebagai formatur tunggal dalam penentuan struktur partai.

"Kalau di PDI itu nggak pemilihan (terkait sekjen) misalnya Ibu (Megawati) aklamasi ketua umum, nanti Ibu yang menyusun kabinetnya, Ibu formatur tunggal," kata Utut di kompleks parlemen, Senayan, Jakarta Pusat, Rabu (14/5/2025).

Utut mengatakan hingga kini belum mengetahui nama yang masuk bursa Sekjen PDIP. Utut menyebut untuk saat ini mengurusi hal yang lebih teknis di partai.

"Kan kalau itu kamu yang nanya, saya mana tahu (soal calon sekjen)," ungkapnya.