TATOR, PEDOMANMEDIA - Febronia (53), seorang ibu rumah tangga asal Lembang Saluallo, Kabupaten Tana Toraja sekaligus peserta Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) segmen Penerima Bantuan Iuran Jaminan Kesehatan (PBI JK), tak pernah menyangka bahwa keluhan kesehatannya selama ini ternyata disebabkan oleh batu empedu dan gangguan ginjal.
Ia mengaku sudah lama merasakan nyeri di bagian perut dan mengalami penurunan kondisi tubuh, namun baru pada bulan Februari lalu ia mulai menjalani pemeriksaan secara menyeluruh.
“Awalnya saya pikir ini cuma sakit biasa, perut sering keram dan rasa sakitnya menjalar hingga ke bagian belakang. Sakit ini saya derita sudah sejak lama namun waktu bulan 2 saya mulai menjalani pengobatan rawat jalan saja. Tapi belakangan ini kondisi saya makin sering drop, sampai akhirnya dibawa ke Rumah Sakit Fatima Makale pada hari Senin kemarin. Saat dilakukan pemeriksaan USG, baru ketahuan ternyata saya mengidap penyakit batu empedu,” cerita Febronia saat ditemui di Ruang Perawatan RS Fatima Makale, Kamis (10/07).
Batu empedu sendiri terbentuk akibat ketidakseimbangan zat dalam cairan empedu, yang bisa menyebabkan penyumbatan saluran empedu dan menimbulkan rasa sakit hebat. Dalam kasus Febronia, rasa nyeri ini sering datang tanpa diduga, membuatnya kesulitan menjalani aktivitas sehari-hari.
“Rasa sakitnya seperti ditusuk-tusuk, apalagi setelah makan. Saya juga tidak terlalu memperhatikan pola makan, mungkin itu salah satu penyebabnya,” tambahnya.
Tak hanya itu, Febronia juga menjalani pemeriksaan darah. Namun, hasil tes darah yang dilakukan kemudian juga mengungkapkan adanya masalah pada ginjalnya. Kedua kondisi ini membuatnya harus mendapatkan penanganan lebih serius.
“Waktu darah saya dicek ternyata terdapat gangguan di ginjal saya. Saya sempat kaget karena ternyata selama ini sudah ada masalah dalam tubuh saya, tapi tidak saya sadari,” ujarnya.
Untungnya, sebagai peserta aktif pada segmen PBI JK, Febronia tidak perlu khawatir mengenai biaya pengobatan. Seluruh proses, mulai dari pemeriksaan awal, USG, tes laboratorium, hingga perawatan rawat inap, ditanggung penuh oleh BPJS Kesehatan.
“Saya bersyukur karena selama ini saya sudah terlindungi oleh Program JKN. Kalau tidak ada BPJS Kesehatan, saya pasti sudah bingung harus cari uang ke mana. Biaya untuk berobat saya itu pasti sangatlah mahal. Berkat program ini saya bisa fokus sembuh tanpa pikir biaya,” tuturnya.
Febronia pun mengaku semakin sadar akan pentingnya menjaga pola hidup sehat. Ia mulai mengurangi konsumsi makanan berlemak, memperbanyak minum air putih, dan berusaha tidak lagi menahan buang air kecil agar kesehatan ginjalnya tidak semakin memburuk.
“Dulu saya tidak terlalu perhatikan makanan. Sekarang saya lebih berhati-hati. Makan sayur lebih banyak, dan tidak lagi menahan keinginan buang air kecil,” katanya.
Bagi Febronia, Program JKN adalah bentuk gotong royong sesama anak bangsa yang nyata dirasakan manfaatnya saat sakit datang. Pengalaman ini membuatnya ingin mengajak masyarakat untuk memanfaatkan Program JKN sebagai perlindungan kesehatan. Ia merasa JKN bukan hanya sekadar program jaminan, tetapi benar-benar memberikan rasa aman dan ketenangan di saat paling dibutuhkan.
“Berkat Program JKN, saya bisa menjalani pengobatan tanpa beban finansial yang besar. Saya harap makin banyak orang sadar akan pentingnya memiliki jaminan kesehatan. Apalagi untuk yang kurang mampu seperti saya, Program JKN ini sangat menolong di saat sakit,dan tentu hal yang paling penting selalu jaga keaktifan kepesertaan JKN kita,” pungkasnya.
BERITA TERKAIT
-
BPJS Kesehatan-Unhas Kampanyekan Hidup Sehat Melalui Fun Run 5K
-
Permudah Akses Layanan JKN, BPJS Keliling Hadir di Pasar Baru Sangalla
-
JKN Jadi Andalan Sarafina, Biaya Pengobatan Tak Lagi Jadi Masalah
-
Rostika Bersyukur, Operasi Kuret hingga Usus Buntu Anak Ditanggung JKN
-
BPJS Kesehatan-Dinkes Tator Dorong Peningkatan Mutu Layanan melalui Monev KBK