Muh. Syakir : Selasa, 11 November 2025 15:57
Guslinda Alpanansari (33)

TATOR, PEDOMANMEDIA - Prinsip gotong royong yang menjadi landasan utama Program Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) telah terbukti membantu jutaan rakyat Indonesia.

Peserta yang sehat membantu peserta yang sedang sakit, dan peserta mampu membantu peserta yang kurang mampu. Prinsip ini menjadi fondasi utama dalam mewujudkan akses pelayanan kesehatan yang adil dan merata bagi seluruh masyarakat Indonesia.

Manfaat dari semangat gotong royong inilah yang dirasakan juga oleh Guslinda Alpanansari (33) ketika buah hatinya, Rafani (6), harus menjalani rawat inap di Rumah Sakit Fatima Makale karena demam. Wanita yang akrab disapa Linda ini mengaku bahwa anaknya beberapa hari sebelum dibawa ke rumah sakit mengalami demam tinggi hingga muntah-muntah.

”Sebelum masuk ke rumah sakit itu demamnya sangat tinggi dan badannya lemas karena muntah-muntah terus tidak mau makan. Saya pun bawa Rafani berobat di dr. Zadrak dan diresepkan obat. Namun, demamnya tak kunjung turun jadi saya bawa Rafani ke RS Fatima Makale,” cerita Linda saat ditemui di ruang perawatan, Senin (20/10).

Selama tiga malam dirawat di rumah sakit, Rafani mendapatkan perawatan intensif dari tim medis. Ia dipasangi infus, diberi obat penurun panas, serta dilakukan pemeriksaan lanjutan. Perlahan, kondisinya kini mulai menunjukkan kemajuan.

“Puji Tuhan, sekarang demamnya sudah turun dan muntahnya juga sudah jarang. Nafsu makannya mulai kembali, sudah bisa makan bubur dan minum susu sedikit-sedikit,” ungkapnya.

Sebagai peserta segmen Penerima Bantuan Iuran Jaminan Kesehatan (PBI JK), Linda tidak perlu mengeluarkan biaya sedikit pun selama proses pengobatan dan perawatan anaknya. Semua pelayanan, mulai dari pemeriksaan, infus, obat-obatan, hingga rawat inap, sepenuhnya ditanggung oleh BPJS Kesehatan.

“Saya bersyukur sekali karena semuanya ditanggung BPJS Kesehatan. Dari pertama masuk sampai sekarang, saya tidak keluar biaya sepeser pun. Kalau harus bayar sendiri, pasti berat karena biaya rumah sakit tidak sedikit,” ujarnya.

Ila menceritakan pengalamannya selama menjalani perawatan, hanya berbekal JKN, langsung ditangani dengan cepat oleh pihak rumah sakit.

“Sekarang kalau mau berobat sudah mudah terutama untuk peserta JKN. Waktu bawa anak ke UGD saya cuman tunjukkan kartu JKN sudah bisa dilayani, kita tidak perlu lagi membawa berkas lainnya. Bahkan saya dengar, kalau tidak punya kartunya bisa tunjukkan Kartu Keluarga/KTP saja. Jadi lebih bagus dan tidak repot lagi,” tambah.

Selain kemudahan administrasi yang didapatkan, ia juga memuji pelayanan di Rumah Sakit Fatima yang menurutnya sangat baik dan cepat. Ia merasa tidak ada perbedaan perlakuan antara pasien umum dan peserta JKN.

“Pelayanan yang diberikan rumah sakit pun bagus. Dokter dan perawatnya melayani dengan baik, ruang perawatannya juga bersih dan fasilitasnya lengkap. Tidak terdapat perbedaan pelayanan antara pasien yang pakai JKN dan yang berobat secara umum,” tambahnya.

Pengalaman ini membuat Linda semakin yakin bahwa Program JKN benar-benar menjadi penolong bagi masyarakat dan selalu mengupayakan dalam memberikan pelayanan yang terbaik, sehingga peserta JKN merasa sangat puas ketika akan mengakses layanan kesehatan. Ia berharap agar program ini terus berlanjut agar semakin banyak masyarakat kecil yang bisa mendapatkan manfaatnya.

“BPJS Kesehatan ini sangat membantu orang seperti kami. Tidak semua orang mampu bayar biaya rumah sakit, apalagi kalau harus dirawat inap. Jadi saya bersyukur sekali pemerintah sudah bantu lewat program ini. Semoga JKN terus ada dan makin banyak orang yang tertolong,” harapnya.