Aliansi Masyarakat Adat Toraja Tolak Proyek Geothermal di Bittuang
Dia menambahkan, penolakan masyarakat Toraja terhadap proyek geothermal di Bittuang memang sudah cukup kuat dan berlanjut sejak 2021.
TATOR, PEDOMANMEDIA- Proyek Geothermal di Kecamatan Bittuang, Kabupaten Tana Toraja menuai penolakan keras dari Aliansi Masyarakat adat Toraja. Mereka khawatir proyek ini akan mengancam ruang hidup masyarakat adat dan merusak lingkungan.
Hal ini dikatakan koordinator Aliansi Masyarakat Adat Toraja, Wirahadi Simak melalui siaran pers, Minggu, 30 November 2025.
"Energi terbarukan memang penting, tapi menghormati hak masyarakat lokal juga krusial," kata Wirahadi.
"Proyek geothermal di Bittuang bisa berisiko menghancurkan ruang hidup dan hak masyarakat adat. Ini soal keseimbangan antara pembangunan energi terbarukan dan lingkungan serta hak masyarakat, " tegas Wirahadi.
Diketahui, proyek ini adalah pemanfaatan energi panas bumi dari dalam perut bumi untuk berbagai keperluan, seperti pembangkitan listrik, pemanasan bangunan, atau pemanas air.
Wirahadi mengatakan, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) telah membuka penawaran ulang Wilayah Penugasan Survei dan Eksplorasi Panas Bumi (WPSEP) di Bittuang, dengan luas area sekitar 12.979 hektar.
Dalam surat tersebut WPSPE yang ditawarkan oleh Kementerian ESDM adalah seluas 12. 979 Ha, yang artinya 12.979 Ha wilayah kecamatan Bittuang akan dijadikan sebagai wilayah proyek pembangunan energi panas bumi atau geothermal.
"Ini berarti proyek geothermal berpotensi dikembangkan di wilayah tersebut untuk pembangkitan listrik dan pemanfaatan energi panas bumi lainnya. Namun hal itu kami tolak" tegas Wirahadi.
Dia menambahkan, penolakan masyarakat Toraja terhadap proyek geothermal di Bittuang memang sudah cukup kuat dan berlanjut sejak 2021. Demonstrasi pun dilakukan warga menunjukkan betapa seriusnya mereka ingin menjaga lingkungan dan ruang hidup adat.
"Penting sekali pemerintah mendengarkan aspirasi masyarakat lokal sebelum melanjutkannya. Kami menilai proyek ini merupakan ajang mengundang bencana menggali kubur sendiri dN hanya mementingkan pemilik modal daripada masyarakat lokal" terang Wirahadi.
