Usai China-Malaysia, Giliran Thailand Diberi Izin Iran Lintasi Selat Hormuz
Pengiriman komoditas melalui Selat Hormuz, menurut platform pelacakan Kpler, dilaporkan anjlok 95 persen antara 1 Maret hingga 26 Maret setelah dimulainya perang.
TEHERAN, PEDOMANMEDIA - Iran akhirnya mengizinkan kapal-kapal tanker minyak milik Thahiland untuk melintasi Selat Hormuz. Thailand telah mencapai kesepakatan dengan Teheran setelah hampir dua pekan kapal mereka tertahan.
Sebelumnya kapal milik China, Rusia, Pakistan, Irak, India hingga Malaysia telah diizinkan melintas. Selat Hormuz, yang merupakan jalur perairan strategis untuk pasokan energi global, terdampak oleh perang berkelanjutan antara Iran melawan Amerika Serikat (AS) dan Israel yang berlangsung sejak akhir Februari lalu.
Aktivitas perlintasan di Selat Hormuz telah secara efektif dibatasi sejak awal Maret. Hal tersebut memicu gangguan global yang meningkatkan biaya pengiriman dan mendorong harga minyak global lebih tinggi.
Kesepakatan antara Bangkok dan Teheran ini, seperti dilansir AFP, Sabtu (28/3), diumumkan oleh Perdana Menteri (PM) Thailand Anutin Charnvirakul dalam konferensi pers pada Sabtu (28/3) waktu setempat.
"Sebuah kesepakatan telah tercapai untuk memungkinkan kapal-kapal tanker minyak Thailand melintas dengan aman melalui Selat Hormuz," kata Anutin, sembari menambahkan bahwa perkembangan ini akan mengurangi kekhawatiran tentang impor bahan bakar.
"Dengan adanya kesepakatan ini, ada keyakinan yang lebih besar bahwa gangguan seperti yang terjadi pada awal Maret tidak akan terulang kembali," sebutnya.
Menurut Badan Informasi Energi AS, lebih dari 80 persen minyak mentah dan gas alam cair (LNG) yang melintasi Selat Hormuz dibawa ke kawasan Asia. Sebagian besar negara Asia Tenggara menanggung dampak kesulitan pasokan bahan bakar dan antrean panjang di pom bensin di Thailand semakin sering terjadi.
"Pemerintah akan terus beradaptasi dengan situasi yang berkembang dan menyesuaikan langkah-langkah untuk meminimalkan dampak terhadap masyarakat," ucap Anutin dalam konferensi pers.
Awal bulan ini, sebuah kapal jenis bulk carrier milik Thailand yang berlayar di jalur perairan strategis itu diserang dan tiga awak kapal dilaporkan hilang.
Pengiriman komoditas melalui Selat Hormuz, menurut platform pelacakan Kpler, dilaporkan anjlok 95 persen antara 1 Maret hingga 26 Maret setelah dimulainya perang.
Garda Revolusi Iran mengatakan pada Jumat (27/3) bahwa pasukan mereka telah memaksa mundur tiga kapal yang mencoba melintasi Selat Hormuz. Teheran menegaskan bahwa Selat Hormuz ditutup untuk kapal-kapal yang berlayar ke dan dari pelabuhan-pelabuhan milik "musuh" Iran.
Laporan badan keamanan maritim Angkatan Laut Inggris, UKMTO, menyebut bahwa sedikitnya 24 kapal komersial, termasuk 11 kapal tanker, telah diserang atau dilaporkan mengalami insiden di perairan Teluk, Selat Hormuz, atau Teluk Oman sepanjang bulan ini.
Daftar Negara yang Kapalnya Diizinkan Melintas Selat Hormuz
Perdana Menteri Anwar Ibrahim mengatakan sebuah kapal tanker Malaysia telah diberi izin oleh pemerintah Iran untuk melintasi Selat Hormuz. India, Irak, China, Pakistan juga diizinkan melintas oleh Iran.
"Kini kami sedang dalam proses melepaskan kapal tanker minyak Malaysia beserta para pekerjanya agar mereka dapat meneruskan perjalanan pulang," ujar Anwar dalam pidato khusus yang disiarkan secara langsung di stasiun televisi nasional, Kamis (26/03), sebagaimana dilansir kantor berita Bernama.
Dalam pidato itu, Anwar menyampaikan ucapan terima kasih kepada Presiden Iran, Masoud Pezeshkian, atas izin yang diberikan kepada kapal tanker minyak Malaysia untuk melintasi Selat Hormuz.
Menteri Luar Negeri Abbas Araghchi sebelumnya menegaskan bahwa Selat Hormuz tidak sepenuhnya ditutup. Hal itu disampaikannya dalam siaran stasiun televisi pemerintah Iran.
"Banyak pemilik kapal, atau negara pemilik kapal-kapal tersebut, telah menghubungi kami dan meminta agar kami memastikan keselamatan pelayaran mereka melalui selat," ujar Araghchi, seperti dikutip kantor berita Reuters.
"Untuk sejumlah negara yang kami anggap bersahabat, atau dalam kasus tertentu yang kami nilai perlu, angkatan bersenjata kami telah memberikan pengawalan secara aman," tambahnya.
"Seperti yang Anda lihat dalam pemberitaan: China, Rusia, Pakistan, Irak, dan India. Dua kapal India melintas beberapa malam lalu, begitu pula dari negara lain, bahkan Bangladesh, saya kira. Negara-negara ini berbicara dan berkoordinasi dengan kami, dan hal ini akan terus berlanjut di masa depan, bahkan setelah perang berakhir," lanjutnya.
Araghchi juga menyatakan bahwa kapal-kapal yang terkait dengan negara-negara yang dianggap sebagai musuh atau pihak yang terlibat dalam konflik saat ini tidak akan diizinkan melintas.
Ia mengatakan bahwa kapal dari Amerika Serikat, Israel, dan sejumlah negara Teluk yang berperan dalam krisis yang berlangsung tidak akan diberi izin transit.
"Kami berada dalam keadaan perang. Kawasan ini adalah zona perang, dan tidak ada alasan untuk mengizinkan kapal-kapal milik musuh dan sekutu mereka melintas. Namun selat tetap terbuka bagi pihak lainnya," ujarnya pada Rabu (25/03
