Muh. Syakir : Minggu, 07 Juni 2026 11:20
Aksi plogging atau jalan sehat sambil memungut dan memilah sampah digelar Pemkot Makassar, kemarin.

MAKASSAR, PEDOMANMEDIA — Aksi plogging atau jalan sehat sambil memungut dan memilah sampah digelar Pemkot Makassar, kemarin. Aksi ini sebagai rangkaian memperingati Hari Lingkungan Hidup (HLH) Sedunia 2026.

Aksi kebersihan ini dimulai dari halaman Kantor Balai Kota Makassar dan menempuh rute sekitar satu kilometer menuju Jalan Nusantara. Sepanjang perjalanan, peserta secara aktif memungut sampah yang ditemukan di sepanjang jalur yang dilalui, kemudian mengelompokkannya berdasarkan jenis sampah.

Kegiatan tersebut dipimpin langsung oleh Wali Kota Makassar, Munafri Arifuddin, didampingi Ketua TP PKK Kota Makassar Melinda Aksa, Wakil Wali Kota Makassar Aliyah Mustika Ilham, Sekretaris Daerah Kota Makassar Andi Zulkifli Nanda, Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Makassar Helmy Budiman, serta diikuti jajaran Organisasi Perangkat Daerah (OPD), ASN, tenaga kebersihan, komunitas lingkungan, dan berbagai elemen masyarakat.

Wali Kota Makassar, Munafri Arifuddin, menegaskan bahwa upaya menjaga kebersihan dan kelestarian lingkungan harus dimulai dari lingkup terkecil, yakni diri sendiri dan keluarga.

“Hari ini, kita hadir memperingati hari lingkungan sedunia, kita terus menjaga kebersihan, perubahan besar dalam menjaga bumi tidak akan terwujud tanpa adanya kesadaran dan kebiasaan baik yang dibangun dari rumah tangga,” kata Munafri.

Hal tersebut disampaikan Munafri saat memimpin kegiatan plogging atau jalan sehat sambil memungut dan memilah sampah dalam rangka memperingati Hari Lingkungan Hidup Sedunia Tahun 2026 di Kota Makassar.

Munafri mengatakan, rangkaian peringatan Hari Lingkungan Hidup tahun ini tidak hanya sebatas kegiatan seremonial, tetapi juga menjadi momentum untuk menggerakkan partisipasi seluruh elemen masyarakat dalam aksi nyata pelestarian lingkungan.

“Menjaga lingkungan harus dimulai dari diri sendiri dan keluarga. Jika kesadaran itu tumbuh dari rumah, maka akan terbentuk budaya peduli lingkungan yang kuat di tengah masyarakat,” ujarnya.

Dalam pelaksanaannya, setiap SKPD diberikan tanggung jawab untuk memungut sekaligus memilah sampah berdasarkan kategorinya. Langkah ini dilakukan sebagai bentuk edukasi langsung mengenai pentingnya pemisahan sampah untuk mempermudah proses pengelolaan dan daur ulang.

Kegiatan yang menggabungkan aktivitas olahraga dengan aksi peduli lingkungan tersebut menjadi salah satu bentuk kampanye nyata untuk meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap pentingnya menjaga kebersihan lingkungan dan mengurangi pencemaran akibat sampah.

Selain menyehatkan tubuh, plogging juga menjadi sarana edukasi tentang pentingnya pengelolaan sampah sejak dari sumbernya melalui pemilahan yang benar.

Munafri menilai keberhasilan pengelolaan lingkungan tidak hanya bergantung pada program pemerintah, tetapi juga ditentukan oleh kekuatan komunitas di tingkat bawah yang konsisten membangun budaya hidup bersih.

“Nah, inilah menurut saya salah satu contoh baik yang harus terus kita perhatikan untuk membangun komunitas yang bersih di wilayah kita masing-masing,” tambahnya.

Hasil kegiatan plogging tersebut menunjukkan masih tingginya volume sampah yang ditemukan di ruang publik, berdasarkan hasil pemilahan dan penimbangan, sampah organik yang berhasil dikumpulkan mencapai 35,12 kilogram.

Kemudian, sampah anorganik sebanyak 30,34 kilogram, sampah residu 69,43 kilogram, serta sampah bahan berbahaya dan beracun (B3) sebanyak 4,10 kilogram.

Data tersebut menjadi gambaran bahwa persoalan sampah masih memerlukan perhatian serius dan keterlibatan seluruh lapisan masyarakat.