Muh. Syakir : Kamis, 11 Juni 2026 09:55
Mahmud Bukhari

TATOR, PEDOMANMEDIA – Pengalaman menjalani perawatan di rumah sakit menjadi pelajaran berharga bagi Mahmud Bukhari (56), warga Makale, Kabupaten Tana Toraja. Pengalaman tersebut mendorongnya untuk memastikan dirinya dan seluruh anggota keluarganya memiliki perlindungan jaminan kesehatan melalui Program Jaminan Kesehatan Nasional (JKN).

Mahmud mengaku pernah menjalani rawat inap selama tiga hari di Rumah Sakit Fatima akibat gangguan asam lambung yang cukup serius. Pengalaman tersebut membuatnya semakin memahami pentingnya memiliki jaminan kesehatan sebagai bentuk perlindungan dari risiko biaya pelayanan kesehatan yang tidak terduga.

Saat ditemui Tim Jamkesnews di Kantor BPJS Kesehatan Cabang Makale, Mahmud tengah mengurus pendaftaran kepesertaan JKN bagi dirinya dan keluarganya melalui segmen Pekerja Bukan Penerima Upah (PBPU). Sebelumnya, ia tercatat sebagai peserta segmen Penerima Bantuan Iuran Jaminan Kesehatan (PBI JK), namun status kepesertaannya sudah tidak aktif.

“Sebelumnya saya terdaftar sebagai peserta PBI JK, tetapi statusnya sudah tidak aktif. Karena itu, saya memutuskan untuk mendaftar sebagai peserta mandiri dan datang langsung ke kantor BPJS Kesehatan untuk mengurus kepesertaan,” ungkap Mahmud, Selasa (26/05).

Menurut Mahmud, meskipun dirinya dan keluarga belum kembali memanfaatkan layanan JKN setelah pengalaman rawat inap tersebut, memiliki jaminan kesehatan tetap menjadi kebutuhan penting. Ia menyadari bahwa kondisi kesehatan dapat berubah sewaktu-waktu tanpa dapat diprediksi.

“Saya sadar bahwa sakit bisa datang kapan saja. Saat dirawat karena gangguan asam lambung, saya benar-benar merasakan betapa pentingnya memiliki jaminan kesehatan. Walaupun sekarang kondisi saya dan keluarga sehat, saya tidak ingin lengah,” ujarnya.

Pengalaman tersebut membuat Mahmud semakin yakin bahwa kepesertaan JKN merupakan bentuk kesiapsiagaan yang perlu dimiliki setiap orang. Baginya, perlindungan kesehatan harus dipersiapkan sebelum risiko kesehatan terjadi, bukan setelah seseorang jatuh sakit.

“Kalau menunggu sakit baru mendaftar, menurut saya sudah terlambat. Lebih baik dipersiapkan dari sekarang karena kita tidak pernah tahu apa yang akan terjadi di masa depan. Ini juga untuk melindungi anak dan istri saya, bukan hanya untuk diri saya sendiri,” katanya.

Selain memberikan perlindungan kesehatan bagi keluarga, Mahmud juga memahami prinsip gotong royong yang menjadi dasar penyelenggaraan Program JKN. Ia menilai bahwa iuran yang dibayarkan peserta setiap bulan tidak hanya memberikan manfaat bagi diri sendiri, tetapi juga membantu peserta lain yang sedang membutuhkan pelayanan kesehatan.

Menurutnya, semangat saling membantu melalui Program JKN menjadi salah satu nilai penting yang perlu dipahami oleh seluruh masyarakat. Dengan menjadi peserta aktif, masyarakat turut berkontribusi dalam menjaga keberlangsungan program yang memberikan manfaat bagi jutaan penduduk Indonesia.

Mahmud berharap semakin banyak masyarakat yang memiliki kesadaran untuk mendaftarkan diri dan menjaga status kepesertaan JKN tetap aktif sebelum mengalami masalah kesehatan. Ia meyakini bahwa perlindungan kesehatan merupakan kebutuhan penting yang harus dipersiapkan sejak dini.

“Jangan menunggu sakit terlebih dahulu baru merasa membutuhkan jaminan kesehatan. Saya sudah pernah merasakan dirawat inap sehingga memahami pentingnya perlindungan kesehatan. Semoga semakin banyak masyarakat yang sadar untuk menjaga kepesertaan JKN agar tetap aktif,” tutup Mahmud.