Muh. Syakir : Senin, 15 Juni 2026 14:30

JAKARTA, PEDOMANMEDIA - Utang luar negeri Indonesia menyentuh level US$ 439,8 miliar atau sekitar Rp7.768 triliun (asumsi kurs Rp 17.664) pada April 2026. Angka tersebut naik 1,9% (yoy), lebih tinggi dibandingkan dengan pertumbuhan pada Maret 2026 sebesar 1,0% (yoy).

Kepala Departemen Komunikasi BI, Ramdan Denny Prakoso, mengatakan posisi ini didorong oleh pertumbuhan ULN sektor publik di tengah kontraksi pada sektor swasta yang masih berlanjut. Sementara posisi ULN pemerintah sendiri disebut tumbuh lebih rendah.

"Posisi ULN pemerintah pada April 2026 sebesar US$ 216,4 miliar, atau secara tahunan tumbuh sebesar 3,7% (yoy), lebih rendah dibandingkan dengan pertumbuhan pada Maret 2026 sebesar 3,8% (yoy)," tulis Denny dalam keterangan tertulisnya, Senin (15/6/2026).

Ia menjelaskan, posisi ULN pemerintah didorong oleh melambatnya pertumbuhan pinjaman luar negeri. Di sisi lain, pasar Surat Berharga Negara (SBN) juga mencatatkan net inflow atau arus masuk modal asing yang dianggap mencerminkan kepercayaan investor terhadap ekonomi nasional.

Denny menjelaskan, ULN ini diarahkan untuk mendukung kredit di sektor produktif dengan memperhatikan aspek sustainabilitas pengelolaan ULN. Adapun rinciannya, untuk mendukung sektor jasa kesehatan dan kegiatan sosial (22,0% dari total ULN pemerintah); administrasi pemerintah, pertahanan, dan jaminan sosial wajib (20,5%); jasa pendidikan (16,2%); konstruksi (11,5%); serta transportasi dan pergudangan (8,5%).

"Posisi ULN pemerintah tersebut didominasi oleh utang jangka panjang dengan pangsa mencapai 99,99% dari total ULN pemerintah," jelasnya.

Kemudian untuk posisi ULN swasta tercatat sebesar US$ 193,2 miliar pada April 2026. Angka tersebut mengalami kontraksi pertumbuhan sebesar 0,7% (yoy), lebih rendah dibandingkan kontraksi bulan sebelumnya sebesar 1,4% (yoy).

Hal ini didorong oleh ULN kelompok peminjam lembaga keuangan atau financial corporations yang secara tahunan terkontraksi sebesar 5,0% (yoy), lebih rendah dibandingkan dengan kontraksi pada Maret 2026 sebesar 6,3% (yoy). Kemudian berdasarkan sektor ekonomi, ULN swasta terbesar berasal dari sektor industri pengolahan; jasa keuangan dan asuransi; pengadaan listrik dan gas; serta pertambangan dan penggalian, dengan pangsa mencapai 79,6% dari total ULN swasta.

"ULN swasta tetap didominasi oleh utang jangka panjang dengan pangsa mencapai 75,8% terhadap total ULN swasta," terangnya.

Denny menambahkan, struktur ULN Indonesia tetap sehat didukung oleh penerapan prinsip kehati-hatian dalam pengelolaannya. Hal ini tercermin dari rasio ULN Indonesia terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) yang stabil sebesar 29,6% pada April 2026 dan didominasi oleh ULN jangka panjang dengan pangsa mencapai 84,5% dari total ULN.

"Dalam rangka menjaga agar struktur ULN tetap sehat, Bank Indonesia dan Pemerintah terus memperkuat koordinasi dalam pemantauan perkembangan ULN. Indonesia akan terus mengoptimalkan peran ULN untuk menopang pembiayaan pembangunan dan mendorong pertumbuhan ekonomi nasional yang berkelanjutan," pungkasnya.