MAKASSAR, PEDOMANMEDIA - Pemerintah Kota Makassar, Sulawesi Selatan, menyiapkan Pulau Lanjukang sebagai destinasi wisata unggulan. Pulau Lanjukang bakal jadi objek konservasi laut dan pengembangan pariwisata bahari.
Pengembangan kawasan wisata tersebut akan dilakukan secara terbatas dengan mempertimbangkan keseimbangan antara kepentingan ekonomi, kelestarian ekologi, dan kehidupan sosial masyarakat setempat.
Kepala Dinas Pariwisata Kota Makassar Achmad Hendra Najamuddin mengatakan pemerintah berencana membangun sejumlah fasilitas pendukung wisata di Pulau Lanjukang dengan tetap memperhatikan prinsip konservasi.
Menurutnya, pengembangan Pulau Lanjukang tidak dapat dilakukan menggunakan pendekatan pariwisata massal karena kawasan tersebut memiliki ekosistem laut yang perlu dilindungi.
Pemerintah juga mempertimbangkan penerapan sistem registrasi wisatawan untuk mengendalikan jumlah pengunjung sesuai dengan daya dukung lingkungan pulau.
Pulau Lanjukang merupakan salah satu pulau terluar Kota Makassar yang memiliki potensi wisata bahari berupa hamparan pasir putih, panorama laut, dan lingkungan alam yang relatif belum banyak tersentuh aktivitas wisata massal.
Pulau tersebut berada sekitar 45 kilometer dari Kota Makassar dan dapat dijangkau menggunakan perahu kayu atau kapal berbahan serat kaca dengan waktu perjalanan sekitar dua hingga tiga jam.
Wisatawan yang ingin berkunjung dapat menyewa kapal atau perahu nelayan dengan biaya berkisar Rp1,7 juta hingga Rp2,5 juta untuk perjalanan pulang pergi.
Selain menggunakan kapal sewaan, pengunjung dapat memilih paket wisata yang ditawarkan Marine Buddies Makassar dengan tarif sekitar Rp250 ribu hingga Rp350 ribu per orang untuk perjalanan pulang pergi.
Paket wisata tersebut memadukan kegiatan rekreasi bahari dengan edukasi mengenai lingkungan dan konservasi laut.
Marine Buddies Makassar merupakan kelompok yang dikelola generasi muda dan bersinergi dengan organisasi konservasi World Wide Fund (WWF).
Koordinator Marine Buddies Makassar Junaedi Jabbara menilai Pulau Lanjukang memiliki peluang besar untuk dikembangkan sebagai destinasi wisata bahari karena keindahan alamnya masih relatif terjaga.
Namun, ia mengingatkan bahwa pengembangan wisata harus memperhatikan keseimbangan tiga aspek utama, yakni ekologi, ekonomi, dan sosial
Upaya menjaga kelestarian laut di Pulau Lanjukang telah dilakukan masyarakat nelayan melalui penerapan sistem konservasi buka tutup kawasan penangkapan ikan.
Direktur Eksekutif Yayasan Konservasi Laut (YKL) Indonesia Nirwan Dessibali menjelaskan bahwa praktik tersebut diterapkan oleh masyarakat Pulau Lanjukang dan Pulau Langkai.
Dalam sistem tersebut, nelayan menutup kawasan konservasi dari aktivitas penangkapan hasil laut selama tiga bulan.
Setelah masa penutupan berakhir, masyarakat diperbolehkan kembali menangkap gurita dan ikan di kawasan yang telah ditentukan selama tiga bulan berikutnya.
Praktik konservasi tersebut telah berjalan sejak Juli 2022 berdasarkan kesepakatan masyarakat nelayan dari kedua pulau melalui Forum Pasibuntuluki.
Penerapan sistem buka tutup menjadi bagian dari upaya masyarakat dalam menjaga keberlanjutan sumber daya laut yang menjadi sumber penghidupan nelayan.
Nirwan mengingatkan bahwa pengembangan wisata Pulau Lanjukang tidak boleh hanya mengejar keuntungan ekonomi tanpa memperhatikan kondisi lingkungan dan kehidupan sosial masyarakat.
Menurutnya, keindahan pasir putih dan panorama alam Pulau Lanjukang perlu dipertahankan agar kegiatan wisata tidak mengganggu keberlanjutan ekosistem laut.