Muh. Syakir : Selasa, 20 Oktober 2026 21:24

JAKARTA, PEDOMANMEDIA - Indopol Survey (Indonesia Political Survey & Consulting) merilis hasil survei terbaru terkait kinerja kabinet 2 tahun pemerintahan Presiden Prabowo Subianto. Hasilnya, Menteri Pertanian Amran Sulaiman menjadi menteri dengan kinerja teratas.

Sementara, Menteri Komunikasi dan Digital (Menkomdigi) Meutya Hafid sebagai menteri perempuan paling menonjol.

Berdasarkan hasil survei pemetaan persepsi yang dirilis INDOPOL pada 19 Oktober 2026 ini, Meutya memperoleh penilaian positif, termasuk sebagai menteri perempuan paling menonjol dengan raihan 29,6 persen suara responden.

"Meutya unggul cukup jauh dibandingkan menteri perempuan lainnya seperti Arifatul Choiri Fauzi, Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, dengan 7,6%, disusul Widiyanti Putri Wardhana, Menteri Pariwisata, sebesar 6,6%, serta Rini Widyantini, Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi, sebesar 5,3%," demikian keterangan Indopol, dikutip Selasa (20/10).

"Sebagai Menteri Komunikasi dan Digital, Meutya Hafid juga menjadi figur yang berkaitan langsung dengan agenda pemerintah dalam memperkuat perlindungan anak di ruang digital," sambungnya.

Dalam keterangannya Indopol menyoroti salah satu kebijakan yang menjadi perhatian adalah penerapan pembatasan akses bagi anak terhadap platform digital berisiko tinggi melalui Peraturan Pemerintah Nomor 17 Tahun 2025 tentang Tata Kelola Penyelenggaraan Sistem Elektronik dalam Pelindungan Anak atau PP TUNAS, beserta aturan pelaksanaannya.

"Kebijakan tersebut diarahkan untuk memperkuat perlindungan anak dari risiko ruang digital, termasuk paparan konten berbahaya, perundungan siber, penipuan daring, dan berbagai bentuk eksploitasi digital. Pelaksanaannya juga menuntut tanggung jawab penyelenggara platform, pengawasan pemerintah, serta keterlibatan orang tua dalam mendampingi anak menggunakan teknologi," ujarnya.

Dalam konteks evaluasi pemerintahan, kebijakan perlindungan anak di ruang digital merupakan salah satu isu yang relevan karena mempertemukan kepentingan perlindungan generasi muda, perkembangan teknologi, dan tanggung jawab negara. Keberhasilan kebijakan tidak hanya ditentukan oleh penerbitan regulasi, tetapi juga oleh efektivitas pengawasan, kepatuhan platform digital, dan pemahaman masyarakat terhadap aturan yang berlaku.

"Meski demikian, pengenalan terhadap kebijakan tersebut perlu dibedakan dari tingkat pengenalan terhadap figur menteri. Tanpa pengukuran khusus, belum dapat disimpulkan bahwa kebijakan pembatasan akses digital anak merupakan faktor yang menentukan posisi Meutya Hafid dalam kategori menteri perempuan paling dikenal," katanya.

Persepsi Kinerja Menteri dan Popularitas

Dalam kategori menteri dengan persepsi kinerja terbaik, Andi Amran Sulaiman, Menteri Pertanian, menempati urutan pertama dengan 34,2%. Posisi kedua ditempati Agus Harimurti Yudhoyono (AHY), Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan, dengan 11,7%, diikuti Erick Thohir, Menteri Pemuda dan Olahraga, sebesar 9,2%. Selanjutnya, Bahlil Lahadalia, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral, berada di urutan keempat dengan 6,7%, sementara Meutya Viada Hafid, Menteri Komunikasi dan Digital, menempati urutan kelima dengan 2,3%.

Sementara itu, dalam kategori menteri atau pejabat negara paling dikenal, Bahlil Lahadalia berada di posisi pertama sebesar 23,3%, disusul Tedy Indra Wijaya, Sekretaris Kabinet (20,5%); Erick Thohir (17,9%); dan AHY (14,1%).

"Pemetaan ini menunjukkan bahwa persepsi kinerja dan popularitas merupakan dua dimensi yang berbeda. Tingkat pengenalan menggambarkan sejauh mana figur hadir dalam ingatan dan perhatian masyarakat, sedangkan persepsi kinerja berkaitan dengan penilaian terhadap pelaksanaan tugas dan kepemimpinan. Oleh karena itu, kedua kategori perlu dibaca secara proporsional dan tidak dapat dipertukarkan sebagai ukuran keberhasilan yang sama," katanya.

Dalam kategori menteri paling komunikatif, Prasetyo Hadi, Menteri Sekretaris Negara, menempati urutan pertama, diikuti Meutya Hafid, Menteri Komunikasi dan Digital; Andi Amran Sulaiman, Menteri Pertanian; serta Tedy Indra Wijaya, Sekretaris Kabinet. Adapun dalam kategori pejabat negara paling tegas, Tedy Indra Wijaya berada di posisi pertama, disusul AHY, Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan; Andi Amran Sulaiman; dan Tito Karnavian, Menteri Dalam Negeri.

"Kedua kategori tersebut menggambarkan dimensi persepsi yang berbeda dalam kepemimpinan pemerintahan. Komunikasi berkaitan dengan kemampuan menjelaskan kebijakan, menyampaikan informasi secara terbuka, dan merespons kebutuhan masyarakat. Sementara itu, ketegasan berkaitan dengan persepsi terhadap konsistensi sikap, pengambilan keputusan, dan pelaksanaan tanggung jawab," tuturnya.

"Di tengah perubahan pola konsumsi informasi masyarakat, komunikasi pemerintah tidak cukup hanya mengandalkan publikasi kegiatan. Pemerintah perlu memastikan bahwa kebijakan dipahami masyarakat, manfaatnya dijelaskan secara konkret, dan kritik publik ditanggapi secara terbuka. Hal ini juga relevan bagi Kementerian Komunikasi dan Digital dalam menyosialisasikan kebijakan perlindungan anak di ruang digital agar dapat dipahami oleh orang tua, tenaga pendidik, penyelenggara platform, dan generasi muda," tambahnya.

Survei Indopol dilakukan dengan menggunakan pendekatan kuantitatif melalui kuesioner daring terhadap 1.000 responden berusia 17 tahun ke atas atau sudah menikah, berdomisili di 38 provinsi, dan memiliki akses internet.

Sampel direkrut melalui iklan digital, jaringan koordinator provinsi, dan panel responden INDOPOL, dengan teknik quota sampling berdasarkan provinsi, jenis kelamin, dan kelompok usia.

Pengumpulan data dilakukan pada 13–17 Oktober 2026 menggunakan kuesioner terstruktur berisi 18 pertanyaan. Karena menggunakan sampel nonprobabilitas, margin of error tidak dihitung secara statistik; sebagai pembanding, sampel acak sederhana sebanyak 1.000 responden memiliki margin of error sekitar ±3,1% pada tingkat kepercayaan 95%.

Kontrol kualitas dilakukan melalui deteksi isian ganda, penyaringan durasi pengisian kurang dari 50 detik, pemeriksaan pola jawaban seragam, serta verifikasi ulang terhadap sekitar 10% responden.