Muh. Syakir : Sabtu, 10 Oktober 2020 16:28
Ilustrasi

TATOR, PEDOMANMEDIA - Sejumlah aktivis mendesak penyidik Polres Tana Toraja menetapkan tersangka dalam kasus dugaan korupsi proyek toilet mewah di Buntu Burake. Proyek mangkrak hampir dua tahun.

"Kami menilai penegakan hukum di Polres Tana Toraja sudah sangat tumpul. Ada beberapa kasus korupsi yg ditangani sudah bertahun2 terparkir rapi di meja penyidik. Tidak ada kemajuan dalam penanganan," ujar Kordinator Biro Kajian Isu dan Advokasi Antonius Pilto, Sabtu (10/10/2020).

Antonius menyebutkan, dalam kasus toilet mewah di Buntu Burake penyidik tidak menunjukkan kemajuan. Kasus ini sudah ditangani 2 tahun tapi belum ditetapkan satupun tersangka.

"Tidak ada transparansi kasus ini. Kita tidak tahu sampai di mana kasusnya. Entah apa yg terjadi di tubuh Polres Tana Toraja? Harapan masyarakat Polres Tana Toraja harusnya menjadi panglima untuk membersihkan Toraja dari tikus berdasi bukan malah terkesan memelihara kasus," ucapnya.

Menurutnya, pola penanganan kasus seperti ini merusak kepercayaan publik. Karena itu ia meminta penyidik segera menetapkan tersangka.

Hal yang sama disampaikan Ketua Format Heriadi. Ia juga mendesak Polda Sulsel untuk segera mengevaluasi kinerja Polres Tana Toraja dalam penanganan kasus kasus korupsi.

"Karena beberapa kasus masih mandek penanganannya. Ini patut dipertanyakan publik. Kita ingin tahu sampai di mana penanganan kasus toilet Buntu Burake itu," katanya.

Ia mengatakan sangat aneh jika dalam dua tahun kasus ini tak menunjukkan progres.

Sebelumnya penanganan kasus dugaan korupsi proyek toilet Buntu Burake di Tana Toraja dipertanyakan banyak pihak. Pasalnya, hingga setahun lebih bergulir kasus ini masih berkutak di tahap menyidikan.

Penyidik Polres Tator sudah memeriksa beberapa pihak. Namun belum ditetapkan satupun tersangka. Proyek ini menghabiskan anggaran Rp 1,4 miliar.

Kasat Resrim Polres Tana Toraja AKP Jhon Paerunan, Jumat (09/10/2020) membantah kasus ini mandek di penyidikan. Ia mengaku kasusnya tetap jalan.

"Kasusnya tetap jalan namun saat ini kami sementara kami menunggu hasil pemeriksaan ahli," ungkap John.

Jhon juga meyatakan bahwa untuk saat ini Polres Tator sudah memeriksa beberapa orang. Termusuk kadis dan beberapa staf.

"Soal kadis yang diperiksa kadis lama atau kadis baru itu kami rahasiakan," ketus Jhon.

Untuk diketahui proyek toilet Buntu Burake ini dibangun pada tahun 2017, dengan angaran fantastik sebanyak Rp 1,4 miliar. Proyek ini dikerjakan CV Bangsa damai.

Penyidil telah memeriksa kontraktor CV Bangsa Damai sebagai penyedia barang atau kontraktor pelaksana kegiatan, dan juga Pejabat Pembuat Komitmen (PPK). Mereka dib perikwa awal 2019.

Pada Januari 2019 Kepala Dinas Pariwisata Tana Toraja juga dijadwalkan untuk pemeriksaan. Namun ia mangkir. Pemeriksaan dijadwalkan kembali dan kabarnya pertengahan 2019 penyidik telah memeriksa Kadis Pariwisata Tator.