Rabu, 07 April 2021 07:57

Pakar Sebut Sulit Cegah Mudik karena Masyarakat Mulai Adaptasi dengan Pandemi

Ilustrasi (int)
Ilustrasi (int)

Keberadaannya sebagai endemi, membuat orang tidak lagi takut. Orang akan belajar membentengi diri dengan protokol kesehatan.

JAKARTA, PEDOMANMEDIA - Masyarakat menganggap virus Corona bukan lagi momok menakutkan, yang bisa membatasi semua aktivitas. Masyarakat sedang menjalani kenormalan baru dan bisa menerima wabah itu sebagai bagian dari recovery sosial.

"Keberadaan pandemi sudah bisa diterima masyarakat. Mereka tak lagi takut. Corona dianggap bukan lagi momok. Tinggal bagaimana menjalani perubahan perilaku sosial baru," terang dr Syamal Sumantri, pakar kesehatan, Selasa (6/4/2021).

Menurut Syamal, Corona akan jadi endemi. Dia akan terus ada di bumi. Atau paling tidak akan bertahan dalam masa yang panjang. Situasi ini akan mengubah perilaku masyarakat.

Baca Juga

Dijelaskan Syamal, keberadaannya sebagai endemi, membuat orang tidak lagi takut. Tapi orang akan belajar membentengi diri dengan protokol kesehatan yang ketat.

"Ketakutan orang akan hilang. Karena orang mulai percaya bahwa prokes ketat bisa mencegah wabah," katanya.

Karenanya menurut Syamal, sulit mencegah aktivitas sosial masyarakat. Seperti lockdown atau PPKM mikro. Kata dia, jika tujuannya untuk membatasi aktivitas maka kebijakan itu akan sia-sia.

Termasuk misalnya mudik akan sulit dilarang karena orang percaya prokes. Tidak lagi perlu pembatasan.

"Jadi sulit kalau karena alasan pandemi kemudian mudik dilarang. Saya orang tetap mudik," jelasnya.

Banyak aparatur sipil negara (ASN) di Makassar mengaku tetap mau mudik Lebaran meski dilarang. Bagi mereka ancaman pandemi tak lagi menakutkan seperti dulu.

0

Kementerian Perhubungan (Kemenhub) memprediksi 27 juta orang berpotensi tetap mudik Lebaran meski sudah ada larangan dari pemerintah. Hasil survei Kemenhub, jika mudik Lebaran dilarang, 89% masyarakat tidak akan mudik. Tapi ada 11% yang tetap mudik.

Jika diestimasi maka potensi jumlah pemudik saat ada larangan mudik secara nasional sebesar 27,6 juta orang.

Pemerintah sendiri sudah mengumumkan larangan mudik Lebaran 2021. Awal Maret lalu Presiden Jokowi menyampaikan risiko long weekend yang selalu jadi pemicu naiknya angka kasus Corona. Presiden menyebut, libur selalu memberi andil naiknya kurva pandemi.

Karena itu pemerintah memangkas cuti Lebaran. Kebijakan ini dinilai tepat. Tapi masyarakat masih saja terbelah soal ini. Ada yang setuju. Namun tak sedikit yang menilai mudik tak berdampak langsung pada kenaikan kasus.

Membuka peluang mudik, itu pelonggaran kata sosiolog, Salahuddin Andika. Akan terjadi interaksi tinggi antarorang setiap mudik. Dikhawatirkan protokol kesehatan akan sulit diterapkan secara ketat.

Menhub Budi Karya Sumadi mengatakan akan ada beberapa formulasi pengetatan pada musim mudik nanti. Bagi setiap orang yang ingin mudik mengikat padanya ketentuan prokes. Juga akan ada pembatasan tehadap mereka yang teridentifikasi positif berdasarkan hasil tracing.

Budi memperkirakan, mudik tahun ini akan lebih rumit. Lonjakan penumpang memungkinkan terjadi karena penundaan mudik tahun lalu. Volume kendaraan pribadi juga akan lebih besar.

Editor : Muh. Syakir
#Mudik Lebaran Dilarang #Menhub Budi Karya Sumadi #Pandemi Corona
Berikan Komentar Anda