Selasa, 13 April 2021 06:51

Kasus Belum Landai, Kemendikbud Diminta Jangan Ngotot Belajar Tatap Muka

Mendikbud diminta mempertimbangkan kembali belajar tatap muka sebelum kasus Corona melandai. (int)
Mendikbud diminta mempertimbangkan kembali belajar tatap muka sebelum kasus Corona melandai. (int)

Meski angka kesembuhan naik di atas rata rata dibanding Desember 2020, tetapi rasio penyebaran juga masih cukup rentan.

JAKARTA, PEDOMANMEDIA - Kementerian Pendidikan memberi ruang dimulainya sekolah tatap muka lebih cepat dari rencana. Jika memungkinkan akan diuji coba pada beberapa provinsi usai Lebaran nanti.

Hanya saja rencana ini mendapat banyak sorotan. Kesiapan pemerintah daerah dalam penerapan protokol kesehatan di sekolah dinilai masih rendah. Risiko munculnya klaster baru sangat dikhawatirkan.

"Kita tidak mau justru nanti klaster itu muncul dari anak anak sekolah. Karena akan sangat sulit menerapkan prokes jika formulasi pembelajaran tidak tepat," kata Sumardi Atmojoyo, pengamat pendidikan, Senin (12/4/2021).

Baca Juga

Menurut Sumardi, sejauh ini formulasi belajar tatap muka belum jelas. Terutama soal pengaturan jam belajar dan skenario pengetatan interaksi antarsiswa dalam kelas.

Ia juga mempertanyakan bagaimana mengatur agar tidak terjadi kerumunan di lingkungan sekolah.

"Ini butuh kesiapan semua pihak. Jangan sampai karena semangat kita untuk membuka sekolah membuat kita lupa bahwa pandemi masih ada di tengah tengah kita," jelasnya.

Sumardi menyoroti soal kasus Corona yang masih cenderung tinggi. Meski angka kesembuhan naik di atas rata rata dibanding Desember 2020, tetapi rasio penyebaran juga masih cukup rentan.

Saat ini kasus Corona di Tanah Air sudah menyentuh 1,5 juta kasus. Angka ini naik lebih dari 100 ribu kasus sejak Januari 2021.

"Jadi jangan ngototlah. Harus ada skenario yang aman. Dipaparkan dulu seperti apa agar kajiannya jelas bahwa itu efektif," imbuhnya.

Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nadiem Makarim sendiri tetap berharap pembelajaran tatap muka dimulai Juli nanti. Ia beralasan, riset di banyak negara membuktikan tingkat infeksi Covid-19 pada anak sangat rendah.

"Riset di banyak negara sudah membuktikan bahwa anak usia 3-18 tahun itu memiliki tingkat mortalitas yang sangat rendah dibandingkan usia yang lain. Makanya banyak negara sudah membuka sekolah tatap muka," kata Mendikbud.

Nadiem mengungkapkan, anak-anak di bawah usia 18 tahun memiliki tingkat risiko infeksi yang rendah dibanding orang dewasa. WHO juga menyampaikan rendahnya kasus penularan Covid-19 pada anak di seluruh dunia. Ini menjadi pertimbangan banyak negara memulai sekolah tatap muka meski memiliki kasus Corona yang cukup tinggi.

Sementara itu Menkes Budi Gunadi Sadikin mengaku masih ragu. Menkes menganjurkan ada evaluasi.

Bahkan karena masih tingginya risiko penularan, pemerintah telah mengumumkan larangan mudik sebagai klaster potensial.

Saat ini kasus baru positif Covid-19 masih tersebut tersebar di 32 provinsi. Jawa masih dengan angka penambahan tertinggi.

Sebelumnya pemerintah telah beberapa kali menunda belajar tatap muka. Sempat ada rekomendasi dimulainya pembelajaran tatap muka Januari 2021. Namun rencana itu ditunda menyusul naiknya kembali angka kasus Corona.

Editor : Muh. Syakir
#Mendikbud Nadiem Makarim #Corona #Belajar Tata Muka
Berikan Komentar Anda