Relawan yang Diuji Vaksin Corona J&J Sakit, Indonesia Masih Mau Lanjut?
Pihak perusahaan mengungkapkan, rencana uji coba terhadap 60.000 pasien untuk peserta uji klinis dihentikan sementara. Pihaknya kini membentuk komisi keselamatan pasien yang independen.
JAKARTA, PEDOMANMEDIA - Seorang relawan yang menjalani uji vaksinasi Corona milik Perusahaan Johnson & Johnson dilaporkan sakit. Sakit yang diderita korban belum terdeteksi, namun kondisinya disebut cukup mengkhawatirkan.
Akibat dampak tak terduga itu, Johnson&Johnson menghentikan sementara uji klinis. Belum diketahui sampai kapan penghentian itu.
"Kami telah menghentikan sementara pemberian dosis lebih lanjut dalam semua uji klinis kandidat vaksin Covid-19 kami, termasuk uji coba tahap 3, karena (muncul) penyakit yang tidak dapat dijelaskan pada peserta studi," kata perusahaan Johnson & Johnson (J&J) dalam sebuah pernyataan yang dirilis pada Rabu (14/10/2020).
Pihak perusahaan mengungkapkan, rencana uji coba terhadap 60.000 pasien untuk peserta uji klinis dihentikan sementara. Pihaknya kini membentuk komisi keselamatan pasien yang independen.
Sementara itu Indonesia rencananya akan melakukan vaksinasi massal pada November 2020. Hanya saja vaksin yang dipasok le Indonesia bukan J&J.
Pemerintah RI belum memberi konfirmasi apakah kasus ini memengaruhi rencana mendatangkan vaksin Sinovac atau tidak. Vaksin yang akan masuk ke RI berasal dari 3 negara.
J&J mengatakan bahwa munculnya "kejadian serius yang merugikan", seperti kecelakaan atau penyakit, adalah "bagian yang diharapkan dari setiap studi klinis, terutama studi besar". Menurut pedoman perusahaan, jika hal itu terjadi maka uji klinis akan dihentikan sementara untuk menentukan apakah kasus itu terkait dengan obat yang sedang diuji coba, serta apakah penelitian dan uji klinis kemudian dapat dilanjutkan.
Tak ada masalah pada Uji klinis vaksin terhadap kera
Untuk program uji klinis tahap 3, J&J telah mulai merekrut peserta sejak akhir September, dengan tujuan mendaftarkan sampai 60.000 relawan di lebih dari 200 lokasi di AS dan di seluruh dunia.
Negara lain tempat uji klinis sedang berlangsung selain AS adalah Argentina, Brasil, Chili, Kolombia, Meksiko, Peru dan Afrika Selatan. J&J menjadi pembuat vaksin kesepuluh yang secara global sedang melakukan uji coba fase tiga, untuk memerangi pandemi Covid-19.
Pemerintah AS telah memberi J&J dukungan finansial sekitar 1,45 miliar dollar AS (Rp 21 triliun) di bawah program Operation Warp Speed yang dicanangkan pemerintahan Trump. Pengujian praklinis pada monyet rhesus macaque yang dipublikasikan di jurnal ilmiah "Nature" menunjukkan bahwa pengujian itu telah memberikan monyet tersebut perlindungan lengkap atau hampir lengkap terhadap infeksi virus di paru-paru dan hidung.
Vaksin corona J&J didasarkan pada dosis tunggal adenovirus penyebab pilek, dimodifikasi sehingga tidak bisa lagi mereplikasi diri, lalu dikombinasikan dengan bagian dari virus corona yang disebut protein lonjakan yang digunakannya untuk menyerang sel manusia.
Pengembangan vaksin corona J&J menggunakan teknologi yang sama yang digunakan dalam vaksin Ebola terbaru, yang pada Juli lalu mendapat persetujuan pemasaran dari Komisi Eropa.
Pada bulan September, uji coba vaksin virus corona yang dikembangkan oleh AstraZeneca dan Universitas Oxford juga dihentikan untuk sementara, setelah seorang peserta Inggris menderita "penyakit yang tidak dapat dijelaskan".
Vaksin AstraZeneca ini adalah salah satu proyek yang paling maju, yang telah diuji coba pada puluhan ribu relawan di seluruh dunia. Uji klinis dilanjutkan awal bulan ini di Jepang, tetapi tidak di Amerika.
