Senin, 03 Mei 2021 07:06

Indonesia Dibayangi Badai Corona India, Jokowi Pikirkan Tunda Belajar Tatap Muka

Joko Widodo
Joko Widodo

Semua ruang yang bisa memicu naiknya tren kasus harus ditutup. Karenanya, aktivitas yang memicu interaksi manusia dalam jumlah tak tebatas harus dicegah

JAKARTA, PEDOMANMEDIA - Presiden Joko Widodo mengakui gelombang Corona yang menggila di India sedikit memengaruhi target pemerintah memulai pembelajaran tatap muka. Rencana belajar tatap muka Juli mendatang memungkinkan ditunda.

"Kita akan lihat situasinya nanti. Jika memungkinkan, belajar tatap muka tetap pada target semula. Tapi kita harus memastikan angka kasus sudah benar-benar aman," ujar Jokowi, Ahad (2/5/2021).

Menurut Jokowi, sampai sekarang kepatuhan protokol kesehatan tetap diperketat. Tidak boleh diturunkan. Karena angka kasus aktif masih cukup tinggi. Risiko penularan secara statistik juga tetap terjadi di semua daerah.

Baca Juga

"Jangan sampai kepatuhan prokes menurun. Itu kunci menjaga tren kasus agar tidak naik. Yang kita pikirkan bagaimana agar kerumunan tidak terjadi. Karenanya sekolah tatap muka kita kaji terus menerus. Apakah rencana Juli bisa jalan atau tidak. Kalau tren kasus bisa kita tekan, ya bisa saja," paparnya.

Kepala Negara mengatakan, semua ruang yang bisa memicu naiknya tren kasus harus ditutup. Karenanya, mudik dan aktivitas yang memicu interaksi manusia dalam jumlah tak tebatas harus dicegah.

"Kita harus belajar dari apa yang terjadi di India," pintanya.

badai Corona yang menyerang India adalah efek pelonggaran yang terjadi pada Februari dan Maret lalu. Pelonggaran itu menyebabkan adanya interaksi manusia yang tidak terbatas dalam jumlah besar.

Sementara secara umum Indonesia terbilang lebih progresif dalam menurunkan angka kasus Corona. Rasio kematian relatif lebih rendah. Angka ini membaik dari waktu ke waktu.

Angka kesembuhan juga semakin tinggi. Ini diikuti oleh kian banyaknya zona hijau di Tanah Air.

Gelombang baru kasus Corona kembali menggila di India dalam empat pekan terakhir. Lonjakan angka kematian meledak jauh melampaui saat pertama pandemi ini melanda pertengahan 2020 lalu.

Lantas bagaimana dengan Indonesia, masihkah target sekolah tatap muka akan dibuka Juli nanti? Kementerian Pendidikan memberi ruang dimulainya sekolah tatap muka lebih cepat dari rencana. Jika memungkinkan akan diuji coba pada beberapa provinsi usai Lebaran nanti.

Hanya saja rencana ini mendapat banyak sorotan. Kesiapan pemerintah daerah dalam penerapan protokol kesehatan di sekolah dinilai masih rendah. Risiko munculnya klaster baru sangat dikhawatirkan.

"Kita tidak mau justru nanti klaster itu muncul dari anak anak sekolah. Karena akan sangat sulit menerapkan prokes jika formulasi pembelajaran tidak tepat," kata Sumardi Atmojoyo, pengamat pendidikan.

Menurut Sumardi, sejauh ini formulasi belajar tatap muka belum jelas. Terutama soal pengaturan jam belajar dan skenario pengetatan interaksi antarsiswa dalam kelas.

Ia juga mempertanyakan bagaimana mengatur agar tidak terjadi kerumunan di lingkungan sekolah.

"Ini butuh kesiapan semua pihak. Jangan sampai karena semangat kita untuk membuka sekolah membuat kita lupa bahwa pandemi masih ada di tengah tengah kita," jelasnya.

Sumardi menyoroti soal kasus Corona yang masih cenderung tinggi. Meski angka kesembuhan naik di atas rata rata dibanding Desember 2020, tetapi rasio penyebaran juga masih cukup rentan.

Saat ini kasus Corona di Tanah Air sudah menyentuh 1,5 juta kasus. Angka ini naik lebih dari 100 ribu kasus sejak Januari 2021.

"Jadi jangan ngototlah. Harus ada skenario yang aman. Dipaparkan dulu seperti apa agar kajiannya jelas bahwa itu efektif," imbuhnya.

Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nadiem Makarim sendiri tetap berharap pembelajaran tatap muka dimulai Juli nanti. Ia beralasan, riset di banyak negara membuktikan tingkat infeksi Covid-19 pada anak sangat rendah.

"Riset di banyak negara sudah membuktikan bahwa anak usia 3-18 tahun itu memiliki tingkat mortalitas yang sangat rendah dibandingkan usia yang lain. Makanya banyak negara sudah membuka sekolah tatap muka," kata Mendikbud.

Nadiem mengungkapkan, anak-anak di bawah usia 18 tahun memiliki tingkat risiko infeksi yang rendah dibanding orang dewasa. WHO juga menyampaikan rendahnya kasus penularan Covid-19 pada anak di seluruh dunia. Ini menjadi pertimbangan banyak negara memulai sekolah tatap muka meski memiliki kasus Corona yang cukup tinggi.

Editor : Muh. Syakir
#Presiden Jokowi #Corona India #Belajar Tata Muka
Berikan Komentar Anda
Epaper
Cover Epaper
Populer