Rabu, 05 Mei 2021 18:20

Penyekatan Mulai Besok, Kemenhub Klaim Masih Ada 11 Juta Pemudik 'Nekat'

Budi Karya Sumadi
Budi Karya Sumadi

Jika ada kemungkinan terjadi ledakan jumlah pemudik, harusnya ada langkah lebih konkret. Harus bisa dicegah sedini mungkin.

JAKARTA, PEDOMANMEDIA - Penyekatan untuk mencegah gelombang pemudik akan berlaku mulai Kamis besok (6/5/2021). Kementerian Perhubungan mengklaim meski sudah ada larangan, 11 juta orang masih berpotensi mudik.

"Ada 11 juta yang berpotensi mudik. Ini yang sedang kita cegah," kata Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi, Rabu (5/5/2021).

Ia mengatakan akan ada beberapa formulasi pengetatan agar volume pemudik bisa dibendung sekecil mungkin. Budi mengakui, pelarangan mudik tahun ini akan lebih rumit.

Baca Juga

Lonjakan penumpang memungkinkan terjadi karena penundaan mudik tahun lalu. Volume kendaraan pribadi juga akan lebih besar.

"Apalagi kan vaksinasi sudah dilakukan massal. Masyarakat semakin terbuka untuk bepergian. Faktor ini membuat volumenya akan semakin tinggi. Tapi kita lakukan pencegahan optimal," jelas Budi.

Sosiolog, Salahuddin Andika mengatakan, harus ada upaya membendung frekuensi pemudik. Membuka peluang mudik sama saja itu pelonggaran cukup berisiko.

Salahuddin mengatakan, akan terjadi interaksi tinggi antarorang setiap mudik. Dalam volume pergerakan orang dalam jumlah besar, protokol kesehatan akan sulit diterapkan secara ketat.

Karena itu kata Salahuddin, risiko naiknya angka kasus pascalebaran sangat berpotensi. Menhub seharusnya menjabarkan upaya penanganan secara komprehensif. Agar masyarakat tahu keputusan mudik ini merupakan hasil kajian yang perspektif.

"Kita sebenarnya ingin mendengar bagaimana penanganan teknis Menhub untuk mudik nanti. Jangan sampai standarnya juga sama dengan weekend biasa. Ini tentu akan berbeda situasinya," kata Salahuddin.

Salahuddin menimpali, jika ada kemungkinan terjadi ledakan jumlah pemudik, harusnya ada langkah lebih konkret. Sangat tidak realistis kalau pemerintah merasa bisa menerapkan prokes selama mudik pada titik titik tertentu.

Masyarakat menganggap virus Corona bukan lagi momok menakutkan, yang bisa membatasi semua aktivitas. Masyarakat sedang menjalani kenormalan baru dan belajar beradaptasi dengan pandemi.

"Keberadaan pandemi sudah bisa diterima masyarakat. Mereka tak lagi takut. Corona dianggap bukan lagi momok. Tinggal bagaimana menjalani perubahan perilaku sosial baru," terang dr Syamal Sumantri, pakar kesehatan.

Menurut Syamal, Corona akan jadi endemi. Dia akan terus ada di bumi. Atau paling tidak akan bertahan dalam masa yang panjang. Situasi ini akan mengubah perilaku masyarakat.

Dijelaskan Syamal, keberadaannya sebagai endemi, membuat orang tidak lagi takut. Tapi orang akan belajar membentengi diri dengan protokol kesehatan yang ketat.

"Ketakutan orang akan hilang. Karena orang mulai percaya bahwa prokes ketat bisa mencegah wabah," katanya.

Karenanya menurut Syamal, sulit mencegah aktivitas sosial masyarakat. Seperti mudik, lockdown atau PPKM mikro. Kata dia, jika tujuannya untuk membatasi aktivitas maka kebijakan itu akan sia-sia.

Termasuk misalnya mudik akan sulit dilarang karena orang percaya prokes. Tidak lagi perlu pembatasan.

"Jadi sulit kalau karena alasan pandemi kemudian mudik dilarang. Saya orang tetap mudik," jelasnya.

Editor : Muh. Syakir
#Mudik Lebaran 2021 #Kemenhub #Menhub Budi Karya Sumadi
Berikan Komentar Anda
Epaper
Cover Epaper
Populer