Kamis, 27 Mei 2021 08:10

Menakar 3 Bulan PPnBM: Penjualan Mobil Membaik, Properti Masih Loyo

Ilustrasi (int)
Ilustrasi (int)

Ekonomi akan membaik paling cepat pada kuartal akhir 2021. Namun itu sangat bergantung pada kebijakan multisektor.

MAKASSAR, PEDOMANMEDIA - Stimulus pajak penjualan barang mewah (PPnBM) telah memberi dampak pada penjualan mobil di Tanah Air. Namun di sektor properti kebijakan ini masih tertekan.

"Properti memang butuh waktu lebih lama. Kemungkinan kita akan melihat dampaknya di akhir tahun," jelas Zaenal Abidin, konsultan properti, Kamis (27/5/2021).

Menurut Zaenal, masyarakat masih memilih menahan dana mereka karena kekhawatiran akan memburuknya pandemi. Akibatnya, properti skala menengah belum dilirik.

Baca Juga

Para ekonom juga meramal Indonesia akan sulit memperbaiki kinerja ekonomi hingga kuartal II. Proyeksi pertumbuhan ekonomi di atas 4% memungkinkan baru akan dicapai pada kuartal akhir 2021.

"Sulit untuk bangkit lebih cepat di kuartal II. Kita masih resisi. Kontraksi ekonomi juga masih memukul semua sektor. Jadi akan sulit untuk pulih kurang dari setahun," ujar pengamat ekonomi Sjamsul Ridjal.

Sjamsul memprediksi ekonomi akan membaik paling cepat pada kuartal akhir 2021. Namun itu sangat bergantung pada kebijakan multisektor. Kebijakan ini yang bisa mengembalikan daya beli masyarakat yang turun tajam dalam 6 bulan.

"Investasi kita melempem. Industri masih terseok-seok. Hanya sektor jasa yang sekarang sedikit tumbuh. Stimulus masih dibutuhkan," katanya.

Dikatakan Sjamsul, relaksasi pajak PPnBM dan KPR untuk sektor properti belum banyak memberi sentuhan. Ini juga butuh proses panjang. Dampaknya memungkinkan terlihat pada awal 2022.

Namun di sektor otomotif penjualan mobil diklaim telah tumbuh positif. Menkeu Sri Mulyani Indrawati menyebut, permintaan kendaraan lebih progresif sejak April.

Sebelumnya pengamat ekonomi dari PT Bank Permata Josua Pardede mengatakan, di kuartal II akan terjadi yang dialami juga oleh beberapa negara di dunia bahwa low base effect di tahun lalu itu akan bisa mendongkrak ekonomi kuartal II cukup tinggi.

Aktivitas ekonomi diperkirakan akan lebih normal pada semester II-2021. Hal itu seiring dengan pelaksanaan vaksinasi yang lebih masif di beberapa negara termasuk Indonesia.

"Kalau itu bisa dipercepat tentu akan men-drive pertumbuhan ekonomi di semester II. Program vaksinasi saya pikir kunci dan tentunya terkait dengan peran COVID, kalau kasus COVID-nya masih tinggi kan kegiatan ekonomi tidak bisa lebih longgar ya, sehingga kita harapkan akan jauh lebih baik," ucapnya.

BI memprediksi perbaikan ekonomi Indonesia sejalan dengan proyeksi perekonomian global yang juga berpotensi lebih tinggi. Hal itu terlihat dari beberapa lembaga Internasional yang telah menaikkan prediksi ekonomi global di 2021.

Misalnya IMF yang merevisi pertumbuhan ekonomi global dari 5,2% menjadi 5,5%. Juga ekonomi AS dari 3,1% menjadi 5,1%. OECD juga merevisi dari 4,2% menjadi 5,6%, serta pertumbuhan AS dari 3,2% jadi 6,5%.

Editor : Muh. Syakir
#Properti #Sektor Otomotif #Menkeu Sri Mulyani Indrawati #Insentif PPnBM
Berikan Komentar Anda
Epaper
Cover Epaper
Populer