Jumat, 18 Juni 2021 09:09

Terbongkar Rekaman Saat Agung Antar Uang untuk NA, Edy Bilang Bawa ke Rujab, Aman

Nurdin Abdullah saat ditangkap KPK. (ilustrasi.int)
Nurdin Abdullah saat ditangkap KPK. (ilustrasi.int)

Edy awalnya meminta agar uang diantar Agung ke rujab. Tapi Edy lantas mengganti lokasi transaksi, lantaran khawatir banyaknya CCTV di area Rujab.

MAKASSAR, PEDOMANMEDIA - Jaksa Penuntut Umum (JPU) memperdengarkan rekaman pembicaraan Agung Sucipto dengan Edy Rahmat saat akan menyerahkan uang untuk Gubernur Sulsel nonaktif Nurdin Abdullah. Dalam rekaman itu terdengar Edy menunjuk rumah jabatan gubernur sebagai lokasi pertemuan.

Percakapan hasil sadap keduanya, diperdengarkan menggunakan pengeras suara mikrophone oleh tim Jaksa Penuntut Umum di Ruang Sidang Harifin Tumpa, Pengadilan Negeri Makassar, kemarin.

Meski agak samar terdengar, Edy dan Agung rupanya sedang memperbincangkan lokasi transaksi mereka. Edy dalam rekaman itu awalnya meminta agar pak Agung datang menyerahkan uang fee itu langsung di rumah jabatan saja.

Baca Juga

"Di rujab (rujab gubernur) saja dibawa pak. Lebih aman di Rujab," ujar Edy dalam rekaman itu.

Namun begitu tiba-tiba Edy lantas meminta untuk mengganti lokasi transaksi, lantaran mengaku khawatir dengan banyaknya CCTV di area Rujab.

"Jangan mi di rujab pak, baru saya ingat banyak pade CCTV di rujab," ujar Edy tiba-tiba.

Pertemuan mereka kemudian disepakati di Rumah Makan Nelayan. Mereka berdua sempat bertemu muka, namun karena Edy dan Agung khawatir dan ragu untuk transaksi di sana. Mereka kemudian berputar-putar dengan mobil yang dikendarainya masing-masing dan baru berhenti di sekitaran Taman Macan, dekat balaikota Makassar.

Di sana uang itu kemudian dipindahkan. Satu ditempatkan dalam koper berwarna hijau dan, satunya lagi dalam sebuah tas ransel.

Tidak hanya itu dalam percakapan itu juga Agung sempat membahas proposal proyek irigasi di Sinjai untuk rekan kontraktornya. Hary Samsuddin. Agung mengatakan turut menyertakan proposal itu untuk diusulkan ke Gubernur Sulsel Nurdin Abdullah.

Sayangnya belum semua didengar para jurnalis, Ketua Majelis Hakim, Ibrahim Palino meminta Jaksa tidak perlu mendengarkan rekaman yang samar-samar tersebut. rekaman itu diminta untuk dibacakan saja hasil transkrip-nya.

"Kalau transkripnya ada, itu saja yang dibacakan," tukas Ibrahim.

Dengan bukti percakapan ini, Agung yang dijerat pasal suap terhadap pejabat negara sesuai pasal 5 ayat (1) huruf a dan b Undang undang Tipikor tentunya tak lagi dapat mengelak atau memberi keterangan palsu. Ia sesuai fakta sidang juga diketahui menjanjikan fee 7 persen pada Gubernur Sulsel non aktif Nurdin Abdullah melalui Edy Rahmat.

Dia juga diketahui menjanjikan pada rekan Kontraktornya, Hary Samsuddin sebuah proyek irigasi di Kabupaten Sinjai dengan total anggaran Rp 25 miliar. Serta secara aktif berkomunikasi dengan Edy untuk membicarakan proyek, utamanya proyek jalan Palampang-Munte-Botolempangan.

Diketahui dalam sidang Kamis kemarin, sejumlah saksi dihadirkan masing-masing adalah Hary Samsuddin, kontraktor Bulukumba yang belakangan memberikan uang Rp 1 miliar 50 juta pada Agung untuk pemenangan proyek irigasi di Sinjai. Berikut Direktur dari Perusahaan Hary Samsuddin yakni Abdulrahman.

Kemudian ada istri Edy Rahmat, yang mengaku menemukan uang di sebuah kamar dirumahnya sebanyak Rp 500 juta dalam sebuah ransel. Dari keterangan yang ada, uang itu merupakan uang fee yang dibawa Edy Rahmat usai melakukan transaksi dengan Agung di sekitaran Taman Macan.

Selanjutnya ada Sopir Edy Rahmat yakni Ifandi, kemudian seorang pria bernama Mega yang juga merupakan sub kontraktor yang tinggal di rumah Edy Rahmat.

Penulis : Muh. Chaidir
Editor : Muh. Syakir
#Edy Rahmat #Agung Sucipto #Jaksa KPK #Kasus Suap Nurdin Abdullah #Nurdin Abdullah
Berikan Komentar Anda
Epaper
Cover Epaper
Populer