Kamis, 22 Juli 2021 07:54

Pemerintah Suntik UMKM, Indonesia Tetap Dibayangi PHK Massal

Indonesia dibayangi PHK massal jika pandemi tak kelar. (ilustrasi.int)
Indonesia dibayangi PHK massal jika pandemi tak kelar. (ilustrasi.int)

Program vaksinasi harus dipastikan efektif. Setidaknya sampai kuartal 2 nanti harus tampak hasilnya.

MAKASSAR, PEDOMANMEDIA - Tercapainya target vaksinasi diharapkan bisa mempercepat pemulihkan ekonomi tahun ini. Jika vaksin gagal membendung laju pandemi, Indonesia akan dibayangi PHK massal.

"Memang harapan satu satunya untuk memulihkan dunia usaha adalah menghentikan laju wabah. Semua penyangga akan jatuh jika kita gagal di situ," ujar Martin Andika, pelaku usaha, Rabu (21/7/2021).

Martin mengatakan program vaksinasi harus dipastikan efektif. Setidaknya sampai kuartal 2 nanti harus tampak hasilnya.

Baca Juga

Parameternya, mesti ada penurunan kurva. Sehingga semua aktivitas ekonomi tidak lagi terimbas pembatasan.

"Kalau masih ada pembatasan kita sulit pulih. Investasi tidak mungkin didorong dalam situasi demikian. Ekspor juga terhambat," kata Martin.

Jika tahun ini vaksinasi gagal, Martin memperkirakan lebih banyak pemutusan hubungan kerja (PHK). Akan ada gelombang PHK yang memicu naiknya angka pengangguran.

Suntikab dana besar untuk UMKM juga tidak akan banyak menyelamatkan sektor usaha. Kata Martin, stimulus tidak memberi efek jangka panjang. Kecuali hanya sebatas penyangga temporer.

Sebelumnya dari data yang ada, pengangguran di Indonesia sudah menyentuh level mengkhawatirkan. Nyaris 15 juta orang. Ironisnya, angka itu tumbuh lebih dari 2 persen hanya dalam kurun waktu 6 bulan sejak pandemi.

Pandemi yang memukul ekonomi nasional menjadi faktor paling dominan. Pandemi membuat semua mengalami kejatuhan simultan. Daya serap lapangan kerja menurun. Kinerja industri juga terpuruk.

Indonesia mencatat pertumbuhan angka pengangguran terbuka yang cukup signifikan. Dalam enam bulan jumlah pengangguran bertambah 2,6 juta orang, hingga nyaris menembus angka 10 juta per Agustus 2020.

Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat jumlah pengangguran terbuka di RI mencapai 9,7 juta orang. Atau naik hampir dua persen hanya dalam kurun waktu 6 bulan. Diakui BPS, naiknya angka pengangguran di 2020 dipicu oleh dampak pandemi Corona yang melanda sejak Februari lalu.

Pengangguran tumbuh karena beberapa faktor. Di antaranya PHK bergelombang sejak Maret serta menurunnya daya serap lapangan kerja.

Dalam analisisnya, Ekonom Sjamsul Ridjal sudah memprediksi akan adanya kontraksi lebih kuat di 2021. Jika tak ada upaya pemulihan yang lebih cepat maka daya beli akan menurun sangat tajam.

Sjamsul menjelaskan, stimulus yang digulirkan pemerintah hanya sedikit menolong menaikkan konsumsi. Tak bisa secara komprehensif. Karena kata dia, terjadi kekhawatiran akan memburuknya situasi jika pandemi tak juga berakhir di 2021.

"Isu pandemi ini paling merusak konstruksi ekonomi kita. Kalau isu itu terus pasti akan lebih buruk. Apalagi di Eropa pandemi digambarkan begitu mengerikan," katanya.

Sjamsul memperkirakan, 2021 akan terjadi gejolak ketenagakerjaan karena perusahaan gagal kinerja. Dampak terburuknya adalah PHK massal. Ini akan kian buruk jika Indonesia belum bisa keluar dari resesi.

Presiden Joko Widodo sebelumnya juga mengatakan efek pandemi masih akan memukul sektor sektor ekonomi sosial sampai tahun 2021. Ledakan pengangguran dan PHK akan jadi PR paling serius.

"Pengangguran menjadi pekerjaan rumah yang belum selesai. PHK menyebabkan ini menjadi problem yang memaksa kita harus bergerak cepat. Permasalahan ini juga muncul dengan banyaknya angkatan kerja," ujar kepala negara.

 

Editor : Muh. Syakir
#PHK Massal #ppkm darurat #Pemulihan Ekonomi Nasional #Vaksinasi
Berikan Komentar Anda
Epaper
Cover Epaper
Populer