Muh. Syakir : Rabu, 21 Oktober 2020 14:12
Pasangan Theo-Zadrak siap mengubah wajah pendidikan Tana Toraja.

THEOFILUS-Zadrak punya obsesi besar membawa Tana Toraja menjadi daerah dengan kualitas pendidikan terkemuka di tanah air. Tapi ia juga menyadari Tator punya PR berat menuju ke sana.

Theofilus mengungkapkan, pendidikan berkualitas bukan sekadar mencetak siswa berprestasi. Banyak faktor yang harus dipenuhi.

Mulai dari dukungan infrastruktur. Lalu penyebaran tenaga guru yang merata ke pelosok.

Yang tak kalah penting adalah faktor finansial. APBD harus berpihak pada sektor pendidikan. Ini menjadi satu rangkaian yang secara sosialogis harus hadir dalam program itu.

"Untuk mencapai itu kami sudah memiliki program strategis. Pertama tentu saja APBD harus berpihak. Anggaran pendidikan akan kita dongkrak. Selain pendidikan gratis, juga ada program beasiswa untuk jenjang S1 dan S2," jelas Theo.

Kedua kata Theo menghadirkan infrastruktur yang representatif. Menurutnya, anggaran pendidikan juga akan fokus pada alokasi infrastruktur dan perbaikan sarana dan prasarana. Sektor fisik mendapatkan porsi cukup besar karena masih banyak sekolah dengan sarana belajar yang tak memadai.

"Kita akan benahi sekolah-sekolah agar menjadi sarana belajar yang representatif. Sebaran anggaran itu menyentuh sampai ke daerah terpencil. Sekolah-sekolah yang ada di pelosok di bangun mengikuti standar sekolah di ibu kota kabupaten/kota," jelaasnya.

Sehingga tidak lagi nampak mencolok perbedaan derajat pendidikan di desa dan kota.

"Yang ingin saya hilangkan ada sekat antara kota dan desa. Tak boleh ada perbedaan kualitas di kota dan desa. Tak boleh terjadi lagi diskriminasi dalam bidang pendidikan," tutur Theo.

Theo yakin dengan persamaan kualitas desa dan kota mindset desa sebagai objek keterbelakangan bisa dihapus.

"Mengapa selama ini desa selalu terbelakang? Karena sektor pendidikan ini yang tidak merata. Ada diskriminasi bertahun tahun. Seolah olah pendidikan hanya milik orang kaya dan bermukim di kota" katanya. Padahal hak dasar pendidikan itu milik semua rakyat.

Lewat programnya itu, Theo-Zadrak yakin akan membuka sekat pendidikan desa dan kota. Desa dan kota diproyeksi menjadi setara. Tak hanya sarana dan prasarananya, pasangan ini juga sudah punya progran penyebaran tenaga guru berstandar ke daerah-daerah terpencil. Guru-guru dengan kualifikasi disebar ke pelosok.

Theo mengatakan, tak ingin asumsi soal desa sebagai tempat pelemparan guru-guru tak berkualitas terus berkembang. Ia ingin mengubah pandangan. Bahwa desa juga bisa mencetak calon generasi andal.

Hanya saja program seperti ini harus di tangan pemimpin yang inovatif. Pemimpin yang berani dan punya orientasi masa depan yang jelas.

Theo menargetkan perubahan sektor pendidikan bica dicapai dalam satu atau dua tahun anggaran. Dalam kurun waktu itu sudah bisa terlihat bagaimana program ini berjalan baik. Progresnya akan pterlihat jelas. Karena program ini dilakukan secara sistematis.

Anak anak lulusan sekolah di pedesaan bisa berkompetisi di kota. Mereka tidak lagi canggung. Karena tidak ada lagi perbedaan derajat pendidikan antara desa dan kota.

"Setiap tahun kita akan naikkan anggaran pendidikan. Agar nanti lulusan S1 dan S2 juga kita beri beasiswa. Sehingga akan lahir banyak sarjana sarjana dengan kualitas andal di Toraja. Kita tidak akan kekurangan SDM," urai Theo.

Akhirnya muaranya nanti membawa Toraja menjadi kota pendidikan terkemuka di Indonesia.

"Saya akan dorong semua otoritas pendidikan bahwa kita belum selesai. Tugas ke depan adalah membawa Toraja menjadi setara dengan kota-kota pendidikan di Indonesia," ucapnya.