Selasa, 24 Agustus 2021 12:08

Kematian Corona Melonjak, Studi Menyebut Masyarakat Lebih Takut Lapar

Kematian melonjak tapi masyarakat lebih takut lapar.  (ilustrasi/int)
Kematian melonjak tapi masyarakat lebih takut lapar. (ilustrasi/int)

Karena sudah menyentuh hajat ekonomi mereka akhirnya Covid yang mematikan justru tak dikhawatirkan lagi.

MAKASSAR, PEDOMANMEDIA - Para pegiat sosial mengungkapkan bahwa kenaikan angka kematian akibat Corona cenderung tak lagi dipedulikan. Masyarakat lebih khawatir pada ancaman kelaparan.

"Studi di banyak kelompok masyarakat muncul realitas itu. Mereka sebagian besar tidak lagi peduli Covid," ujar Nadia Amasea, penulis dan peneliti sosial ekonomi, Selasa (24/8/2021).

Menurut Nadia, masyarakat cenderung lebih khawatir pada persoalan ekonomi. Mereka cemas karena kehidupan makin sulit.

Baca Juga

"Hampir semua terdampak akibat Covid dan PPKM. Karena sudah menyentuh hajat ekonomi mereka akhirnya Covid yang mematikan justru tak dikhawatirkan lagi," jelasnya.

Nadia menjelaskan, kecenderungan ini wajar. Penyebabnya adalah tekanan psikis yang melanda masyarakat akibat keterbatasan gerak dalam mencari penghidupan.

"Manusia kan begitu. Kalau hajat ekonominya terganggu pasti psikisnya berontak. Nah ini yang melanda masyarakat kita. Akibatnya ketakutan pada Covid hilang. Berganti pada ketakutan pada kelaparan," papar Nadia.

Nadia melihat situasi ini sangat buruk. Pertama angka Covid bisa terus melonjak karena masyarakat tidak peduli lagi pada pembatasan dan prokes.

Di sisi lain, pemulihan ekonomi akan lebih panjang. Dan selanjutnya, angka angka kematian tetap disepelekan.

"Ini harus diatasi dengan edukasi dari pemerintah. Kedua pembatasan harus tetap membuka ruang pada ekonomi rakyat. Jangan sampai PPKM menimbulkam gejolak," imbuhnya.

Seperti diketahui, meski terjadi penurunan tingkat sebaran kasus dalam dua pekan, angka kematian akibat Covid-19 masih relatif tinggi. Pekan lalu angka kematian kembali menembus 2.000 kasus per hari.

Kementerian Kesehatan mengingatkan, lonjakan angka kematian berpotensi berkepanjangan hingga dua pekan ke depan. Terutama pada beberapa wilayah zona merah Jawa dan Bali.

nalisis data National All Record (NAR) menunjukkan bahwa pelaporan data kematian dari daerah tidak bersifat realtime. Artinya, data yang masuk merupakan akumulasi dari bulan-bulan sebelumnya.

Editor : Muh. Syakir
#Covid-19 #Kematian Akibat Corona
Berikan Komentar Anda