JAKARTA, PEDOMANMEDIA - Para pakar mengingatkan adanya ancaman gelombang ketiga Corona di bulan Desember 2021. Mengantisipasi hal itu, pemerintah akan terus melanjutkan PPKM.
Saat ini kasus Corona telah melandai. Kasus baru per Sabtu (17/9/2021) berada di angka 3.835 orang dari total 388.292 spesimen yang diperiksa.
Angka ini turun signifikan dari Juli dan Agustus lalu yang mencatat penambahan kasus harian di atas 20.000. Peta penyebaran wilayah zona merah juga menyusut jauh.
Angka positivity rate kini di level 1,31 persen. Diperkirakan dalam sebulan ke depan, wilayah zona merah akan berkurang lebih banyak. Dan angka keterisian rumah sakit juga jauh menurun.
Hanya saja kondisi ini tetap harus diwaspadai. Apalagi setelah ditemukannya varian baru Corona bernama Mu.
Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi Luhut Binsar Pandjaitan mengatakan, kuncinya adalah disiplin prokes. Kata dia, gelombang Corona bisa datang lagi jika pemerintah dan masyarakat lengah.
"Kalau kita tidak disiplin dengan prokes, ini bisa menjadi gelombang baru. Kita semua dituntut waspada," jelas Luhut.
Dalam pertemuan pekan lalu Luhut menjelaskan, gelombang pertama Covid terjadi lebih dari 12 bulan pada Maret 2020 hingga April 2021. Angka kasus dalam rentang waktu itu mencapai 2 juta.
Gelombang kedua datang saat varian Delta muncul pada awal April 2021. Ledakan varian Delta menyerang Indonesia sebulan usai memporak-porandakan India.
Gelombang kedua hanya berlangsung sekitar 6 bulan, namun menoreh peta penyebaran paling ekskalatif. Yakni mencapai 2 juta kasus.
Sejak ledakan varian Delta, Indonesia juga tercatat sebagai negara dengan angka kematian harian tertinggi di dunia. Indonesia pernah menyentuh rekor 2.000 lebih kematian pada Juli lalu. Rekor ini mengungguli India dan Brasil.
Memasuki Agustus, angka Corona mulai jinak. PPKM selama 6 pekan berhasil menekan mobilitas warga dan melokalisasi penularan. Jawa Bali mulai melandai.
Tersisa beberapa provinsi di Sulawesi dan Kalimantan yang belum terkendali. Peta penyebaran zona merah juga berkurang lebih dari 30% dibanding Juli lalu.
"Ini capaian yang menggembirakan. Tapi jangan lengah karena ancaman belum berakhir," paparnya.
Menurut Luhut, kondisi ini bisa kembali. Bahkan lebih buruk, jika kedisiplinan prokes menurun. Karena itu ia mengajak masyarakat agar tetap patuh pada protap yang diatur dalam PPKM.
"Kalau tidak, kita akan menghadapi gelombang baru yang mungkin lebih dahsyat," jelasnya.
Luhut mengajak masyarakat sama sama menjaga kondisi ini. Di antaranya dengan mempertahankan kedisiplinan prokes, membatasi interaksi dan menghindari aktivitas yang berpotensi menimbulkan kerumunan.
"Keselamatan harus menjadi yang utama. Dan itu hanya bisa dicapai jika semua kompak," imbuh Luhut.
BERITA TERKAIT
-
Kabinet Prabowo-Gibran Diumumkan 21 Oktober 2024
-
NasDem Respons Dukungan Luhut ke Prabowo-Gibran: Tak Mungkin 1 Putaran
-
Kubu Prabowo-Gibran Makin 'PD' Satu Putaran Usai Dapat Dukungan Luhut
-
Akhirnya! Luhut Blak-blakan Dukung Prabowo-Gibran
-
Luhut Sebut OTT KPK Kampungan, Eks Penyidik Beri Balasan Menohok