Muh. Syakir : Minggu, 25 Oktober 2020 08:16
Ilustrasi (int)

JAKARTA, PEDOMANMEDIA - Ketua Umum Partai Golkar Airlangga Hartarto menargetkan merebut 60% kemenangan di Pilkada 2020. Airlangga menyebut kemenangan ini akan mengantar Partai Golkar menjadi pemenang di Pemilu 2024.

Lantas apa analisis pengamat soal target besar Airlangga ini?

Pengamat politik Juanda H Alim mengatakan, target tersebut masuk dalam kalkulasi riil Golkar. Hanya saja hitung-hitungan ini masih bisa disebut sumir karena pergerakan Golkar di berbagai daerah tak lagi dominan.

"Setelah Pemilu 2019 bisa dikata dominasi Golkar di lumbung lumbung suara mereka mulai mengecil. Hampir tak ada daerah di mana Golkar tak membutuhkan koalisi. Sehingga sulit untuk mengatakan target itu realistis" jelas Juanda.

Menurut dia, Golkar justru kehilangan banyak kans tak bisa mendorong kader murni di pilkada. Ini karena peta koalisi sudah sangat dinamis. Golkar tak lagi dominan.

Kata Juanda, Golkar kehilangan banyak lumbung suara sejak Pemilu 2014 dan 2019. Akibatnya mereka bergantung pada parpol lain untuk mendorong kader di pilkada.

"Contoh di Pilkada Makassar, Golkar terpaksa hanya jadi 02 karena mereka butuh koalisi. Bahkan sempat membangun poros bersama Nasdem untuk mendorong petahana. Tapi Golkar justru ditinggal. Ini menunjukkan, Golkar kehilangan dominasi. Padahal Makassar ini salah satu lumbung suara mereka," paparnya.

Bukan hanya Makassar, di banyak daerah Golkar mengalami masalah serupa. Tak bisa mendorong kader dan hanya menjadi parpol pengusung dalam koalisi.

"Tentu ini kondisi yang tak biasa bagi Golkar. Karena dulu mereka selalu dominan dan tak membutuhkan koalisi. Sehingga mereka leluasa mengutak atik kader untuk didorong di pilkada," jelas Juanda.

Sekarang peta politik berubah. Bahkan di lumbung lumbung suara mereka pun mulai tergerus.

Tapi di sisi lain menurut Juanda, perubahan ini membuat Golkar belajar berbenah. Bahwa mereka mulai sadar arah politik berubah. Dan seluruh struktur partai harus mengejar kualitas kader. Bukab lagi citra parpol semata.

"Kultur politik berubah. Itu yang mesti disadari. Kultur politik tidak lagi menonjolkan parpol. Karena hampir semua parpol punya massa riil sekarang. Untuk bisa dominan di pilkada harusnya yang dicetak Golkar adalah ketokohan kader," katanya.

Golkar harus punya kader-kader dengan keunggulan personal. Agar kejayaan masa lalu bisa dibangkitkan kembali.

Karena itu target Airlangga merebut 60% kemenangan di pilkada akan jadi pekerjaan berat. Juanda memprediksi target itu sulit dicapai dengan kondisi Golkar sekarang.