JAKARTA, PEDOMANMEDIA - Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyebut Kalimantan Utara sebagai satu-satunya provinsi di Indonesia yang masih dengan tingkat infeksi Corona paling tinggi. Kondisi ini pernah dialami Sulsel dalam kurun Juni hingga Agustus lalu.
Dilaporkan WHO, sejak 27 September hingga 3 Oktober, penularan tinggi di Kalimantan Utara tercatat dengan insiden 56,8 kasus per 100 ribu penduduk. Berdasarkan pedoman interim WHO, ini berarti menunjukkan tingginya tingkat infeksi lokal.
Tak hanya Kaltara, dua provinsi di Kalimantan dan Sumatra juga masih dalam kategori sedang. Keduanya adalah Kepulauan Bangka Belitung dan Kalimantan Tengah. Kedua provinsi ini ada di angka 33,4 per 100 ribu penduduk dan 21,1 per 100 ribu penduduk.
Secara nasional positivity rate dua pekan terakhir di bawah 2 persen. Berada di bawah angka ideal WHO yaitu 5 persen.
Jumlah kasus mingguan juga terus menurun dibandingkan pekan sebelumnya, hingga 35 persen. Begitu juga dengan jumlah kematian baru mingguan dari 27 September hingga 3 Oktober adalah 706, terjadi penurunan sebesar 29 persen dibandingkan pekan sebelumnya.
Meski terus mengalami perbaikan tren kasus Covid-19, WHO meminta untuk cakupan vaksinasi pada lansia terus ditingkatkan. Hal ini dikarenakan data per 3 Oktober menunjukkan hanya DKI Jakarta yang berhasil memvaksinasi 70 persen populasi lansia.
"Cakupan vaksinasi dosis kedua di antara populasi yang lebih tua terus berlanjut rendah di sebagian besar provinsi. Per 3 Oktober, hanya DKI Jakarta yang tercatat di atas cakupan 70 persen di antara kelompok sasaran ini," demikian WHO.
WHO juga menyebut 13 provinsi terus melaporkan cakupan dosis kedua di bawah 10 persen. Sumatera Barat dan Aceh dilaporkan paling rendah, cakupan di antara populasi yang lebih tua dengan 4,3 persen dan 4,7 persen.
BERITA TERKAIT
-
AS Resmi Keluar dari WHO, Presiden Trump: Mereka tidak Adil
-
Gelombang Panas Selimuti Bumi, WHO Ingatkan Risiko Kematian Tinggi
-
Seorang Wanita Brasil Tewas Tertular Flu Babi, WHO Ragu
-
Peringatan WHO: Virus Marburg Bergejala Seperti Covid, tapi Lebih Mematikan
-
Virus Marburg Meluas di Afrika, WHO Khawatir jadi Pandemi Baru