Rabu, 28 Oktober 2020 08:42

Editorial

Liga 1, Corona dan Urusan Perut

Kompetisi yang kembali ditunda membuat banyak pemain memilih ikut liga tarkam.
Kompetisi yang kembali ditunda membuat banyak pemain memilih ikut liga tarkam.

Tapi membekukan liga tanpa batas waktu juga bukan opsi baik. Pemain dan industri sepak bola sudah cukup terpukul setelah lebih dari 7 bulan kompetisi dihentikan.

MAKASSAR, PEDOMANMEDIA - Polri kemungkinan belum memberi izin digulirnya kembali Shopee Liga 1, November 2020. Kompetisi masih akan dibekukan tanpa batas waktu.

Rencana dihelatnya kembali kompetisi sudah dua kali mengalami penundaan. Pertama Oktober lalu. Kompetisi rencananya kick off 1 Oktober. Tapi batal setelah Polri tak menerbitkan izin pertandingan.

Jadwal direskedul lagi 1 November. Tapi lagi-lagi skedul ini berantakan. Pemerintah tak mau ambil risiko melanjutkan kompetisi di tengah penyebaran wabah Corona yang masih tinggi.

Baca Juga

Padahal PSSI sudah bertemu Polri. PSSI mengajukan rekomendasi liga dilanjut dengan syarat tanpa penonton.

Hanya saja Polri belum memberikan jawaban atas permintaan itu. PT Liga Indonesia Baru (LIB) juga sudah melayangkan surat resmi permintaan dihelatnya kembali Liga 1. Polri diharapkan sudah memberi jawaban, paling lambat hari ini atau Kamis besok.

Hanya saja Polri belum memberi respons. Pihaknya tetap menunggu sampai paling tidak hari ini atau besok. Tapi tampaknya Polri tak akan menerbitkan izin pertandingan dengan sisa waktu 3 hari ke depan.

Pemerintah memang dilematis. Antara melanjutkan kompetisi dengan menimbang risiko Corona.

Jika kompetisi dilanjut ada risiko penyebaran yang akan muncul. Sepak bola berpotensi memunculkan klaster baru. Pemerintah tak bisa menjamin protokol Covid diterapkan dengan benar di lapangan hijau.

Tapi membekukan liga tanpa batas waktu juga bukan opsi baik. Pemain dan industri sepak bola sudah cukup terpukul setelah lebih dari 7 bulan kompetisi dihentikan.

Pemain kehilangan pendapatan. Klub klub mengeluh. Banyak klub vakum dalam bursa transfer disebabkan pendapatan yang menurun drastis.

Para pemilik klub menyatakan tak bisa lagi menalangi operasional tim. Karena sponsor juga ikut membekukan sementara kerja sama sampai liga digulir lagi.

Para pemain terpaksa harus nyambi ke liga-liga tarkam demi menyambung masa depan. Banyak juga pemain yang memilih meninggalkan klub dan berwirausaha di tengah pandemi.

Bagi mereka sekarang industri sepak bola tanah air bukan lagi pilihan baik. Lapangan hijau tak lagi bisa menjamin masa depan. Jika dulu pemain dinaungi gemerlap bayaran, kini untuk urusan perut pun sudah susah.

Belum lagi jika pandemi berkepanjangan sampai 2021, tak bisa dibayangkan bagaimana karut marutnya wajah sepak bola tanah air.

Editor : Muh. Syakir
#PSSI #Shofee Liga 1 #Editorial #Corona
Berikan Komentar Anda