MAKASSAR, PEDOMANMEDIA - Pandemi Covid-19 yang belum usai menjadi salah satu faktor yang menambah beban pasien Tuberkulosis (TBC).
Karenanya dalam rangka mengurangi beban itu, Yayasan Masyarakat Peduli Tuberkulosis (Yamali TB) Sulsel melindungi dengan Bakrie Center Foundation mengalirkan paket asupan nutrisi berupa paket sembako kepada 48 pasien TBC yang menjalani pengobatan, di Makassar dan Gowa, selama satu pekan, terhitung sejak tanggal 22 hingga 28 Januari 2022.
Penyaluran paket sembako ini sendiri dilaksanakan melalui Kader TB dan Petugas Puskemas dengan mengunjungi langsung pasien TBC di rumahnya masing-masing.
SR Manager Yamali TB, Wahriyadi, menyatakan bahwa penyampaian paket dengan kunjungan rumah dilakukan selain untuk mendukung asupan nutrisi untuk memberikan edukasi pentingnya menjaga kesehatan, menerapkan pola hidup bersih dan sehat, serta menjaga lingkungan yang sehat sehingga dapat memutus rantai penularan TBC di masyarakat.
“Kegiatan ini sangat penting dilakukan karena bisa membantu mengurangi angka putus berobat sekaligus bisa menemukan kasus-kasus baru yang berada di seputar kontak pasien TB baik kontak serumahnya ataupun kontak eratnya,” tuturnya, Kamis (27/1/2022).
Wahriyadi menambahkan, dari sisi pasien program ini sangat dibutuhkan. “Dengan pembagian beras 5 kilo gram dan 1 rak telur perbulan serta asupan gizi lainnya berupa susu, sari buah dan lainnya, selain membantu proses kesembuhan pasien juga membantu mengurangi beban ekonomi keluarga mereka. Ini termasuk dukungan psikologi yang dapat meringankan beban kejiwaan pasien salama menjalani pengobatan yang relatif cukup lama yakni sekitar 6-9 bulan untuk pasien TB Sensitif Obat dan 9-24 bulan untuk pasien TB Resisten Obat,” jelasnya.
Upaya menanggulangi penyakit TBC ini memang semesetinya dilakukan dengan banyak pandekatan. Selain dengan berobat sesuai prosedur, juga dengan pendampingan dan dukungan kasus TBC yang diharapkan dapat meningkatkan angka harapan hidup pasien, mengurangi angka kematian dan kematian, serta mengurangi bahkan bisa memutus rantai penularan TBC.
“Harapannya dengan kegiatan seperti ini menjadi contoh sehingga menggugah perhatian banyak orang terhadap isu TBC. Dengan sinergitas dengan semua pihak, percepatan eliminasi TBC dapat dicapai bahkan target Indonesia Bebas TBC tahun 2050 bukan hal kemungkinan untuk bisa diraih,” tutup Wahriyadi.