Soal Sulsel Darurat Narkoba, Represif Oke, Pencegahan Gagal
Aparat kepolisian cenderung masih bekerja sendiri. Birokrasi terkesan sangat pasif.
MAKASSAR, PEDOMANMEDIA - Para pagiat antinarkoba menyoroti penanganan kasus narkoba yang masih sangat parsial. Pengungkapan kasus belum menyentuh dari hulu ke hilir.
"Kita lihat pola penanganan selama ini masih sangat parsial. Banyak yang ditangkap tapi tidak menghentikan masifnya peredaran. Karena di hulunya belum tersentuh," ujar Muhlis Suharyadi, peneliti sosial dan pegiat antinarkoba, Kamis (10/2/2022).
Menurut Muhlis, polisi secara parsial sukses dengan pendekatan represif. Tapi gagal dalam pola pencegahan.
Karena apa? Karena sistem yang dianut masih pragmatis. Yang ditangkap itu hanya pengedar, pemakai, kurir dan kelompok-kelompok yang memang menjadi pelaku langsung di lapangan.
"Kita lupa bahwa narkoba ini dikendalikan secara terorganisir. Dan ini yang belum dibongkar. Pengendalinya masih sulit dijerat. Hanya segelintir yang bisa diungkap," jelasnya.
Akhirnya yang terjadi justru peredaran makin subur.
Ada banyak faktor yang membuat narkoba sulit diberangus. Pertama kata Muhlis, aparat kepolisian cenderung masih bekerja sendiri. Birokrasi terkesan sangat pasif.
"Pemerintah tidak punya program pencegahan yang lebih komprehensif dan berkelanjutan. Benar benar hanya mengandalkan upaya represif dari kepolisian," jelasnya.
Faktor kedua, jaringan narkoba ini sudah masuk sangat dalam ke lini terkecil di masyarakat. Juga sudah merambah ke birokrasi.
Semakin banyak oknum oknum aparat yang terlibat. Mereka masuk dalam sistem pranata sosial. Dan kata Muhlis, efeknya begitu luar biasa.
"Semua faktor faktor ini memudahkam kerja kerja organisasi pengedar. Maka jangan heran kalau narkoba bisa lolos di bandara. Lolos di pelabuhan. Ya karena itu tadi. Mereka sudah merambah sangat dalam," papar Muhlis.
Sebelumnya Kepala Kepolisian Daerah (Kapolda) Sulawesi Selatan Irjen Pol Nana Sudjana menyebut Provinsi Sulawesi Selatan darurat Narkoba. Sulsel menjadi pasar gemuk jaringan internasional.
"Jadi setiap tahunnya itu kasus narkoba di Sulsel selalu meningkat. Terbuktii dengan jumlah kasus pada tahun 2021 sebanyak 1.939 kasus dan jumlah tersangka 2.500 orang. Kasus terbaru itu yakni terungkapnya 21 kilogram sabu yang kita gagalkan. Sabu ini dipasok via laut," terang Nana kepada PEDOMANMEDIA seusai memberi keterangan pers terkait pengungkapan 21 kg sabu.
Mantan Kapolda Metropolitan Jaya ini mengungkapkan, di Indonesia timur, Sulsel menjadi wilayah pusat peredaran. Ada beberapa daerah yang menjadi titik peredaran.
"Di antaranya Makassar. Karena Makassar menjadi pusat perekonomian di KTI. Di sini juga ada pelabuhan dan bandara internasional," terang Nana
Karena itu Makassar menjadi pasar paling potensial bagi pengedar. Kata Nana, polisi harus mengambil tindakan lebih masif agar bisa menutup celah masuknya barang haram itu.
"Kita akan menutup seluruh akses masuk narkoba di Sulsel. Baik itu jalur darat udara maupun laut," jelasnya.
Nana berjanji akan memberi perhatian ekstra terhadap penanganan narkoba di Sulsel.
"Tentunya ini akan menjadi tugas kami dan komitmen kami untuk membasmi narkoba di Sulsel sampai ke akar-akarnya. Bahkan kami akan berusaha melakukan pengembangan kasus yang sudah terungkap dan segera menutup seluruh akses masuknya di Sulsel," jelas Jenderal bintang dua ini.
