Rabu, 30 September 2020 09:41

Editorial

Maju Mundur Sama Saja, Tetap Miskin

(Ilustrasi)
(Ilustrasi)

Menkeu sudah memberi lampu merah bahwa resesi sudah terjadi. PHK besar besaran akan terjadi. Kita pun akan dihadapkan statistik kemiskinan yang makin tinggi.

MAKASSAR, PEDOMANMEDIA - Indonesia sudah di jurang resesi. Situasi ini akan memicu gelombang PHK pada 2021 dan naiknya populasi orang miskin.

Dengan fakta ekonomi minus 5,32%, kita tidak mungkin selamat dari itu (resesi). Sangat kecil kemungkinannya untuk mendongkrak pertumbuhan ekonomi di kuartal ketiga dan keempat menjadi minus 1% atau 0,1. Sulit dengan realitas yang kita hadapi sekarang.

Menkeu sudah memberi lampu merah bahwa resesi sudah terjadi. PHK besar besaran akan terjadi. Kita pun akan dihadapkan statistik kemiskinan yang makin tinggi.

Baca Juga

Relaksasi di sektor-sektor vital tidak akan berpengaruh besar dalam rentang 4 bulan ke depan. Dalam kurun waktu itu pertumbuhan ekonomi hanya bisa naik satu atau dua strip ke minus 4 atau 3.

Itu kalau relaksasi efektif. Kalau tidak, justru akan mendorong naik di atas minus 5.

Pemerintah sudah tepat mendorong konsumsi masyarakat. Sedikitnya itu bisa memulihkan daya beli yang jatuh sejak pandemi.

Tetapi tidak bisa dipulihkan dalam waktu singkat. Karena faktornya lebih pada ekses eksternal. Sebab ekonomi dunia sedang terpukul. Semua negara maju sekarang dalam ancaman resesi. Efek ini yang sulit kita hadapi.9

Jerman sudah resesi. Sebelumnya Korsel juga sudah mengumumkan situasi yang sama. Terakhir AS juga jatuh dalam resesi setelah ekonomi mereka terjun bebas ke minus 32%. Beberapa negara Asia juga di ambang kejatuhan.

Saat ini Indonesia benar-benar jatuh pada resesi maka beberapa kemungkinan bisa terjadi. Selain dampak ekonomi, kondisi sosial juga akan mengalami resistensi.

PHK tak bisa kita hindari. Akan ada gelombang PHK besar-besaran. Karena kinerja industri menurun. Ekspor juga akan mengalami kelesuan.

Daya serap sektor riil kian kecil. Di masyarakat, daya beli juga semakin turun. Situasi ini akan berdampak pada kondisi sosial masyarakat. Di mana masyarakat tidak lagi memiliki banyak pilihan.

Kita tak mungkin lari dari realitas ini. Kita sudah jatuh. Bayanngkan saat ini kemiskinan akan naik sekitar 3,02 juta hingga 5,71 juta orang. Dan pengangguran meningkat kurang lebih 4 juta-5,23 juta orang.

Kementerian Tenaga Kerja juga sudah nenyebut angka pengangguran, sempat turun dari 7.050.000 orang menjadi 6.800.000. Namun, adanya COVID-19 membuat datanya kembali naik.

Berdasarkan data total pekerja kena PHK maupun dirumahkan melonjak sebanyak 3,5 juta orang. Totalnya mencapai 10 juta orang dalam tingkat pengangguran terbuka. Semua ini akan menambah populasi warga miskin. Di mana sebagian besar dari jumlah itu adalah warga kota.

Padahal sebelumnya hanya 6 juta orang lebih. Artinya dalam 6 bulan grafik penganggur naik hampir 4 juta orang.

Badan Pusat Statistik pun mencatat jumlah penduduk miskin Indonesia hingga Maret 2020 lalu sudah mencapai 26,42 juta orang. Kemiskinan di daerah perkotaan sebesar 11,16 juta orang atau 7,38% dan di daerah perdesaan sebesar 15,26 juta orang atau 12,82%.

Artinya, angka kemiskinan perkotaan naik 1,3 juta orang dari 9,86 juta orang pada September 2019 menjadi 11,16 juta orang pada Maret 2020. Sedangkan, angka kemiskinan di perdesaan mengalami kenaikan 333,9 ribu orang dari 14,93 juta orang pada September 2019 menjadi 15,26 juta orang pada Maret 2020

Nah masihkah kita bisa lari dari kemiskinan. Sepertinya tidak. Kita harus menghadapinya. Tapi masih ada harapan. Kita tunggu terobosan ekonomi pemerintah.

Editor : Muh. Syakir
#Kemiskinan #Pengangguran #PHK Besar-besaran #Editorial
Berikan Komentar Anda
Epaper
Cover Epaper
Populer