Sabtu, 14 November 2020 15:07

Penganggur Tembus 13 Juta, Menko PMK: Parah, Banyak Cuma Tamat SMP

Muhadjir Effendy
Muhadjir Effendy

Perusahaan mulai sangat selektif. Mereka menerapkan standar tinggi dalam perekrutan calon pekerja. Bukan saja skill, tapi pekerja harus ditopang oleh syarat administratif untuk bisa menembus dunia kerja.

JATIM, PEDOMANMEDIA - Menteri Koordinator Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Menko PMK) Muhadjir Effendy, mengakui sulitnya daya serap lapangan kerja karena kualitas SDM yang rendah. Dari 13 juta penganggur saat ini, ada sekitar 3 juta orang yang hanya lulusan SMP.

"SDM kita parah. Bayangkan 13 juta orang penganggur ada 3 juta yang sulit terserap karena hanya lulusan SMP," jelas Muhadjir

dalam kunjungan ke Gresik, Jawa Timur, kemarin.

Baca Juga

Sementara perusahaan mulai sangat selektif. Mereka menerapkan standar tinggi dalam perekrutan calon pekerja. Bukan saja skill, tapi pekerja harus ditopang oleh syarat administratif untuk bisa menembus dunia kerja.

Berdasarkan data 54 persen angkatan kerja adalah tamatan SMP ke bawah. Lulusan SMA/SMK 30 persen dan selebihnya 16% sarjana.

Karena itu ke depan harus ada solusi. Salah satunya fasilitas Kartu Indonesia Pintar (KIP). Melalui KIP, diharapkan tidak ada lagi anak putus sekolah. Sehingga pada 2025, 70 persen angkatan lulusan SMA/SMK.

Pengangguran di Indonesia sudah menyentuh level mengkhawatirkan. Nyaris 15 juta orang. Ironisnya, angka itu tumbuh lebih dari 2 persen hanya dalam kurun waktu 6 bulan.

Pandemi yang memukul ekonomi nasional menjadi faktor paling dominan. Pandemi membuat semua mengalami kejatuhan simultan. Daya serap lapangan kerja menurun. Kinerja industri juga terpuruk.

Tak banyak yang bisa dilakukan kecuali PHK. PHK akhirnya berimbas pada pertumbuhan angka pengangguran yang tinggi.

Indonesia mencatat pertumbuhan angka pengangguran terbuka yang cukup signifikan. Dalam enam bulan jumlah pengangguran bertambah 2,6 juta orang, hingga nyaris menembus angka 10 juta per Agustus 2020.

Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat jumlah pengangguran terbuka di RI mencapai 9,7 juta orang. Atau naik hampir dua persen hanya dalam kurun waktu 6 bulan.

Diakui BPS, naiknya angka pengangguran di 2020 dipicu oleh dampak pandemi Corona yang melanda sejak Februari lalu.

Pengangguran tumbuh karena beberapa faktor. Di antaranya PHK bergelombang sejak Maret serta menurunnya daya serap lapangan kerja.

Dalam analisisnya, Ekonom Sjamsul Ridjal sudah memprediksi akan adanya kontraksi lebih kuat di akhir tahun akibat resesi. Jika tak ada upaya pemulihan yang lebih cepat maka daya beli akan menurun sangat tajam.

Sjamsul menjelaskan, stimulus yang digulirkan pemerintah hanya sedikit menolong menaikkan konsumsi. Tak bisa secara komprehensif. Karena kata dia, terjadi kekhawatiran akan memburuknya situasi jika pandemi tak juga berakhir di 2021.

"Isu pandemi ini paling merusak konstruksi ekonomi kita. Kalau isu itu terus pasti akan lebih buruk. Apalagi di Eropa pandemi digambarkan begitu mengerikan," katanya.

Sjamsul memperkirakan, 2021 akan terjadi gejolak ketenagakerjaan karena perusahaan gagal kinerja. Dampak terburuknya adalah PHK massal. Ini akan kian buruk jika Indonesia belum bisa keluar dari resesi. Nah sudah siapakah kita dengan situasi itu?

Editor : Muh. Syakir
#Menko Muhadjir Effendy #Pengangguran
Berikan Komentar Anda